Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Tari Sekapur Sirih Didokumentasikan: Tak Sekadar Seni Pertunjukkan, Arsip Hidup Kebudayaan

Novantar Ramses Negara • Sabtu, 2 Mei 2026 | 14:13 WIB
Proses pendokumentasikan Tari Sekapur Sirih. (ISTIMEWA)
Proses pendokumentasikan Tari Sekapur Sirih. (ISTIMEWA)

Upaya pelestarian warisan budaya takbenda Kalimantan Barat terus dilakukan, salah satunya melalui pendokumentasian Tari Sekapur Sirih yang digagas oleh Mohammad Reza dengan dukungan program Dana Abadi Kebudayaan 2025 dari Kementerian Kebudayaan.

RAMSES TOBING, Pontianak

Reza menegaskan, Tari Sekapur Sirih bukan sekadar tarian penyambutan, tetapi sarat makna sosial dan budaya yang lahir dari konteks multi etnis Kalimantan Barat sejak era 1970-an.

“Tari sekapur sirih bukan hanya pertunjukkan, tetapi arsip hidup tentang sejarah budaya Kalbar. Kalau tidak segera didokumentasikan, ada risiko besar pengetahuan ini hilang bersama para pelaku aslinya,” ujar Reza di Pontianak, siang kemarin.

Tarian ini pertama kali digubah pada tahun 1974 oleh Muhammad Yanis Chaniago untuk menyambut Wakil Presiden saat itu, Sultan Hamengkubuwono IX, di Pontianak. Seiring waktu, Tari Sekapur Sirih mengalami transformasi. Awalnya memadukan unsur gerak Melayu dan Dayak, kemudian identitas Melayu diperkuat sebagai bagian dari perkembangan ekspresi seni di Kalimantan Barat.

Baca Juga: KSBSI Kalbar Soroti Kesejahteraan Buruh, Desak Perlindungan K3 dan Jaminan Sosial Menyeluruh

Namun, dokumentasi terhadap versi asli karya maestro masih sangat terbatas. Banyak pengetahuan penting, mulai dari struktur gerak hingga filosofi, hanya diwariskan secara lisan.

“Banyak pengetahuan terkait struktur gerak, filosofi, hingga konteks penciptaannya yang hanya diwariskan secara lisan,” kata Reza.

Melalui program ini, pendokumentasian dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya merekam gerakan tari, tetapi juga menggali narasi sejarah, makna simbolik, serta perubahan estetik yang terjadi dari masa ke masa.

Dalam praktiknya, Tari Sekapur Sirih memiliki struktur khas dengan durasi 5 hingga 7 menit dan ditarikan oleh sembilan penari. Komposisinya terdiri dari enam penari perempuan sebagai dayang pembawa bokor, dua penari pembawa sirih dan kapur, serta satu penari laki-laki yang membawa payung untuk tamu kehormatan.

Gerakan seperti sembah, hormat, ngayun, dan tabur menjadi simbol penghormatan, sementara properti seperti beras kuning, sirih, dan kapur memperkuat nilai spiritual dalam tradisi penyambutan masyarakat Melayu.

Baca Juga: Wali Kota Pontianak Imbau Jemaah Haji Jaga Kesehatan dan Kekompakan Jelang Keberangkatan 2026

Reza menilai, proses pendokumentasian ini bukan sekadar proyek seni, tetapi bagian dari upaya menjaga identitas budaya sekaligus menjembatani generasi lama dan baru.

“Ini bentuk warisan masa depan. Kita ingin mengabadikannya dalam bentuk visual dan narasi yang bisa dipelajari oleh generasi berikutnya,” ujarnya.

Menurut Reza, ancaman tersebut nyata, terutama dengan semakin berkurangnya pelaku asli yang memahami secara utuh teknik dan nilai dalam Tari Sekapur Sirih.

Ia berharap hasil dokumentasi ini dapat menjadi rujukan penting, tidak hanya bagi pelaku seni, tetapi juga dunia pendidikan, penelitian, hingga pengembangan kebudayaan berbasis komunitas.

“Harapan besar kami, Tari Sekapur Sirih tidak hanya hadir di panggung pertunjukan, tetapi juga hidup dalam ingatan kolektif generasi mendatang,” pungkasnya. (*)

Editor : Hanif
#Tari Sekapur Sirih #Dana Abadi Kebudayaan 2025 #Dokumentasi #kalbar #warisan budaya