Kerja 8 Jam di Depan Komputer? Jangan Duduk Terus, Ini Alasan Perlu Sering Ganti Posisi

Rafael B. Junior • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 15:39 WIB
Ilustrasi kerja lembur.
Ilustrasi kerja lembur.

PONTIANAK POST - Bekerja berjam-jam di depan laptop atau komputer sudah menjadi rutinitas bagi banyak orang. Baik bekerja dari kantor maupun dari rumah, sebagian besar waktu kerja sering dihabiskan dalam posisi duduk.

Kondisi tersebut membuat kebiasaan berganti posisi menjadi semakin penting. Bukan berarti harus berdiri sepanjang hari, tetapi tubuh sebaiknya tidak terus-menerus berada dalam posisi yang sama.

Artikel terbaru The Independent menyoroti penggunaan meja kerja yang dapat diatur ketinggiannya atau standing desk sebagai salah satu cara untuk memudahkan pekerja bergantian antara duduk dan berdiri.

Baca Juga: Merasa Lelah di Tempat Kerja? Kebiasaan Sarapan Ini Patut Diperhatikan

Banyak Pekerja Menghabiskan Sebagian Besar Waktu dengan Duduk

Kebiasaan duduk lama bukan hanya terjadi di ruang kantor. Di Indonesia, pola kerja hybrid dan work from home membuat meja makan, kamar tidur, hingga sudut ruang keluarga sering berubah menjadi tempat bekerja.

The Independent mengutip penelitian terhadap pekerja kantoran di Inggris yang menemukan mereka menghabiskan sekitar 70-85 persen waktu kerja dalam posisi duduk. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan munculnya kebutuhan untuk lebih sering mengubah posisi tubuh selama bekerja.

Bagi pekerja di Indonesia, situasinya bisa terasa familiar. Duduk di depan laptop sejak pagi, hanya berdiri saat mengambil minum atau pergi ke toilet, kemudian kembali duduk hingga jam kerja selesai merupakan rutinitas yang cukup umum.

Standing Desk Bukan Berarti Harus Berdiri Terus

Salah satu kesalahpahaman mengenai standing desk adalah anggapan bahwa meja tersebut digunakan agar seseorang bisa bekerja sambil berdiri sepanjang hari.

Padahal, prinsip yang lebih penting adalah menghindari berada dalam satu posisi terlalu lama.

Baca Juga: Jangan Langsung Duduk Setelah Makan, Jalan Kaki 15 Menit Bisa Bantu Jaga Gula Darah

Meja dengan ketinggian yang dapat diatur memungkinkan pengguna berpindah dari posisi duduk ke berdiri dengan lebih mudah. Produk yang dibahas The Independent, misalnya, memiliki pengaturan ketinggian yang dapat disimpan serta pengingat untuk membantu pengguna mengubah posisi.

Namun, meja tersebut tetap bukan pengganti aktivitas fisik atau waktu istirahat.

Berdiri Saja Tidak Cukup

Hal yang perlu diperhatikan adalah berdiri tidak otomatis membuat seseorang menjadi aktif.

Penelitian yang dikutip The Independent melibatkan 756 pekerja kantoran dalam sebuah uji terkontrol secara acak. Program yang menggunakan meja dengan ketinggian yang dapat diatur berhasil mengurangi waktu duduk harian sekitar 64 menit setelah 12 bulan dibandingkan kelompok yang tetap menggunakan meja biasa.

Baca Juga: Sering Duduk Berjam-jam? Pakar Untan Ungkap Cara Melawannya Cukup dengan 20 Menit Aktivitas Fisik

Namun, penelitian tersebut merupakan program perubahan perilaku yang lebih luas, bukan penelitian terhadap satu merek atau model meja tertentu.

Temuan yang lebih baru juga mengingatkan bahwa berdiri terlalu lama bukan solusi untuk menggantikan aktivitas fisik. Penelitian terhadap lebih dari 80.000 orang dewasa di Inggris menemukan berdiri dalam waktu lama tidak menurunkan risiko penyakit jantung dan bahkan dikaitkan dengan peningkatan risiko masalah sirkulasi tertentu. Karena itu, para peneliti menyarankan agar duduk maupun berdiri dalam waktu lama diselingi gerakan.

Tidak Punya Standing Desk? Tak Masalah

Kabar baiknya, mengurangi waktu duduk tidak harus dilakukan dengan membeli meja khusus.

Pekerja kantoran bisa memulainya dengan kebiasaan sederhana. Misalnya, berdiri saat menerima telepon, berjalan sebentar ketika pekerjaan memungkinkan, mengambil air minum secara langsung, menggunakan tangga jika memungkinkan, atau melakukan peregangan ringan setelah duduk cukup lama.

Saat bekerja dari rumah, seseorang juga bisa menyelingi pekerjaan dengan aktivitas rumah tangga ringan. Misalnya, berdiri untuk mengambil minum, merapikan meja, atau berjalan sebentar sebelum kembali bekerja.

Yang terpenting adalah menghindari duduk tanpa jeda selama berjam-jam.

Atur Posisi Kerja agar Lebih Nyaman

Jika menggunakan meja yang dapat diatur ketinggiannya, posisi layar dan perangkat kerja tetap perlu diperhatikan.

Laptop atau monitor sebaiknya ditempatkan pada ketinggian yang membuat leher tidak terus-menerus menunduk. Keyboard dan mouse juga perlu berada dalam posisi yang nyaman agar bahu dan pergelangan tangan tidak terlalu terbebani.

Pergantian posisi pun sebaiknya dilakukan secara berkala, bukan menunggu tubuh terasa sangat pegal.

Sejumlah panduan penggunaan standing desk juga menekankan pentingnya bergantian antara duduk dan berdiri secara teratur. Salah satu panduan The Independent pada 2026 menyebut perubahan posisi setiap 30-60 menit dapat membantu memecah periode panjang di meja kerja.

Intinya Bukan Berdiri, tetapi Lebih Banyak Bergerak

Bagi pekerja Indonesia yang menghabiskan sebagian besar hari di depan komputer, solusi paling realistis bukan memaksa diri bekerja sambil berdiri sepanjang hari.

Mulailah dengan mengurangi waktu duduk tanpa jeda.

Berdiri sesekali, berjalan mengambil minum, melakukan peregangan, atau meninggalkan meja selama beberapa menit bisa menjadi langkah sederhana. Jika memiliki anggaran dan ruang yang cukup, standing desk dapat membantu membuat pergantian posisi lebih praktis.

Pada akhirnya, meja kerja yang paling sehat bukan yang membuat seseorang terus duduk atau terus berdiri, tetapi yang memungkinkan tubuh lebih sering berganti posisi dan bergerak sepanjang hari. (rbj)

Editor : Hanif
standing desk duduk lama kesehatan pekerja kerja di depan laptop gaya hidup sehat