Dunia semakin bertambah usianya, manusia terus bertambah, lingkungan hidup semakin berubah, perlu langkah antisipasitif. Dalam era globalisasi yang semakin maju dan berkembang ini, prioritas solutif diarahkan pada 3 kebutuhan dasar manusia yaitu: Food, Water and Energy, sehingga energi baru dan terbarukan sangat menjanjikan sebagai solusi preferensial pengganti energi konvensional yang tak lagi bisa banyak digantungkan kepadanya. Bensin, solar, gas, sebagai contoh energi yang berasal dari minyak bumi, ketersediaan bahan bakunya semakin menipis di muka bumi ini.
Pilihan tersedia pada dua golongan energi baru dan terbarukan, yaitu: Low Carbon Energy dan Non Carbon Energy. Keduanya menawarkan keunggulan ramah lingkungan, tersedia tak terbatas, dan menariknya banyak ditemukan di zona equatorial.
Low Carbon Energy
Indonesia telah memulai implementasi Energi Rendah Karbon (ERK), setidaknya bukan lagi wacana. Biodiesel dan Biomass sudah diimplementasikan melalui regulasi. Gerakan massif khusus untuk Biodiesel telah dan sedang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia sekarang ini. Langkah pasti dan tegas Presiden Jokowi untuk menggunakan Biodiesel 30% atau B30 dari CPO yang berdampak kepada penghematan devisa sebesar 63 Triliun Rupiah atas penghematan impor minyak bumi, apalagi bila pada tahun 2020 untuk B40 dan thn 2021 untuk B50 (katadata.co.id). Strategi ini patut diapresiasi.
Bisa dibayangkan betapa kuatnya Indonesia dari sisi ketahanan energi (Energy Security). Petani maupun produsen sawit akan bernafas panjang dan lega. Harga buah sawit membaik akibat hukum supply-demand. Kebutuhan CPO meningkat 101% dengan harga menjadi menarik dari US$ 520/ton menjadi US$ 660/ton, seperti yang dilansir Pontianak Post (26/12/2019). Lantas, akankah program ini berjalan mulus tanpa hambatan?
Jawaban yang paling realistis adalah “tak ada jaminan”. Mengingat masyarakat dunia juga akan dihadapkan oleh dua isu lainnya, yakni Ketahanan Pangan (Food Security) dan Jaminan Ketersediaan Air Bersih (Water Security). Ketiga isu ketahanan tersebut tidak akan membuat kebijakan saling mematikan. Misalnya, Food Security lebih diprioritaskan dari pada Energy Security dan Water Security. Begitu pula dengan isu lingkungan hidup, yakni mencegah pemanasan global akibat lepasnya gas methane dan gas karbon dioksida ke ekosistem lingkungan.
Kebijakan EU terhadap Biodiesel
Sebagai salah satu strategi mengenai energi baru dan terbarukan, masyarakat Uni Eropa (EU) telah mengambil kebijakan bahwa penggunaan biodiesel berbahan baku dari minyak nabati (Vegetable Oil) masih diperbolehkan, namun mulai tahun 2022, EU akan mewajibkan penggunaan Advance Biofuel. Dengan demikian, hingga tahun 2030 akan diprogramkan penggunaan Advance Biofuel sebanyak 6,7 juta liter dari semula nya 0,9 juta liter pada tahun 2021.
Ini bermakna bahwa dipastikan tidak akan ada lagi biodiesel berbahan baku minyak sawit, minyak bunga matahari, minyak kedelai, minyak canola, colza dan sejenisnya yang bisa dipakai untuk minyak goreng (Food Use). Indonesia masih memiliki kesempatan hingga akhir tahun 2030. Dengan pertimbangan ekonomi, tentunya sangat menarik ketika strategi Presiden Jokowi memanfaatkan CPO untuk biodiesel, tetapi tentu saja perlu langkah antisipatif dan kalkulatif.
Dari 63 Triliun penghematan atas penggunaan B30 dengan mengurangi impor minyak bumi, seberapa besar subsidi yang diberikan untuk B30? Tidakkah sampai saat ini, B30 masih disubsidi dikarenakan teknologi yang dipakai untuk memproduksi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang dibuat dari reaksi Methanol dengan CPO (grade minyak goreng) tidak kompetitif alias tidak efisien? Siapkah kita melawan atau bertahan menghadapi gempuran sanksi atas kebijakan diskriminatif yang berlaku di masyarakat Eropa (EU) semisal penerapan bea masuk sebesar 18% untuk biodiesel dari Indonesia yang berbahan baku dari CPO (food grade) ke EU?
Perlu diketahui bahwa hingga tahun 2017 ekspor Biodiesel Indonesia sebanyak 2,5 Miliar Liter atau senilai 26,8 juta US$, di atas Perancis 2,3 Miliar Liter. Bahkan meningkat menjadi 631,1 juta US$ pada tahun 2018. Atau sudah siapkah kita untuk memproduksi biodiesel sesuai dengan kriteria dari masyarakat dunia, yakni memproduksi biodiesel dari bahan baku bukan minyak goreng (food use), tetapi sebaliknya dari bahan baku Non-Food Use untuk menghasilkan Advance Biofuel? Let's think out of the box.
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Tanjungpura (UNTAN) telah dan terus melakukan riset tentang teknologi Advance Biofuel dengan target lebih efisen dan kompetitif. Dengan tersedianya teknologi yang kompetitif, mampu mengubah minyak asam ini menjadi biodiesel (value added product). Beberapa keuntungan dari produksi ini antara lain mampu mengeliminir efek pemanasan global. Selain itu, masyarakat Eropa (EU) akan memberikan insentif yang tinggi terhadap biodiesel yang dikenal sebagai Advance Biofuel dengan cara menghargai per liternya dengan lebih mahal dari biodiesel yang bersumber dari minyak makan (Food Use), serta menghilangkan bea masuk (0%).
Manfaat lain adalah label Sawit Indonesia yang ramah lingkungan sehingga terhindar dari embargo negara negara besar sebagai konsumen utama dan penting meliputi EU, Amerika, Jepang, Korea dan lain sebagainya.
Non Carbon Energy
China akan memproduksi 1 juta Megawatt listrik dari pemanfaatan baling-baling angin yang dimodifikasi dengan menggunaan magnet permanen dari Unsur Tanah Jarang (Rare Earth Element), Neodymium (Nd). Jika unsur ini dicampurkan dengan Boron dan Besi (Nd-B-Fe), maka akan menghasilkan magnet permanen. Ketika angin mengaktifkan sebuah kumparan dan dihubungkan dengan sebuah magnet permanent, seperti Nd-B-Fe, maka listrik yang dihasilkan akan permanen (continue). Dapat dibayangkan betapa ekonimisnya harga per kwh listrik yang dihasilkan. Begitu juga dampaknya terhadap kualitas lingkungan hidup. Tak menyisakan emisi gas Methane dan gas CO2 serta gas-gas beracun lainnya, yang berarti dapat menghindari fenomena pemanasan bumi (Global Warming) dan menjaga lingkungan hidup tetap asri.
Hal menarik lainnya, telah hadir kereta cepat dengan menggunakan medan magnet dan elektromagnet. Kereta tersebut meluncur 10 mm di atas permukaan Rel Baja berkecepatan hingga 600 Km/jam. Kita dapat menikmati naik kereta tersebut di negara-negara maju, sebut saja Jepang, Korea, China dan Perancis.
Kalbar Lumbung Energi Masa Depan
Sadarkah kita bahwa daerah yang kita tempati saat ini memiliki material/sumber bahan baku energi masa depan yang luar biasa? Kalimantan Barat merupakan daerah produsen utama minyak sawit (CPO) tingkat nasional. Artinya ketika kita ingin mengembangkan biodiesel B100 sekalipun, itu bisa kita lakukan. Tersedia cukup CPO secara kuantitatif sebagai bahan baku. Sayangnya hingga sekarang, daerah ini tak memiliki satupun pabrik biodiesel, apalagi niat serius untuk menghadirkan Agroindustri sebagai program hilirisasi produk berbasis minyak sawit.
Sebagai daerah penghasil minyak sawit mentah nasional, tentu daerah ini memiliki problem terhadap lingkungan hidup, semisal CPO yang lolos ke alam yang ditampung dalam kolam. CPO yang lolos ini secara kuantitaf hanya 1% dari kapasitas produksi Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Kapasitas PKS dapat 30 atau 60 ton/jam tandan buah segar,tetapi dikarenakan jumlah PKS yang banyak, dapat kita kalkulasikan jumlah yang tersedia dari minyak yang lolos ke kolam ini. Juga ditambah dengan CPO berkualitas non-minyak goreng yang ditandai dengan kandungan asam lemak yang lebih dari 10% di dalamnya.
Secara kimia, minyak kolam (CPO lolos di dalam kolam) dan minyak sawit berasam tinggi adalah minyak asam, yaitu minyak sawit yang sudah rusak karena mengandung kadar asam lemak (Fatty Acid) yang tinggi serta berbaur dengan sedikit minyak sawit mentah dan pengotor seperti air, lumpur maupun serat. Jika minyak asam ini bersama pengotor lainnya yang di dalam kolam dibiarkan berlama-lama, pada gilirannya akan menimbulkan masalah baru yaitu dapat memberikan efek pemanasan global, emisi gas Methane dan CO2.
Unsur Tanah Jarang (Rare Earth Element)
Setiap tiga ton tanah Bauksit yang ditambang, maka akan diperoleh sebanyak satu ton Alumina (Al2O3) dengan sisa Residu Bauksit (RB) berupa lumpur merah (Red Mud) sebanyak satu setengah ton. Residu Bauksit ini dibuang, ditimbun dan menumpuk sehingga berpotensi menimbulkan problematika lingkungan dikarenakan derajat keasaman (pH) yang sangat tinggi, yaitu di atas 12. Hal ini bermakna jika terjadi pencucian pada timbunan Red Mud dikarenakan air hujan, air tersebut akan masuk ke lahan pertanian maupun badan sungai, sehingga akan terjadi proses pencemaran tanah.
Namun, dibalik semua itu tersimpan harta karun berupa Unsur Tanah Jarang (Rare Earth Element). Unsur ini banyak ditemukan di dalam Lumpur Merah (Red Mud). Satu dari sekian banyak unsur tanah jarang yang banyak digunakan dalam energi adalah Neodymium (Nd). Hasil riset menunjukkan bahwa kadar Nd dalam Lumpur Merah di Wilayah Tambang Tayan sebesar 5 ppm. Ini berarti, jika tersedia 100 ton Lumpur Merah akan tersedia 500 gram Nd. Perlu diketahui bahwa unsur Nd ini memiliki manfaat dalam kuantitas yang kecil. Harga bahan bakunya menarik, yaitu US$ 270/kg tahun 2010 sebagai harga tertinggi. Bandingkan dengan harga Alumina (produk utama) senilai 700-1000 US$/ton atau 0,7-1 US$/kg.
Kalbar Harus Melangkah dengan Energi Baru dan Terbarukan
Akan sangat disayangkan jika Kalbar tidak menangkap peluang yang ada dari sekarang hingga kedepan di bidang Energi Baru dan Terbarukan. Kalbar punya kekuatan berupa ketersediaan bahan baku seperti Minyak Sawit Mentah dan Unsur Tanah Jarang. Tersedia peluang baik di tingkat nasional maupun internasional. Julukan bahwa Pulau Kalimantan merupakan Pulau Lumbung Energi pada gilirannya harus diwujudkan dan ditunjukkan oleh wilayah Kalimantan Barat.
Dorong dan fasilitasi para pelaku bisnis Sawit untuk menjadikan Kalbar daerah Pengembangan Industri Sawit Bersih (Clean Palm Industry Development). Manfaat lain yang bisa didapatkan adalah untuk melawan kebijakan yang diskriminatif dari Masyarakat Eropa sehingga mereka kehabisan alasan untuk mengembargo produk andalan wilayah ini.
Penguasaan teknologi sedang dan terus kita tingkatkan daya saingnya. Kita sudah menguasai teknologinya, yang tersisa adalah bagaimana sinergitas para pihak mulai dari Academic – Business - Government (ABG) untuk diimplementasikan. Begitu pula dengan harta karun berupa Unsur Tanah Jarang yang teronggok dan terabaikan yang tersimpan sebagai limbah di Industri Alumina. Segera disentuh untuk dinaikkan nilai tambahnya. Bayangkan jika kita bisa memadukan sifat magnet permanen dari Unsur Tanah Jarang yang ada di Tayan, Neodymium digabungkan dengan kekuatan angin laut atau angin pegunungan di pesisir dan di pedalaman Kalbar, maka dipastikan daya saing daerah ini akan meningkat. Pertumbuhan Ekonomi Kalbar tidak lagi di angka 5 koma sekian tetapi dapat diangka 6 koma nol. Angka Partisipasi Pendidikan Tinggi Kalbar akan di atas rata rata nasional (35%). Kalbar akan maju dan sejahtera.
*) Penulis adalah Guru Besar Kimia Agroindustri UNTAN, Rektor UNTAN Periode 2011 – 2019. Editor : Salman Busrah