MEMPAWAH - Suasana duka menyelimuti keluarga Iskandar, orang tua Ariski, setelah jasad bocah 13 tahun itu ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, Minggu (16/7). Bocah 13 tahun itu hilang di perairan Muara Jungkat saat ikut bersama kakeknya mencari remis atau kerang, Sabtu (15/7) pagi.
Kakek korban dan warga sekitar meyakini Ariski diterkam buaya. Upaya pencarian anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Iskandar dan Nuraini itu pun dilakukan, dengan melibatkan tim SAR Gabungan, hingga keeseokan harinya.
Pencarian pun berhasil. Ariski ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di sekitar 1.62 Nautical Mile dari lokasi terakhir. Kapolsek Jungkat, Iptu Mulyadi Jaya mengatakan, korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Setelah berhasil dievakuasi, jasad Ariski langsung dibawa ke Puskesmas Jungkat untuk diperiksa.
Dari hasil pemeriksaan, kata Mulyadi, korban mengalami luka bekas gigitan di bagian dada, leher, punggung dan paha. “Dari hasil pemeriksaan, korban mengalami luka bekas gigitan di bagian dada, leher, punggung dan paha,” kata Mulyadi.
Setelah diperiksa di Puskesmas, jasad Ariski kemudian dibawa ke rumah duka yang berada tak jauh dari lokasi kejadian. Setelah sempat disemayamkan, Ariski selanjutnya dimakamkan. Di pemakaman, pelayat mengantarkan bocah malang tersebut ke peristirahatan terakhir.
Kapolsek Iptu Mulyadi pun mengimbau warga atau nelayan yang beraktivitas di perairan itu, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap keberadaan hewan buas di daerah itu. Mengingat peristiwa serupa sudah kerap terjadi.
“Kepada warga Wajok Hulu, Wajok Hilir dan Sungai Nipah, karena dimungkinkan banyak buaya, kita menjalankan aktivitas mencari ikan dan lainnya agar berhati-hati,” jelas Mulyadi.
Dia juga meminta instansi terkait yang memiliki kewenangan dalam penanganan hewan-hewan liar dan buas ini, untuk memberikan imbauan dan edukasi terhadap warga setempat. “Misalnya memasang tanda atau banner bahwa di tempat ini banyak binatang buas. Sehingga masyarakat dapat mengerti bahwa daerah tersebut berbahaya,” pungkasnya.
Hal senada diungkapkan Kepala Desa Jungkat, Ramlan. Dikatakan Ramlan, kawasan tersebut merupakan habitat buaya. Terutama di sekitar Teluk Cukai. Untuk itu, dirinya mengimbau kepada masyarakat untuk lebih waspada. Sehingga disaat akan memancing atau mencari kerang di kawasan tersebut, tidak sendirian.
“Sebenarnya masyarakat sudah tahu kawasan itu adalah habitat buaya. Tapi karena memang sebagian besar masyarakat bermata pencaharian sebagai nelayan, ya mau tidak mau ke sana. Tapi saran saya, lebih waspada,” kata Ramlan.
Ramlan menduga, saat ini keberadaan buaya kian terusik, karena di sekitar habitat kerap ada lalu lintas kapal, maupun kapal motor. “Yang jelas, masyarakat harus lebih berhati-hati lagi, terutama waktu malam hari,” tegas Ramlan.
“Dulu memang warga sering berjumpa buaya di sana, tapi tidak seganas sekarang. Mungkin karena habitatnya sudah terganggu,” sambungnya.
Sebelumnya, bocah malang itu ikut bersama kakeknya mencari remis atau kerang menggunakan sampan. Begitu tiba di Pulau Seberang, korban seketika hilang. Diduga diterkam buaya.
Pencarian pun dilakukan dengan melibatkan banyak pihak, TNI AL, Basrnas, maupun warga sekitar. Tidak terkecuali pawang buaya. Warga meyakini dengan keterlibatan pawang, dapat membantu proses pencarian korban tersebut. (arf) Editor : Syahriani Siregar