PONTIANAK - Bukan Covid-19 yang mematikan bisnis di Jalan Gajahmada, Pontianak melainkan penutupan jalan tersebut oleh pemkot. Sejak ditutup, Kamis (2/4) lalu, kawasan ini mati suri. Sejumlah hotel dan pertokoan tutup total menyusul warung kopi, kafe dan rumah makan yang sudah dibatasi operasionalnya sejak tiga pekan lalu.
Tak hanya karyawan yang dirumahkan. Para tukang parkir, pengamen hingga pedagang kaki lima juga kehilangan nafkah. Andi (39), salah seorang pemilik warung makan di bilangan Gajahmada mengaku hampir tak mendapat penghasilan sejak jalan ditutup. Pasalnya, pelanggan warungnya adalah para karyawan toko, minimarket dan hotel di sekitar Gajahmada.
"Sejak Gajahmada ditutup, mereka dirumahkan. Jadi jualan saya tidak laku. Hanya mengharapkan dari warga sekitar, karena orang juga sudah tidak ada yang lewat," katanya. Dia mengaku bingung dengan keputusan Wali Kota Edi Kamtono itu. Pasalnya Jalan Gajahmada sudah sangat sepi sejak adanya aturan pembatasan warkop dan rumah makan.
Padahal di ruas-ruas jalan lain banyak yang tidak patuh atas aturan itu, di mana masih menerima orang yang makan di tempat. Bahkan ramai orang yang masih nongkrong di warung kopi. "Kalau alasannya aktivitas Gajahmada ramai, itu tak benar. Cobalah Pak Wali keliling Kota Pontianak. Lihat di jalan-jalan lain orang masih ramai lalu lalang, seperti tak ada corona. Masih banyak yang nongkrong. Kenapa harus Gajah Mada yang ditutup. Di sini sudah sepi, jangan dimatikan lagi," sebutnya.
Pantauan Pontianak Post, Senin (6/4), puluhan tempat usaha di Jalan Gajahmada tidak lagi beroperasi. Mulai dari bengkel, perbankan, restoran/rumah makan, warkop, toko obat, apotek, toko elektronik hingga hotel. Nyaris tidak ada orang yang lewat. Kebijakan pemkot dinilai telah mempersulit situasi perekonomian masyarakat yang sehari-hari bekerja atau mencari nafkah di Gajahmada. Banyak pihak sebelumnya telah menyampaikan keberatan.
Budi Setiadi, seorang warga lain juga bingung dengan alasan Wali Kota Edi Kamtono bahwa penutupan Jalan Gajahmada lantaran aktivitas di jalan ini ramai. Padahal dibanding jalan lain, Gajahmada jauh lebih sepi. Bahkan sebelumnya warung kopi dan kafe sudah banyak yang tutup. "Silakan Pak Wali pantau jalan lain. Jalan Tanjung Raya 2 misalnya, ramai dan padat. Warung makan dan warung kopi masih melayani makan di tempat. Pantau juga jalan lain di Jeruju misalnya," ujarnya.
Dia juga berharap ada penjelasan masuk akal bahwa penutupan satu jalan bisa menghambat penyebaran virus ke seluruh kota. "Kecuali kalau lockdown kota dan warga semua isolasi diri. Ini yang di-lockdown kan cuman Gajahmada, apa pengaruhnya? Jalan Gajahmada juga bukan jalan penghubung ke kota atau provinsi lain. Bagaimana penjelasan logisnya? Ini yang kasihan orang yang berusaha dan bekerja di kawasan ini jadinya," kata dia.
Para pengusaha hotel sebelumnya juga mengeluh. Hampir tidak ada kegiatan yang berlangsung dan nyaris tidak ada tamu yang menginap. Situasi ini membuat hotel harus mencari cara bertahan hidup. Salah satunya adalah membuat produk menu khusus delivery atau jasa kirim makanan. Hotel Aston Pontianak adalah salah satu hotel yang terkena dampak Covid-19. Lebih-lebih sejak Gajahmada ditutup.
Kini hotel bintang empat yang punya ratusan karyawan ini mengandalkan jasa layanan antar makanan. Humas Aston Pontianak, Arifin mengatakan, layanan ini adalah salah satu cara agar hotel tetap dapat pemasukan. Tingkat hunian Aston sendiri tinggal 10 persen.
"Sejak ada corona di Kalbar, kita sudah anjlok. Hanya mengandalkan penjualan makanan delivery saja. Ditambah lagi penutupan Jalan Gajahmada. Tentu kami makin berat, walaupun bisa lewat Jalan Tanjungpura-Hijas. Kami juga terpaksa merumahkan karyawan," ujar Arifin.
Saat ini, kata dia, sedikitnya 45 persen karyawan di hotel tersebut dirumahkan. Manajemen Hotel Aston dan Transera pun kini digabungkan, guna meminimalisir biaya karyawan serta manajemen. "Pekerja harian kami rumahkan. Sementara yang kontrak per April mendapat unpaid leave. Ini memang berat, tetapi mau tidak mau," sebut dia.
Ketua DPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalimantan Barat, Yuliardi Qamal mengatakan jasa antarmakanan kini menjadi hal yang jamak dilakukan hotel untuk tetap hidup. Kendati tetap tak mampu menutup biaya operasional hotel. "Kita mau apalagi sekarang. Di mana-mana kamar sepi. Apalagi kegiatan, karena memang sudah dilarang untuk mengadakan kegiatan dengan massa ramai," ucapnya.
Selama Covid-19 melanda, sebut dia, sudah banyak karyawan hotel, restoran dan warkop dirumahkan. Bahkan sudah ada beberapa hotel yang setop beroperasi. Pasalnya hampir tidak ada pendapatan yang masuk.Namun pihaknya patuh dan mendukung upaya pemerintah dalam memerangi Covid-19. "Dari sisi bisnis tentu kita rugi. Apalagi ada penutupan jalan di Gajahmada," jelasnya.
Dengan kondisi seperti ini, dia meminta adanya evaluasi terhadap kebijakan penutupan jalan. Selain itu, dia menilai perlu ada stimulus yang diberikan kepada pengusaha dan karyawan terdampak. Termasuk dari sektor perhotelan yang telah menyumbangkan PAD serta membuka lapangan kerja buat ribuan orang. "Apakah itu penangguhan pajak dalam enam bulan ke depan, atau seperti apa,” jelasnya.
Dia pun menganggap hal tersebut sebagai musibah yang harus dilalui bersama. Dia berdoa agar virus corona ini dapat segera berakhir dan ekonomi dapat berjalan normal kembali.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Pontianak, Andreas Acui Simanjaya menyebut Jalan Gajah Mada adalah pusat keuangan dan bisnis, di mana banyak kantor perbankan. Orang akan kesulitan untuk mengakses bank bila jalan ini ditutup. Tak sedikit pula sektor perdagangan dan jasa yang memiliki banyak karyawan. Penutupan jalan ini berimbas kepada PHK massal.
Menurut pantauannya, kawasan Gajah Mada termasuk tertib dimana banyak usaha yang menerapkan social distancing atau pembatasan jam kerja. Selain itu, sebagai kawasan coffee street, jalan ini sudah jauh lebih sepi terutama sejak pembatasan warung kopi dan kafe 20 Maret lalu, dimana sebagian besar memilih tutup total.
"Menurut saya kebijakan beli bungkus dan bawa pulang, serta tidak makan di tempat sudah benar. Bahkan hampir semua warkop dan kafe di sana pilih tutup. Sebenarnya kondisi terakhir ini jalan Gajah Mada relatif lebih sepi dari sebelumnya. Bisa dengan mudah kita bandingkan dengan jalan lain di Pontianak ini. Agak aneh kita melihat kebijakan ini," ungkapnya.
Selain itu, dia menilai, penutupan Jl Gajah Mada malah berpotensi memperbesar penularan virus corona. Pasalnya penutupan jalan ini bisa berimbas pada menumpuknya kendaraan di jalan sekitarnya, seperti Jl Tanjungpura, Jl Imam Bonjol, Jl Patimura, Jl Diponegoro, Jl Pahlawan, Jl Veteran serta ruas-ruas jalan di Gajah Mada.
Begitu juga parkir di Pasar Flamboyan akan padat di Jl Pahlawan dan membuat macet. Penumpukan kendaraan di jalan-jalan tersebut berlawanan dengan prinsip social distancing dan physical distancing yang dijalankan pemerintah.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono memandang penerapan aturan pembatasan pergerakan masyarakat di Jalan Gajahmada sebagai upaya pencegahan Covid-19 tidak makin meluas nyatanya mampu menekan berkumpulnya masyarakat di lokasi itu.
"Evaluasi saya, sehari diberlakukan aturan penutupan pembatasan pergerakan masyarakat di Jalan Gajahmada cukup efektif. Warga sudah mulai menahan diri terutama untuk tidak keluyuran," kata Wali Kota Pontianak, belum lama ini.
Dijelaskan Edi apa yang dilakukan itu bertujuan untuk menekan jumlah massa yang keluyuran diwilayah itu. Iapun meminta masyarakat untuk sementara inj, jika tidak terdapat keperluan penting sebaiknya diam di rumah. Pemberlakuannya dilakukan dalam upaya pencegahan Covid-19 agar tidak makin meluas.
Ditanyakan soal penutupan Jalan Gajahmada, Edi menjelaskan yang dilakukan itu sebenarnya bukanlah lock down melainkan buat membatasi pergerakan masyarakat dengan mengatur lalu lintasnya. (ars) Editor : Ari Aprianz