Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Rahasia Pernikahan Langgeng Era Boomer: 3 Kunci Utama yang Sering Diabaikan Pasangan Muda Modern

Rafael B. Junior • Kamis, 2 Juli 2026 | 18:02 WIB
Ilustrasi hubungan akrab antara kakek-nenek, orang tua, dan cucu sebagai gambaran keharmonisan dalam perbedaan gaya asuh.
Ilustrasi hubungan akrab antara kakek-nenek, orang tua, dan cucu sebagai gambaran keharmonisan dalam perbedaan gaya asuh.

PONTIANAK POST — Membangun mahligai rumah tangga yang langgeng dan bahagia di era modern kini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks. Gelombang perceraian dan rapuhnya komitmen pada pasangan muda sering kali dipicu oleh pergeseran nilai-nilai sosial. Dalam hal ini, generasi muda dinilai perlu menengok kembali pola pikir lama yang diterapkan oleh generasi Baby Boomer dalam mempertahankan pernikahan mereka.

Melansir ulasan YourTango dari konselor profesional berlisensi sekaligus penulis buku panduan pernikahan Michelle E Vasquez, mengakui kelebihan pola pikir generasi Boomer bukan berarti menganggap pernikahan mereka sempurna tanpa celah. Namun, dalam hal merawat ikatan suci agar bertahan seumur hidup, pasangan senior ini jauh lebih memahami tiga pilar krusial: pentingnya kedewasaan emosional, bahaya sifat egois, serta dampak buruk dari mentalitas instan yang kerap menganggap kerikil rumah tangga sebagai akhir dari segalanya. Pernikahan yang bahagia tidak dibangun dari ketiadaan masalah, melainkan dari komitmen dua orang dewasa yang mau terus berjuang bersama.

Berikut adalah tiga hal mendasar tentang pernikahan yang berhasil diterapkan oleh generasi Boomer namun kerap disalahpahami oleh generasi muda:

1. Memahami Bahwa Pernikahan Menuntut Kedewasaan Emosional

Kedewasaan emosional tidak datang secara otomatis seiring bertambahnya angka usia seseorang. Namun, sebuah riset ilmiah pada tahun 2012 menegaskan bahwa manusia umumnya akan bertumbuh menjadi lebih matang secara emosional seiring bertambahnya usia mereka.

Baca Juga: Berapa Usia Matang untuk Menikah? Intip Batasan Umur Terbaik Bagi Pria dan Wanita Menurut Ahli

Menerapkan prinsip jenaka seperti "menolak dewasa" mungkin terdengar lucu jika hanya dicetak di atas kaos, tetapi akan menjadi bumerang yang menyengsara jika dibawa ke dalam hubungan suami istri. Kedewasaan emosional adalah instrumen yang membantu seseorang untuk menahan diri sebelum membentak, berani mengakui kesalahan, meminta maaf tanpa membuat pembelaan atau alasan, serta tetap bertahan dalam obrolan yang berat alih-alih pergi meninggalkan pasangan. Generasi Boomer memahami bahwa cinta saja tidak akan pernah cukup; pernikahan membutuhkan dua orang dewasa yang mampu meregulasi emosi diri sendiri, bukan yang menuntut pasangan untuk menampung setiap suasana hati (bad mood) mereka.

2. Sadar Bahwa Hubungan Tidak Akan Selamat dari Sikap "Egois"

Perlu digarisbawahi bahwa menjaga kesehatan mental diri sendiri (self-care) sangat berbeda dengan perilaku egois. Anda wajib merawat diri agar bisa hadir sepenuhnya bagi orang-orang tercinta, sedangkan sifat egois selalu mengutamakan prinsip "akulah yang utama". Seseorang yang egois akan selalu merasa kebutuhannya jauh lebih penting dari kebutuhan pasangannya, gemar mengkritik, serta menyalahkan orang lain tanpa mau berkaca pada perilakunya sendiri.

Karakter egois ini sangat merusak karena di dalam pernikahan, setiap individu membutuhkan validasi bahwa mereka dihargai dan dipahami. Berbagai studi empiris menemukan bahwa tingkat kepuasan hubungan akan melonjak tajam saat kedua belah pihak merasa dimengerti, dipedulikan, dan diapresiasi secara adil. Kaum Boomer mungkin tidak memiliki istilah psikologis yang rumit untuk menjelaskan hal ini, namun mereka sangat mengerti bahwa pernikahan tidak akan bertahan jika salah satu pihak selalu bertingkah seperti tokoh utama dan memperlakukan pasangannya hanya sebagai aksesori pelengkap.

Baca Juga: Belum Menikah di Usia Matang? Simak Rahasia Astrologi Tionghoa untuk Memancing Jodoh Terbaik Datang

3. Memiliki Daya Juang dan Kesabaran untuk Menikmati Proses

"Saya ingin dalam 30 detik, dan saya ingin itu panas, lezat, serta murah." Budaya gratifikasi instan (instant gratification) semacam ini telah menjangkiti masyarakat modern sejak menjamurnya industri makanan cepat saji. Sebuah studi tahun 2015 mengindikasikan bahwa budaya instan ini telah membentuk manusia menjadi pribadi yang jauh lebih impulsif dalam mengambil setiap keputusan penting dalam hidup.

Banyak pasangan muda langsung mengeluh dan menganggap pernikahan mereka gagal jika segalanya tidak berjalan mulus sesuai ekspektasi. Mereka memperlakukan ikatan suci layaknya makanan cepat saji yang bisa dibuang kapan saja, bukan seperti hidangan mewah (fine dining) yang membutuhkan proses memasak yang lama dan layak dihargai tinggi. Pernikahan membutuhkan perawatan dan energi yang besar untuk bisa berhasil. Kabar baiknya, kebahagiaan tersebut sangat bisa diwujudkan jika Anda mau memulainya dari perbaikan diri sendiri terlebih dahulu, atau memanfaatkan layanan konseling pernikahan jika membutuhkan mediator profesional. (*)

Editor : Rafael B. Junior
#pasangan muda #psikologis #langgeng #boomer #pernikahan