SUNGAI PINYUH – Insirani, warga RT 21/RW 10, Desa Sui Purun Kecil, Kecamatan Sungai Pinyuh sudah puluhan tahun hidup dengan segala keterbatasanya.
Rumah yang ditempati perempuan mualaf ini kondisinya tak layak huni. Jangankan fasilitas dan perabot rumah tangga, WC pun tak tersedia di sana.
“Sudah kurang lebih 20 tahun menempati rumah ini. Sejak awal memang ukuran rumah ini 6x4 meter.
Hanya saja, dulunya kondisi rumah cukup baik, tidak seperti sekarang serba rusak,” lirih perempuan yang akrab disapa Iin itu ditemui di kediamannya, Jumat (1/3) siang.
Dia menceritakan, rumah berukurang 6x4 meter yang ditempatinya bersama seorang cucu itu hanya memiliki satu ruang tamu, satu kamar, dan dapur. Bahkan, rumah tersebut tidak memiliki WC untuk buang air besar dan kecil.
“Dapur saya bangun dari seng bekas dengan kondisi lantai yang rusak parah. Kalau WC sejak awal memang tidak punya. Kalau mau buang air harus menumpang ke rumah adik,” tuturnya.
Iin mengenang dulunya rumah yang ditempatinya dalam kondisi baik. Namun, belakangan rumah tersebut mengalami kerusakan akibat kerap kali terendam banjir setinggi lutut di dalam rumah.
“Setiap kali banjir, saya harus mengungsi ke rumah adik. Karena, tidak bisa bertahan di dalam rumah penuh air setinggi lutut,” ujarnya.
Jauh dilubuk hatinya, Iin berhasrat bisa merenovasi rumah tersebut, agar memiliki tempat tinggal lebih layak huni. Namun, keterbatasan ekonomi membuatnya harus mengubur dalam-dalam impian tersebut.
“Saya hanya bekerja sebagai buruh tani dengan gaji Rp75 ribu perhari. Itu pun tak menentu, kadang menganggur, karena tidak ada yang mengajak bekerja di ladang,” sebutnya.
Dengan penghasilan Rp75 ribu, Iin mengaku hanya mampu memenuhi kebutuhan harian. Apalagi, di tengah situasi sulit seperti sekarang, berbagai kebutuhan pokok mengalami kenaikan, sehingga semakin memberatkan beban hidupnya.
“Kalau tidak ada penghasilan, biasanya mengharapkan pemberian dari anak atau adik. Biasanya mereka membantu memberi lauk pauk untuk makan,” ucapnya.
Lebih jauh, Iin mengaku sangat khawatir dengan kondisi rumahnya. Sebab, hampir seluruh pondasi rumahnya mengalami kerusakan.
Jika hujan, air kerap kali masuk ke dalam rumahnya hingga menyebabkan barang-barang miliknya basah.
“Lebih parah lagi kalau angin kencang. Rumah ini terasa bergoyang mau roboh ditiup angin. Biasanya, saya harus mengungsi ke rumah adik karena takut tertimpa rumah roboh,” pungkasnya. (wah)
Editor : A'an