8 Alasan Orang Sering Tidur Terlalu Lama, dari Stres hingga Rasa Kecewa

Rafael B. Junior • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 16:07 WIB
Ilustrasi tidur. (FREEPIK)
Ilustrasi tidur. (FREEPIK)

PONTIANAK POST - Tidur merupakan kebutuhan penting bagi tubuh. Setelah menjalani aktivitas yang melelahkan, tidur dapat membantu memulihkan energi dan membuat tubuh kembali bugar.

Namun, kebiasaan tidur terlalu lama atau terus-menerus ingin berada di tempat tidur terkadang tidak hanya berkaitan dengan rasa lelah. Dalam kondisi tertentu, seseorang bisa menggunakan tidur sebagai cara untuk menghindari tekanan, emosi, atau persoalan yang sedang dihadapi.

Dikutip dari YourTango, kebiasaan tidur berlebihan dapat muncul bersamaan dengan sejumlah persoalan emosional dan kondisi fisik. Artikel tersebut menyoroti delapan realitas tidak nyaman yang mungkin coba dihindari seseorang melalui tidur.

Baca Juga: 12 Kebiasaan Sederhana untuk Menjaga Gaya Hidup Sehat, Mulai dari Minum Air hingga Tidur

Meski demikian, tidur lebih lama tidak otomatis berarti seseorang sedang mengalami masalah psikologis. Kebutuhan tidur setiap orang berbeda dan rasa kantuk berlebihan juga dapat memiliki penyebab medis.

1. Pengalaman yang Menyakitkan Secara Emosional

Putus hubungan, kehilangan pekerjaan atau pengalaman hidup yang berat dapat membuat seseorang merasa ingin menarik diri dari lingkungan.

Dalam artikel YourTango, tidur disebut dapat menjadi bentuk pelarian ketika seseorang belum mampu menghadapi rasa sakit emosional tersebut. Kondisi seperti depresi juga dapat berkaitan dengan perubahan pola tidur, termasuk tidur lebih lama.

Ketika seseorang tidak memiliki banyak hal yang dinantikan setelah mengalami kejadian menyakitkan, tempat tidur bisa terasa sebagai ruang yang paling aman untuk sementara.

Baca Juga: Sering Lelah Meski Cukup Tidur? Ini 7 Tanda Tubuh Kurang Sinar Matahari

2. Stres dan Kelelahan

Tekanan yang berlangsung terus-menerus dapat membuat tubuh dan pikiran terasa terkuras.

YourTango menjelaskan bahwa stres dan burnout dapat berkaitan dengan kelelahan berkepanjangan. Gangguan tidur akibat stres juga dapat membuat seseorang merasa belum cukup beristirahat sehingga memilih menghabiskan lebih banyak waktu di tempat tidur.

Dalam situasi seperti ini, tidur lebih lama belum tentu menyelesaikan sumber masalah. Tekanan yang menyebabkan kelelahan tetap perlu dikenali dan ditangani.

Baca Juga: Ingin Bangun Lebih Segar? Coba 13 Kebiasaan Sederhana Sebelum dan Saat Tidur

3. Merasa Tidak Percaya Diri

Rasa tidak percaya diri juga dapat memengaruhi kebiasaan seseorang.

Orang yang merasa dirinya tidak cukup baik mungkin enggan bertemu orang lain atau menghadapi situasi sosial. Tempat tidur kemudian menjadi ruang untuk menghindari lingkungan yang membuat mereka merasa tidak nyaman.

Menurut YourTango, rendahnya harga diri dapat muncul dalam berbagai pola tidur, termasuk kesulitan bangun dan keinginan untuk tetap berada di rumah.

4. Kesedihan dan Kehilangan

Kehilangan seseorang atau sesuatu yang penting dapat mengubah rutinitas kehidupan secara drastis.

Rasa duka tidak selalu terlihat dalam bentuk tangisan. Sebagian orang justru merasa kehilangan energi dan kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari. Akibatnya, waktu yang dihabiskan untuk tidur dapat bertambah.

YourTango memasukkan kesedihan dan kehilangan sebagai salah satu alasan seseorang mungkin lebih sering berada di tempat tidur ketika sedang menghadapi masa sulit.

Baca Juga: Atasi Masalah Bau Tubuh Secara Alami dengan 3 Bahan Ini

5. Kesepian

Kesepian dapat membuat seseorang semakin menjauh dari lingkungan sosial.

Ketika berinteraksi dengan orang lain terasa melelahkan atau tidak nyaman, tidur bisa menjadi cara untuk menghindari perasaan tersebut. Masalahnya, terlalu lama menarik diri juga dapat membuat seseorang semakin terisolasi.

YourTango mengaitkan kesepian dengan kelelahan dan masalah kesehatan mental yang pada sebagian orang dapat memengaruhi pola tidur.

Karena itu, mencari kembali hubungan sosial yang sehat secara perlahan dapat menjadi salah satu langkah penting ketika seseorang merasa terus-menerus terisolasi.

6. Rasa Bersalah

Rasa bersalah yang belum terselesaikan juga dapat membuat seseorang ingin menghindar.

Alih-alih menghadapi kesalahan atau percakapan yang sulit, seseorang mungkin memilih tidur agar tidak perlu memikirkan persoalan tersebut untuk sementara.

Namun, tidur hanya memberikan jeda. Persoalan yang menjadi sumber rasa bersalah tetap membutuhkan penyelesaian, baik melalui introspeksi, komunikasi maupun tindakan untuk memperbaiki keadaan.

7. Rasa Sakit atau Masalah Kesehatan

Tidur terlalu lama juga tidak selalu berkaitan dengan keinginan untuk melarikan diri dari masalah emosional.

Kondisi kesehatan tertentu dapat menyebabkan kelelahan berkepanjangan. YourTango menyebut sejumlah gangguan fisik maupun mental dapat disertai rasa lelah dan peningkatan kebutuhan untuk beristirahat. Nyeri kronis juga dapat membuat seseorang lebih banyak berada di tempat tidur.

Karena itu, kebiasaan tidur berlebihan yang berlangsung terus-menerus sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai persoalan psikologis. Jika disertai gejala lain atau mengganggu aktivitas sehari-hari, pemeriksaan medis dapat membantu mencari penyebabnya.

8. Kekecewaan yang Menumpuk

Kekecewaan berulang dalam pekerjaan, hubungan, keluarga atau kehidupan sosial dapat perlahan mengurangi motivasi seseorang.

Ketika berbagai hal terasa tidak berjalan sesuai harapan, seseorang mungkin kehilangan semangat untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Dalam kondisi tersebut, tidur dapat menjadi cara untuk sementara waktu menjauh dari kenyataan yang mengecewakan.

YourTango mengaitkan kekecewaan berkepanjangan dengan kelelahan dan hilangnya motivasi, meski pengalaman setiap orang tentu berbeda.

Tidur Tetap Penting, tetapi Perhatikan Perubahannya

Tidur lebih lama sesekali bukan sesuatu yang perlu langsung dikhawatirkan. Tubuh memang dapat membutuhkan waktu istirahat tambahan setelah aktivitas berat, kurang tidur atau menghadapi periode yang melelahkan.

Yang perlu diperhatikan adalah perubahan pola yang berlangsung terus-menerus, terutama jika seseorang tetap merasa lelah meski sudah cukup tidur, sulit menjalani aktivitas sehari-hari, semakin menarik diri dari lingkungan atau mengalami perubahan suasana hati.

Dengan mengenali penyebabnya, seseorang dapat mencari cara yang lebih tepat untuk menghadapi persoalan yang sedang dialami. Tidur memang dapat memberikan istirahat, tetapi jika terus digunakan untuk menghindari masalah, sumber persoalan tetap perlu dihadapi. (rbj)

Editor : Hanif
tidur berlebihan stres kelelahan kesehatan mental gaya hidup