PONTIANAK POST - Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah bagi umat Muslim di seluruh dunia. Selain sebagai waktu untuk memperbanyak ibadah, Ramadan juga menjadi momen untuk merayakan kebersamaan dengan keluarga dan komunitas. Namun, bagi pekerja di perantauan bulan Ramadan seringkali membawa perasaan rindu yang mendalam terhadap tradisi dan kebiasaan yang ada di kampung halaman.
Hal itu pula yang dirasakan oleh puluhan anak perantau pesisir yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Pantai Utara (Forsip).
Sukartaji selaku ketua Forsip yang berasal dari Kabupaten Sambas tersebut pada tahun ini harus menahan diri tidak pulang ke kampung halaman di awal Ramadan karena tengah menyelesaikan beberapa pekerjaan.
Ia mengaku rindu dengan suasana tradisi Ramadan yang selama ini menjadi rutinitas. Sebut saja kegiatan berbuka puasa bersama keluarga, tarawih di masjid kampung, mendengarkan tadarus, hingga aroma khas makanan tradisional yang hanya bisa ditemukan di rumah. Semua itu menjadi kenangan manis yang sulit untuk dilupakan.
Untuk itu ia mengajak sedikitnya puluhan keluarga besar Forsip di Melawi menggelar Buka Puasa Bersama (Bukber) di kantor Suar yang beralamat di kampung Kenual Nanga Pinoh, sabtu (8/3) kemarin.
Sukartaji mengatakan momen buka puasa bersama merupakan menjadi wadah mempererat silaturahmi sesama anak perantauan dari pantai utara.
"Makna dan manfaat yang kita dapatkan dengan kita bersilaturahmi, kita mempererat tali persaudaraan kita,” ujarnya.
Mantan Jurnalis ini mengajak keluarga besar Forsip di Melawi untuk saling mendukung dalam hal-hal yang baik. Seperti peduli terhadap sesama meski di luar Ramadan.
"Saya berharap kepada keluarga besar Forsip tetap mempertahankan dan meningkatkan hal-hal yang baik tersebut. Jangan hanya di saat bulan suci Ramadan saja, " harapnya.
Menurutnya, Kegiatan buka puasa bersama ini menjadi agenda tahunan untuk keluarga besar Forsip
"Ini agenda rutin, biasa memang kita lakukan di setiap tahunnya,” tutur pria yang lebih akrap disapa Taji.
Selain sebagai bentuk ibadah lanjut taji, acara ini juga menjadi ajang untuk mempererat hubungan kekeluargaan di antara kita semua.
Sementara itu sebagai obat rindu, Taji berupaya menciptakan moment yang sama seperti di kampung halaman dengan membuat takjil yang sama, yaitu bubur paddas.
"Salah satu makanan khas yang aku kangenin saat berbuka itu adalah bubur paddas , makanya kami buat bubur paddas sebagai takjil utama mengingatkan dengan kampung halaman kami, " katanya.
Suasana keakraban pun tampak jelas saat Keluarga besar Forsip berbuka puasa dengan hidangan yang telah disediakan. Dengan menu yang khas ala pesisir utara menggugah selera, berbuka puasa penuh khitmad dan kebersamaan. (Wan)
Editor : A'an