PONTIANAK POST – Nama Opu Daeng Manambon dikenal luas sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Kerajaan Mempawah, Kalimantan Barat. Namun, tidak banyak yang mengetahui bagaimana bangsawan Bugis asal Sulawesi Selatan itu bisa dipercaya memimpin kerajaan yang berada jauh dari tanah kelahirannya.
Perjalanan Opu Daeng Manambon menjadi Raja Mempawah berawal dari perannya sebagai penengah konflik internal kerajaan. Kepemimpinannya yang bijaksana membuatnya dipercaya memimpin Mempawah dan meninggalkan warisan sejarah yang masih dikenang hingga saat ini.
Diundang untuk Meredakan Konflik Kerajaan
Baca Juga: Rumah Adat Turun Temurun di Mempawah Kian Lapuk dan Kosong, Cagar Budaya Ini Menanti Perhatian
Menurut laman Kerukunan Keluarga Luwu Raya, sekitar tahun 1724 Kerajaan Mempawah menghadapi konflik internal setelah wafatnya Panembahan Senggaok.
Dalam situasi tersebut, Opu Daeng Manambon diundang ke Mempawah untuk membantu menenangkan kondisi politik kerajaan. Sebagai bangsawan Bugis yang dikenal memiliki kemampuan diplomasi dan kepemimpinan, kehadirannya mampu meredakan perselisihan yang terjadi.
Keberhasilannya menyatukan berbagai pihak membuat keluarga kerajaan dan masyarakat Mempawah memberikan kepercayaan penuh kepadanya untuk memimpin kerajaan.
Memperkuat Kedudukan Melalui Pernikahan
Kepercayaan itu kemudian diperkuat melalui pernikahannya dengan Putri Kesumba, putri Raja Mempawah sebelumnya.
Pernikahan tersebut menjadikan kedudukan Opu Daeng Manambon sah menurut adat kerajaan. Ia kemudian menyandang gelar Pangeran Mas Surya Negara dan tercatat sebagai raja pertama dalam dinasti baru Kerajaan Mempawah.
Kepemimpinannya menjadi awal perpaduan budaya Bugis dan Melayu yang kemudian memberi warna baru bagi pemerintahan Kerajaan Mempawah.
Memimpin Mempawah dengan Pendekatan Bijaksana
Sebagai raja, Opu Daeng Manambon dikenal mengedepankan musyawarah, persatuan, dan stabilitas pemerintahan.
Keberhasilannya menjaga hubungan baik dengan berbagai kelompok masyarakat membuat Mempawah berkembang menjadi salah satu kerajaan penting di pesisir barat Kalimantan.
Gaya kepemimpinannya yang mampu merangkul berbagai latar belakang budaya menjadi salah satu alasan namanya terus dikenang dalam sejarah Kalimantan Barat.
Wafat dan Dimakamkan di Sebukit Rama
Baca Juga: Pesona Tersembunyi Wisata Religi dan Budaya di Mempawah yang Jarang Diketahui
Opu Daeng Manambon wafat pada tahun 1763. Ia dimakamkan di Sebukit Rama, Kabupaten Mempawah.
Kompleks makam tersebut kini telah menjadi salah satu situs cagar budaya sekaligus destinasi ziarah sejarah di Kalimantan Barat. Hingga sekarang, makam Opu Daeng Manambon masih ramai dikunjungi masyarakat, baik keturunannya maupun peziarah yang ingin mengenang jasa-jasanya dalam membangun Kerajaan Mempawah.
Warisan Sejarah yang Tetap Hidup
Baca Juga: Dulu Ramai Wisatawan, Kini Kolam Renang Taman Pulau Sinka Island Singkawang Dipenuhi Lumut dan Semak
Warisan terbesar Opu Daeng Manambon tidak hanya berupa berdirinya dinasti baru di Kerajaan Mempawah, tetapi juga keberhasilannya menciptakan stabilitas politik pada masa itu.
Kepemimpinannya turut mempererat hubungan antara Kerajaan Mempawah dan Kesultanan Pontianak yang berkembang pada masa berikutnya. Hubungan tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan Melayu di Kalimantan Barat.
Lebih dari dua setengah abad setelah wafatnya, nama Opu Daeng Manambon masih dikenang sebagai pemimpin yang berhasil menyatukan masyarakat melalui kebijaksanaan dan pendekatan diplomasi. Jejak kepemimpinannya menjadi bagian penting dari sejarah Mempawah dan terus dipelajari sebagai salah satu warisan berharga Kalimantan Barat.
Editor : Silvina