Punya Ratusan Screenshot di Ponsel? Penelitian Ini Ungkap Kaitannya dengan Ingatan

Khoiril Arif Ya'qob • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:28 WIB
Ilustrasi ketika mengambil screenshot. (TECHSMITH)
Ilustrasi ketika mengambil screenshot. (TECHSMITH)

PONTIANAK POST - Banyak orang mengambil screenshot ketika menemukan informasi, foto, atau hal menarik di ponsel agar bisa melihatnya kembali nanti.

Namun, kebiasaan menyimpan tangkapan layar ternyata berkaitan dengan cara seseorang mengingat informasi.

Dinukil dari Antara, penelitian Binghamton University, New York, Amerika Serikat, menemukan bahwa orang yang mengambil screenshot justru dapat mengingat lebih sedikit dibandingkan mereka yang hanya melihat gambar.

Baca Juga: Kopi Pagi Bisa Bantu Fungsi Otak, Ini Batas Aman Konsumsi Kafein yang Disarankan

Temuan itu dibahas dalam penelitian berjudul “Digital Amnesia: The Aftermath of a Screenshot”.

Screenshot Tidak Selalu Membantu Mengingat

Para peneliti menyebut fenomena tersebut sebagai photo-taking impairment effect, yakni kondisi ketika seseorang yang mengambil gambar justru mengingat lebih sedikit dibandingkan orang yang hanya melihat gambar lalu melanjutkan aktivitasnya.

Dalam penelitian, mahasiswa diperlihatkan berbagai karya seni berupa foto, lukisan, hingga sketsa. Sebagian gambar diminta untuk di-screenshot.

Setelah itu, peserta diminta memilih karya seni yang sebelumnya mereka lihat dari tiga pilihan yang memiliki kemiripan sangat dekat.

Baca Juga: Usia Bukan Penghalang, Studi Temukan Cara Sederhana Menjaga dan Meningkatkan Kesehatan Otak

Hasilnya, peserta lebih sulit mengingat gambar yang mereka screenshot dibandingkan gambar yang hanya mereka lihat.

Masalahnya Bisa Terjadi Saat Screenshot Tak Pernah Dibuka

Screenshot sebenarnya tetap dapat bermanfaat untuk membantu ingatan. Namun, manfaatnya bisa muncul jika gambar yang disimpan kemudian dilihat kembali sebagai petunjuk.

Sophia Fabrizio, salah satu penulis penelitian, mengatakan bahwa tanpa meninjau kembali gambar sebagai petunjuk, screenshot kemungkinan tidak memberikan manfaat bagi ingatan.

Bahkan, peserta penelitian juga lebih kecil kemungkinannya mengingat bahwa mereka pernah mengambil screenshot terhadap sebuah gambar.

Baca Juga: Bukan Sekadar Makan Sayuran, Ini Jenis Diet Vegetarian dan Manfaatnya Bagi Kesehatan Tubuh

Mengapa Otak Bisa Lebih Mudah Lupa?

Para peneliti mengemukakan beberapa teori yang dapat saling berkontribusi. Salah satunya divided attention, ketika perhatian terbagi karena tindakan mengambil gambar.

Ada pula cognitive offloading, yaitu kecenderungan seseorang tidak berusaha sekeras mungkin mengingat informasi karena mengetahui informasi tersebut sudah tersimpan di tempat lain.

Teori lainnya adalah attentional disengagement, ketika tindakan mengambil gambar membuat seseorang keluar dari momen yang sedang dialami.

Menulis Bisa Menjadi Pilihan Lain

Para peneliti menyarankan menuliskan informasi yang ingin diingat. Meski tidak sepenuhnya terbebas dari cognitive offloading, menulis membuat otak memproses informasi tersebut.

Baca Juga: Laboratorium P.IIS FKIP Untan Bekali Siswa Keterampilan Menulis KTI Berbantuan AI

Berbeda dengan screenshot yang kemudian tidak pernah dilihat kembali, proses menulis memaksa seseorang memberi perhatian lebih pada informasi yang ingin disimpan dalam ingatan.

Editor : Khoiril Arif Ya'qob
screenshot penelitian ingatan