Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Terminal Kijing Mempawah Diproyeksikan Jadi Simpul Logistik Internasional di Wilayah Barat Indonesia

Hanif PP • Rabu, 13 Agustus 2025 | 09:55 WIB
BONGKAR MUAT: Aktivitas bongkar muat non-peti kemas di Pelabuhan Internasional Kijing, Mempawah.
BONGKAR MUAT: Aktivitas bongkar muat non-peti kemas di Pelabuhan Internasional Kijing, Mempawah.

PONTIANAK POST - PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) Nonpetikemas menargetkan Terminal Kijing di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, sebagai simpul logistik internasional strategis di wilayah barat Indonesia. Terminal ini dinilai memiliki posisi vital dalam memperkuat arus ekspor-impor nasional.

Direktur Utama PTP Nonpetikemas, Indra Hidayat Sani, mengatakan bahwa Terminal Kijing telah terintegrasi dengan Alur Laut Kepulauan Indonesia I (ALKI I) dan berada dekat dengan jalur perdagangan utama Selat Malaka.

“Terminal ini sangat strategis sebagai penghubung logistik, khususnya dari Kalimantan,” ujarnya saat kunjungan kerja di Pelabuhan Kijing, Selasa (12/8).

Sejak resmi dikelola PTP Nonpetikemas Cabang Pontianak pada 1 Agustus 2022, Terminal Kijing berkembang menjadi tulang punggung pelayanan kargo nonpetikemas di Kalimantan Barat. Terminal ini melayani berbagai komoditas seperti curah cair, curah kering, dan kargo umum, berkat fasilitas modern dan infrastruktur penunjang.

Kalimantan Barat sendiri merupakan salah satu provinsi penghasil minyak kelapa sawit (CPO) terbesar di Indonesia, dengan dukungan 84 perkebunan sawit, 132 industri pengolahan CPO, dan 42 terminal khusus. Hal ini menjadikan Terminal Kijing sebagai urat nadi logistik daerah.

“Terminal Kijing menangani berbagai kargo seperti turunan kelapa sawit, caustic soda, batu bara, pupuk, palm kernel, bauksit, hingga kargo berat,” jelas Indra. Terminal ini dilengkapi peralatan bongkar muat seperti harbour mobile crane, excavator, wheel loader, mobile conveyor, hingga flexible hose dan portable filling station.

Dengan kedalaman draft hingga -15 meter dan dermaga sepanjang lebih dari 1.900 meter, terminal ini mampu melayani hingga 12 kapal secara bersamaan, termasuk kapal besar berkapasitas hingga 100.000 DWT.

Menurut Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Pontianak, Suwanda, kinerja Terminal Kijing menunjukkan tren positif. Pada 2023, throughput tercatat sebesar 2,27 juta ton, naik menjadi 3,09 juta ton pada 2024, dan ditargetkan mencapai 3,3 juta ton pada 2025.

Hingga Juni 2025, throughput sudah mencapai dua juta ton, dengan curah kering sebagai kontributor utama sebesar 965 ribu ton. Suwanda mencatat lonjakan signifikan throughput curah kering sebesar 225 persen pada semester I-2025 dibanding periode yang sama tahun lalu.

Untuk mendukung peningkatan kapasitas, PTP menyiapkan berbagai pengembangan infrastruktur seperti pembangunan terminal khusus curah cair, penambahan pipe rack, perluasan dermaga Jetty 1 dan 2, serta penataan zona logistik guna menarik tenant baru.

Terminal Kijing juga telah terlibat dalam proyek-proyek besar seperti pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) oleh PT Borneo Alumina Indonesia dan bongkar muat caustic soda liquid bersama mitra BUMN dan swasta.

Sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN), Terminal Kijing disiapkan untuk mendukung pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Terintegrasi Khusus Aluminium  di Kalbar, selaras dengan program hilirisasi nasional.

“Terminal Kijing bukan hanya memperkuat rantai pasok di Kalimantan Barat, tetapi juga menjadi katalis pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkas Indra.(ant)

Editor : Hanif
#PTP Nonpetikemas #SGAR #terminal kijing #kalbar #fasilitas modern #strategis #logistik