Pak Kang (73), salah satu loya terkenal, warga Gang Semangat Tani, Kelurahan Sungai Pinyuh. Sejak umur 11 tahun menjadi loya mewarisi kemampuan supranatural dari sang kakek.
WAHYU ISMIR, Sungai Pinyuh
DI gubuk sederhana, Pak Kang beserta keluarga tinggal bersama istri, anak, serta cucu-cucunya. Rumah yang sebagian besar berbahan kayu itu adalah rumah milik orang lain yang ditumpangi Pak Kang dan keluarga. Meskipun seadanya, namun lingkungannya asri dengan banyak pohon buah yang tumbuh di sekitar rumah tersebut.
Walau demikian, rumah Pak Kang sering didatangi orang dari berbagai daerah di Kalbar. Sebab dirinya dikenal sebagai orang yang memiliki kemampuan spiritual untuk membantu orang lain, atau sering disebut sebagai loya.
Hingga kini, Pak Kang tetap eksis menjadi loya, membantu pengobatan bagi masyarakat yang sakit dan meramal peruntungan nasib.
“Saya asalnya dari Kampung Sungai Rasau, Singkawang. Namun, sempat berpindah-pindah ke Pontianak dan akhirnya menetap di Sungai Pinyuh sejak tahun 2000 atau 22 tahun silam,” kata Pak Kang kepada Pontianak Post, belum lama ini di kediamannya di Gang Semangat Tani.
Pak Kang ingat betul pertama kali mendapatkan kemampuan supranatural ketika berusia 11 tahun. Awalnya dia sama sekali tidak menduga akan mewarisi kemampuan sang kakek di dunia supranatural.
“Bapak saya bukan loya, tapi kakek saya dulunya loya. Jadi, saya ini mewarisi kemampuan kakek menjadi loya. Saat itu umur saya 11 tahun sudah menjadi loya,” kenangnya.
Pengalaman supranatural yang dialaminya ketika sedang tidur. Dalam tidurnya, Pak Kang seketika kesurupan. Awalnya, orang tua dan keluarga, diakui dia, sempat kebingungan dengan kondisi Pak Kang. Namun, lama-kelamaan mereka menyadari kalau Pak Kang ditakdirkan menjadi loya.
“Ketika sedang tidur, tiba-tiba saja dimasuki (kesurupan). Saya melompat-lompat bahkan kaki terkena kapak juga tidak apa-apa. Hampir setiap hari dimasuki dan sering berbicara. Kebanyakan orang kalau dimasuki tidak bicara,” ujarnya.
Seiring waktu, kemampuan supranaturalnya semakin dalam dan dia pun bisa mengendalikan diri dengan baik. Sehingga kemampuannya menjadi loya terdengar oleh masyarakat luas.
Namun demikian, untuk mengekspresikan diri sebagai loya saat itu tidaklah mudah. Dikarenakan tekanan dari Orde Baru, orang seperti Pak Kang tidak bisa bebas menggunakan kemampuannya. Pada saat dirinya dan keluarga pindah ke Pontianak, kemampuannya hanya dimanfaatkan orang untuk mencari peruntungan melalui nomor togel yang saat itu masih dilegalkan. Sampai akhirnya Pak Kang pindah ke Sungai Pinyuh, semakin eksis menjadi loya. Bahkan dia mendapatkan sertifikat izin menjadi loya dari Kejaksaan Negeri Mempawah saat itu.
“Banyak yang datang ke rumah. Ada yang minta nomor togel, tapi ada pula yang datang untuk berobat, meskipun jumlahnya sedikit. Tapi ketika tahun 2000, kami pindah ke Pinyuh, kemampuan ini dimaksimalkan untuk membantu orang lain untuk berobat. Bahkan keberadaan saya sebagai loya diakui legalitasnya dengan adanya surat sertifikat dari Kejaksaan Mempawah,” katanya.
Sedikit informasi dari Pak Kang, leluhur yang merasukinya itu merupakan pendekar di zamannya, di mana saat ini berumur 449 tahun. Berasal dari negeri Tiongkok, leluhur tersebut dulunya merupakan tukang jagal Babi. Namun di malam harinya, leluhur itu merampok orang-orang kaya yang lalim, dan hasil rampokan dibagikan kepada masyarakat miskin yang tertindas. Sehingga pada suatu saat, sang leluhur ingin berhenti dari pekerjaannya sebagai pendekar, dengan membuang pedangnya ke sungai. Tetapi setelah tindakannya tersebut, sang leluhur khawatir apabila nantinya pedang tersebut ditemukan nelayan dan akan disalahgunakan. Akhirnya dia kembali menyelam ke sungai untuk mengambil pedangnya.
"Tapi apa nasib, sang leluhur meninggal dunia ketika mencari pedangnya itu, dan rohnyalah yang merasuki nenek moyang saya yang terpilih turun menurun menjadi loya, dan akhirnya turun ke saya," ucapnya.
Dalam melaksanakan amanah turun temurun, Pak Kang menjelaskan, tujuan utama leluhur memasuki tubuh Pak Kang adalah untuk membantu sesama, baik dalam perihal kesehatan maupun peruntungan nasib ke depan.
“Dan setelah saya tahu penyakitnya, kemudian saya berikan obat-obatan dari jenis ramu-ramuan yang bersumber dari tanam-tanaman dan semacamnya. Untuk peruntungan nasib, biasanya dikasi tahu petuah-petuah yang harus dilaksanakan si pasien,” sebutnya.
Pak Kang mengaku senang dengan kemampuan supranatural yang dimilikinya. Terlebih, menjadi loya di masa sekarang sudah bisa tampil pada momen-momen tertentu seperti perayaan Imlek dan Cap Go Meh.
“Kalau dulu jadi loya tidak bisa terbuka, kalau sekarang sudah bisa lebih terbuka. Jadi, bisa lebih banyak membantu orang yang sakit,” pungkasnya. (*) Editor : Misbahul Munir S