Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Hamka  Siregar; Mantan Rektor IAIN Pontianak Tutup Usia

Ari Aprianz • Minggu, 6 September 2020 | 08:11 WIB
JPO: Jembatan penyeberangan orang (JPO) di Jalan Tanjungpura masih sering digunakan masyarakat untuk menyeberang menuju Pasar Asahan. DOKUMEN
JPO: Jembatan penyeberangan orang (JPO) di Jalan Tanjungpura masih sering digunakan masyarakat untuk menyeberang menuju Pasar Asahan. DOKUMEN
Sosok Humoris dan Pejuang itu Kini telah Pergi

Prof. Dr. Hamka Siregar, mantan Rektor IAIN Pontianak ini tutup usia, Sabtu (5/9). Pria kelahiran Simangambat, Sumut, 20 Agustus 1964 ini memang diketahui memiliki riwayat sakit. Semasa hidupnya, pernah menjabat Ketua STAIN 2009 – 2013, kemudian Rektor IAIN Pontianak 2014 – 2018. Hamka meninggalkan seorang istri bernama Siti Rochani. Tiga orang putra, dua menantu, dan tiga cucu.

MARSITA RIANDINI, Pontianak

KEPERGIAN Hamka untuk selamanya ini memberikan kesan mendalam bagi banyak orang. Misdah, pelaksanatugas Rektor IAIN Pontianak merasa kehilangan sosok yang selama ini sangat banyak membantunya. Terutama dalam berjuang untuk membesarkan IAIN Pontianak. Sosok yang dinilai dia menjadi pemimpin yang baik yang peduli pada kepentingan lembaga.

“Jadi sebagai pemimpin dan penerus Beliau, saya sebagai Plt. Rektor IAIN Pontianak betul-betul merasa kehilangan, IAIN Pontianak betul-betul merasa kehilangan dan sangat berduka atas kepergian Beliau. Semoga Almarhum berada di tempat yang mulia di sisi-Nya,” katanya mewakili Keluarga Besar IAIN Pontianak. Mewakili pihak kampus, dia sangat berterima kasih atas jasa-jasa Hamka selama ini.

Misdah mengenal Hamka sejak 1992 dan sama-sama aktivis HMI cabang Pontianak. Hamka dikenal sosok yang sangat bersahabat, gigih, humoris, dan sangat peduli terhadap orang lain. Keduanya pernah bersama-sama berjuang sebagai aktivis di Sekretariat HMI Cabang Pontianak dalam keadaan yang sangat prihatin untuk bertahan hidup saat masih kuliah.

“Sebagai sesama saudara terkadang makan satu bungkus mi instan pun harus berbagi bersama Beliau. Sepeda yang saya gunakan sehari-hari untuk mengajar ngaji dan kuliah pun sering dipakai untuk aktivitas sehari-hari karena waktu itu beliau belum punya kendaraan sendiri. Intinya adalah saya merasa beliau adalah sosok abang yang sedang sama-sama berjuang untuk hidup,” ceritanya.

Menurut Misdah, sumbangan mendiang Hamka Siregar dalam kemajuan IAIN Pontianak yang paling besar yakni bersama pimpinan yang lain untuk alih status dari STAIN Pontianak menjadi IAIN Pontianak. Alih status itu terjadi pada 2014. Di sisi lain, pada masa Hamka menjabat baik sebagai Ketua STAIN maupun sebagai Rektor IAIN Pontianak, pembangunan fisik gedung di lembaga serta pembangunan SDM sungguh luar biasa.

“Banyak dosen yang diberi peluang intuk melanjutkan studi S3 dan sekarang sudah begitu banyak para doktor yang tersedia di lembaga kami, dan sampai saat ini juga masih dilanjutkan upaya pembangunan fisik dan SDM lembaga,” terangnya yang mengatakan terakhir  bertemu di rumah kediaman saat menjenguk Hamka.

Aspari Ismail, kepala Sub Bagian Organisasi Kepegawaian dan Penyusunan Peraturan di IAIN Pontianak, mengaku mengenal Hamka saat masih jadi mahasiswa STAIN Pontianak. Menurut Aspari, Hamka merupakan sosok yang perlu diteladani. Dari sisi keilmuan, Hamka dinilai dia telah mencapai puncak pendidikan dengan meraih gelar doktor dan guru besar/profesor. Suatu gelar akademik yang banyak diimpikan para akademisi.

“Dari sisi karier jabatan akademik juga luar biasa. Beliau pernah menjadi Pembantu Ketua Bidang Kemahasiswaan STAIN Pontianak. Kemudian dipercaya menjadi Ketua STAIN Pontianak dan diamanahi sebagai Rektor IAIN Pontianak,” cerita dia.

Hamka juga dikenal dia begitu aktif dalam berorganisasi. Termasuk salah satu tokoh yang menurut dia, amat diperhitungkan. Sosok yang dinilai dia memiliki banyak pengalaman organisasi  dan menduduki pucuk pimpinan. Disebutkan dia bahwa Hamka pernah menjadi Ketua Majelis Wilayah KAHMI Kalbar, Wakil Ketua PW Muhammadiyah Kalbar, Ketua Jam'iyatul Islamiyah Kalbar, Ketua Tim Seleksi KPU Kalbar, dan lain sebagainya.

“Dalam berinteraksi, Beliau merupakan seorang yang terbuka, tegas, humoris, dan peduli dengan sesama. Diterima semua kalangan masyarakat,” timpal Aspari.

Selain di Muhammadiyah, Hamka juga pernah menjadi Dewan Pembina Pengurus Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama Kota Pontianak. Aspari mengenal Hamka sebagai orang yang kuat menjaga persaudaraan dan persahabatan. “Ketika saya menjadi ajudan Beliau, dua kali  mendampingi Beliau menghadiri pernikahan dosen STAIN Pontianak di Kabupaten Sintang. Beliau senang membantu. Siapa saja yang datang dan menghubungi Beliau meminta bantuan, pantang baginya untuk menolak,” kenangnya.

Dua minggu lalu,  Dian Kartika Sari, pengelola Data Anggaran dan Perbendaharaan pada FTIK IAIN Pontianak, sempat bertemu Hamka di kampus IAIN Pontianak. Hamka berbicara sebentar tentang kesehatannya. “Beliau juga nanya anak saya.  Satu hal yang selalu diingat kalau ketemu Beliau, tak pernah lupa nanya kabar anak saya, sehatkah? Udah bisa apa?” kenangnya.

Dian tak hanya menjadi mahasiswa, tetapi juga pernah menjadi protokoler rektor tahun 2014, saat Hamka masih menjabat. Di mata Dian, Hamka dikenal sebagai sosok yang baik. “Tak pernah malu bertanya sama kami asisten beliau kalau ade suatu hal yang Beliau ndak paham,” ucap dia.

Eka Hendry, dosen IAIN Pontianak mengatakan bahwa Hamka  berjasa dalam melanjutkan cita-cita alih status dari STAIN menjadi IAIN. Menurutnya, upaya mewujudkan alih status sudah mulai dirintis dari masa mendiang Dr. Haitami Salim.

“Beliau di mata anak buah dan adik-adik adalah figur tokoh,  abang, dan orang tua dalam hal pergerakan intelektual, organisasi, dan pengayoman. Beliau juga figur yang kocak dan to the point.  Ada saja joke-joke segar atau celetukan segar dan berbobot yang bisa mencairkan suasana.  Meskipun di tengah-tengah kesulitan. Kita merasa kehilangan dengan sosok beliau,  sosok pemimpin, pengayom dan abang sekaligus orang tua,” pungkasnya. (*) Editor : Ari Aprianz
#kabar duka