PONTIANAK POST — Menghabiskan akhir pekan dengan tidur seharian, bersantai di kasur, serta menyantap makanan favorit tanpa terbebani tugas rumah tangga sering kali mendatangkan rasa bersalah. Namun, studi psikologi terbaru justru mengungkapkan bahwa kebiasaan bermalas-malasan di hari libur merupakan salah satu kunci utama meraih kebahagiaan sejati.
Melansir temuan pakar kebahagiaan dan peneliti dari Harvard Business Review, Cassie Holmes, individu yang menolak menghabiskan akhir pekan untuk urusan yang melelahkan seperti membersihkan rumah atau berbelanja kebutuhan pokok memiliki tingkat kepuasan hidup yang jauh lebih tinggi.
Pola pikir ini dinilai menjadi penawar ampuh untuk mengatasi kecemasan menghadapi hari Senin atau yang populer dikenal dengan istilah Sunday Scaries.
Baca Juga: Lima Kebiasaan Sederhana yang Menunjukkan Kepekaan Sosial di Tempat Umum
Penelitian Harvard: Efek Mindset Liburan di Akhir Pekan
Dalam riset yang melibatkan lebih dari 400 pekerja profesional, Holmes membagi peserta menjadi dua kelompok pada hari Jumat. Kelompok pertama diminta untuk menikmati akhir pekan dengan mindset sedang berlibur (vacation mindset), sementara kelompok kedua diminta menjalani akhir pekan seperti biasa.
Hasil pengukuran tingkat kebahagiaan menunjukkan bahwa kelompok yang menganggap akhir pekan sebagai waktu liburan melaporkan tingkat kepuasan dan emosi positif yang jauh lebih tinggi saat kembali bekerja pada hari Senin.
"Mereka yang memperlakukan akhir pekan seperti liburan merasa jauh lebih tidak stres saat harus kembali bekerja pada hari Senin, tanpa perlu mengambil jatah cuti tambahan atau mengeluarkan uang lebih," ungkap Cassie Holmes.
Baca Juga: Dunia Kerja dan Pertemanan Punya Etika Berbeda Saat Lupa Nama Seseorang
Menikmati Momen Tanpa Rasa Bersalah
Penelitian tersebut mencatat bahwa kelompok yang menerapkan mindset liburan cenderung lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur, berkumpul bersama pasangan, dan menikmati makanan kegemaran mereka.
Kendati demikian, Holmes menegaskan bahwa pendorong utama kebahagiaan bukanlah jenis aktivitasnya, melainkan perubahan pola pikir (shift in mindset). Ketika seseorang menganggap akhir pekan sebagai waktu berlibur, mereka menjadi lebih hadir secara utuh (mindful) dan menikmati setiap momen kecil tanpa terdistraksi oleh tuntutan produktivitas.
Banyak orang merasa bersalah ketika tidak melakukan hal produktif di hari libur. Padahal, terus-menerus memaksakan diri bekerja justru memicu kejenuhan mental (burnout).
Baca Juga: Sisi Positif Kebohongan Anak Usia Dini: Menguak Rahasia Kecerdasan Kognitif dan Kontrol Diri Balita
Solusi untuk Tingkat Kepuasan Hidup yang Menurun
Pentingnya istirahat berkualitas ini semakin relevan mengingat survei lembaga riset Gallup mencatat bahwa tingkat kepuasan hidup masyarakat pekerja terus mengalami penurunan. Banyak pekerja yang terjebak dalam rutinitas kerja tanpa sempat memulihkan energi emosional mereka.
Memberikan izin kepada diri sendiri untuk menikmati hal-hal kecil—seperti bersantai di sofa, mengabaikan tumpukan cucian sejenak, dan tidak memikirkan pekerjaan—terbukti ampuh menjaga kesehatan mental. Dengan mengondisikan akhir pekan sebagai ajang penyegaran pikiran, seseorang dapat menyambut pekan baru dengan kondisi fisik dan mental yang jauh lebih siap. (*)
Editor : Rafael B. Junior