Etika Komentar di Media Sosial, Mengapa Empati Perlu Didahulukan Sebelum Mengetik

Chairunnisya • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 09:18 WIB
Aplikasi media sosial Facebook dan Instagram. [Foto : X/@MarioNawfal]
Aplikasi media sosial Facebook dan Instagram. [Foto : X/@MarioNawfal]

PONTIANAK POST - Tidak semua hal yang muncul di media sosial perlu langsung ditanggapi.

Di tengah arus informasi yang bergerak cepat, pengguna perlu memberi jeda sebelum menulis komentar agar respons yang diberikan tidak justru memperburuk keadaan orang lain.

Hal tersebut kembali menjadi sorotan setelah kasus Yurizal, pasien BPJS yang meninggal dunia pada 31 Juli 2026.

Baca Juga: Jangan Sok Mengatur, Ini Etika Pasangan Baru Saat Berhadapan dengan Anak

Sebelumnya, Yurizal sempat mengeluhkan melalui Threads bahwa dirinya telah delapan jam berada di IGD dan belum mendapat ruang rawat inap.

Nama rumah sakit tidak disebut dalam unggahan tersebut. Namun, sejumlah komentar pedas justru bermunculan.

Certified Etiquette Trainer Eda Clarissa mengatakan, pengguna media sosial perlu memiliki kesadaran dan empati sebelum menulis komentar.

Baca Juga: Meta Hadapi Sidang Bersejarah soal Tuduhan Membuat Anak Kecanduan Media Sosial

Sebab, kondisi seseorang yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan keadaan sebenarnya.

’’Di media sosial, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dialami seseorang ketika membaca komentar kita. Mungkin ia sedang lelah, berduka, menghadapi masalah pribadi, atau berada dalam kondisi yang tidak kita ketahui,’’ ujarnya, dikutip dari Jawapos.

Empati Sebelum Menulis Komentar

Menurut Clarissa, etika komunikasi digital tetap membutuhkan empati meski pengguna tidak berhadapan secara langsung.

Baca Juga: Etika Dokter dan Tenaga Kesehatan Di Media Sosial

’’Etiket digital seharusnya lebih mengedepankan awareness dan empati. Ingatlah jempol kita memang kecil, tetapi tanpa disadari, satu komentar saja bisa memperburuk keadaan seseorang,’’ katanya.

Karena itu, komentar tidak seharusnya hanya didasarkan pada apa yang terlihat dalam sebuah unggahan.

Pengguna perlu memahami bahwa informasi yang muncul di layar bisa saja tidak menggambarkan keseluruhan situasi seseorang.

Baca Juga: Ustaz Khalid Basalamah Ingatkan Foto Profil Media Sosial Bisa Menjadi Media Sihir, Ini Penjelasannya

Jangan Terburu-buru Menilai

Persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah informasi yang menjadi dasar seseorang berkomentar. 

Ketika sebuah unggahan sedang ramai, pengguna media sosial kerap ikut memberikan penilaian hanya berdasarkan potongan informasi yang diterima.

’’Sebelum memberikan komentar atau menekan tombol share, sebaiknya kita berhenti dulu dan memeriksa kebenaran sumber informasinya. Tidak semua yang bisa diketik harus dipublikasikan,’’ tuturnya. (*) 

Editor : Chairunnisya
komentar media sosial empati digital etiket digital Bijak Bermedia Sosial etika media sosial