Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mencairkan Suasana Lewat 30 Karya Lukisan

Ari Aprianz • Kamis, 19 Maret 2020 | 13:32 WIB
PAMERAN LUKISAN : Sejumlah lukisan dipajang di dinding cafe di Jalan Cendana. Pameran lukisan ini bertemakan
PAMERAN LUKISAN : Sejumlah lukisan dipajang di dinding cafe di Jalan Cendana. Pameran lukisan ini bertemakan
“Cair” Pameran Berbagi Para Perupa

Kemarin menjadi hari terakhir digelar Pameran Lukisan “Cair”. Pameran itu digelar selama empat hari, sejak 14-18 Maret 2020. Ada 30 lukisan yang ditampilkan dengan harga tertinggi mencapai Rp25 juta.

RAMSES L TOBING, Pontianak

PAMERAN lukisan “Cair” digelar di Cendana 37 Cafe, Jalan Cendana, Pontianak. Ada galeri lukisan di tempat itu. Galeri itu milik Yanuar Ahadin. Dia biasa juga disapa Aat diPlonk.

Penyelenggara pameran itu adalah Open Lawang Pontianak Event. Pemiliknya Indra Vijaya. Dia biasa disapa Indra. Ada sembilan perupa yang ikut ambil bagian dalam pameran. Jumlah lukisan yang ditampilkan jauh lebih banyak. Ada 30 buah.

“Satu orang ada dua hingga empat karya yang ditampilkan dalam pameran ini,” kata Indra, di Pontianak, kemarin.

Bagi Indra pameran ini tak hanya memamerkan sembilan karya perupa. Ia mengusung konsep berbagi dengan perupa dalam pameran ini.

Berbagi itu diartikanya dari hasil penjualan lukisan. Umumnya ada potongan harga bagi event organizer yang mengelola ketika lukisan terjual. Potongan itu biasanya 20 persen dari harga lukisan.

Dalam pameran ini potongan itu juga berlaku, tetapi dibagi lagi. Indra membagi lima persen dari potongan itu untuk diberikan ke galeri, tempat digelarnya pameran. Kemudian 15 persennya dibagi ke perupa yang ikut pameran.

Bagi Indra tak selamanya semua lukisan laku saat pameran. Sementara para perupa tentu punya harapan agar lukisannya laku ketika pameran digelar. “Dengan konsep itu bukan uangnya, tapi kebersamaan dengan sesama perupa,” ujar Indra.

Diakui Indra pameran ini bisa digelar berkat dukungan dari beberapa perupa. Dari pameran ini digelar semangatnya adalah seniman berbagi. Pameran ini bekerjasama Aat Galeri. Menggunakan ruangan disana untuk pameran lukisan.

Bagi Indra pameran ini tak hanya bentuk apresiasi terhadap karya-karya seni lukis atau seni rupa. Ini lebih mengenalkan ke  kolektor untuk mengoleksikan lukisan dari para perupa di Kalimantan Barat.

Ini juga yang menjadi persoalan karena apresiasi untuk lukisan di Pontianak belum seperti di Pulau Jawa. Indra menyebutkan ada tiga poin dalam mengapresiasi lukisan.

Pertama berdasarkan kebutuhan, kedua keinginan dan ketiga gensi. Jika berdasarkan kebutuhan maka setiap orang tidak sama. Ada orang yang memang butuh dan senang lukisan. Atau hanya keinginan saja tapi tidak membeli. Kemudian ada nilai gengsi untuk membeli, karena banyak uang dan kemudian membeli saja.

“Sekarang bagaimana meramu dan agar lukisan enak dinikmati,” kata dia.

Kemudian membawa kata “Cair”, dimaksudkan untuk membuat suasana lebih cair. Ia mencontohkan pada suasana politik yang beku antara dua kubu. Bagi seniman tak diharamkan berbicara politik.

“Kata cair itu untuk mencairkan suasana, positif seperti karya-karya mereka,” kata dia.

Indra juga menyebutkan sejumlah nama yang ikut andil. Seperti Alfian Azis, Imansyah Aziz hingga Naufal Sasabil Aziz. Naufal sendiri peserta termuda dalam pameran ini. Dia baru kelas 2 SMA.

“Meski termuda tapi punya prestasi di tingkat nasional,” tambah Indra.

Suparman, seorang perupa yang ikut dalam pameran ini. Ia membawa lima karya dalam pameran. Satu karyanya dijual seharga Rp25 juta. Karya itu menggambarkan tempe, makanan khas Indonesia.

Tempat digambar layaknya memiliki tangan dan kaki. Tangan memegang sendok dan garpu. Tempe itu berdiri di atas pulau-pulau di wilayah Indonesia. Memegang tameng layaknya bertahan dari serangan makanan dari luar Indonesia. Suparman butuh waktu dua pekan untuk menyelesaikan lukisan itu.

“Tempe ini makanan asli Indonesia, nilai gizinya tinggi,” ujar dia. Suparman berharap event serupa terus digelar. Event itu pun mewadahi seniman untuk mengenalkan karya-karya perupa.

Sebagai pemilik galeri, Yanuar Ahadin atau Aat diPlonk mengatakan adanya galeri untuk membuat perupa lebih eksis. Galeri itu sebagai tempat perupa mengenalkan karya-karyanya.

Aat diPlonk memiliki 30 lukisan yang dipajang di galeri itu. Masyarakat yang ingin menyaksikan bisa datang ke galeri. Tak dipungut biaya.

Sebagai pemilik, Aat diPlonk mengajak pemerintah ikut andil dalam membangun seni rupa Kalbar. Pemerintah bisa berperan mengenalkan lukisan kepada kolektor. Ini dilakukan karena melihat karya lukisan perupa Kalbar tak kalah dibandingkan perupa luar. (*)

  Editor : Ari Aprianz
#cair #lukisan