Hari ini, Radio Republik Indonesia (RRI) genap berusia 75 tahun. Bagaimana eksistensi RRI mengisi ruang dengar publik di masa kini? Simak pengakuan Dian, Tata, dan Nindy berikut ini.
ARIS MUNANDAR, Pontianak
Lahir dari ibu yang gandrung akan siaran-siaran RRI, Dian Lestari mencoba peruntungan menjadi seorang penyiar. Kini, 13 tahun sudah ia menyumbang suara untuk lembaga penyiaran publik milik pemerintah ini.
Dian ingat cerita hidupnya pada 2007. Saat itu ada pembukaan lowongan untuk menjadi penyiar RRI. Ia didorong ibunya untuk mencoba mendaftar. Dian sempat ingin menolak. Ia memang suka mendengar radio. Tapi tidak untuk menjadi penyiar. Jangankan berpikir menjadi penyiar, berbicara dengan orang baru dan memulai obrolan saja ia malu.
Alumnus Universitas Panca Bhakti ini jelas tak punya pengalaman di bidang radio karena latar belakang pendidikannya adalah teknik sipil. "Waktu itu masih kerja di kontraktor. Tak pernah bercita-cita jadi penyiar radio," katanya, Kamis (3/9).
Dian baru menikah ketika itu. Suaminya berkata, "Coba saja dulu. Gak enak sama orang tua."
Namun memang sudah rezeki. Wanita kelahiran Pontianak ini berhasil bersaing dengan orang-orang yang sudah punya pengalaman di bidang radio sebelumnya. Ia diterima sebagai penyiar di RRI Pontianak.
Pemilik nama kecil Tari ini ditugaskan di Pro 1, program siaran RRI yang terkenal dengan jargon Pusat Pemberdayaan Masyarakat Indonesia.
Dian belajar keras selama satu bulan. Lama kelamaan, ia menemukan kenikmatan di dalamnya. "Setiap hari kita bertemu dan berbicara dengan orang-orang yang berbeda. Itu membuat hidup saya berwarna," ungkapnya.
Jika ditanya siapa narasumber yang paling berkesan untuknya, jawabannya adalah seorang wanita yang pada awal-awal Dian siaran menjabat kepala dinas. Dian lupa namanya dan di dinas mana. Namun pada saat itu ia ingat tema interviewnya adalah peran wanita.
Alasannya tidaklah sederhana. Wanita itu berhasil membuatnya percaya diri untuk bertanya. Ini memang kasus yang aneh dan seakan terbalik pada penyiar dan narasumbernya. Tapi itulah yang terjadi pada Dian.
Dian yang menjalani masa remaja di dekade 90-an ingat betul bagaimana radio bak cendawan di musim hujan masa itu. "Radio dulu sangat kompetitif. Kayaknya satu-satunya hiburan dulu itu ya radio. Radio swasta dulu kan menjamur. Sedangkan RRI dulu jadi kiblatnya," ucap ibu satu anak ini, Kamis (3/9).
Awal ia menjadi penyiar pun RRI diakuinya masih punya banyak pendengar aktif. Timbal balik berupa salam-salam ataupun uneg-uneg dari pendengar masih sering didapatkannya.
Namun kita tahu, sekarang eksistensi radio diuji. Harus bersaing dengan banyaknya alternatif hiburan lain yang berbasis digital. "Dimulai dengan munculnya televisi swasta di akhir 90an dan banyaknya hiburan digital yang muncul belakangan ini, membuat remaja tidak menjadikan radio sebagai primadona lagi," katanya.
Tantangan zaman dengan segala perkembangannya membuat RRI harus adaptif. RRI bergeser dari penyaji konten yang formal dan banyak diisi berita dan dialog, menjadi lebih santai dan ramah kepada pendengar tanpa melupakan utamanya. Yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
Namun Dian tetap optimis dengan masa depan radio di tengah banyaknya alternatif hiburan berbasis digital. Termasuk yang serupa dengan radio, seperti podcast yang belakangan mulai disukai.
"Bahkan sampai sekarang kita masih punya pendengar dari negara-negara tetangga. Mereka suka pro dangdut. Mereka mendengarkan lewat RRI Play," pungkasnya.
Hera Yulita awalnya pendengar RRI. Terutama Pro 1. Mirip cerita Dian, ia juga menyukai radio karena orang tuanya.
Lalu lebih aktif mendengar sejak ia merantau ke Pontianak pada 2012. Alasannya sederhana. "Radio adalah hiburan yang murah. Cukup earphone dan HP," ucap wanita berusia 32 tahun ini, Rabu (9/9).
Tata, panggilan akrab wanita kelahiran Ketapang ini, mampu menghabiskan dua sampai empat jam sehari untuk mendengar radio. Dinamika Khatulistiwa dan Bijak Bepanton adalah acara yang rutin ia dengar di Pro 1. Di Pro 2, ia menyenangi acara Numpang Nampang.
Alumnus IKIP PGRI Pontianak ini lantas menjadi penyiar di RRI sejak 2019. Motivasinya adalah menjawab rasa penasaran akan kerja-kerja di balik radio. "Menguji teori," katanya, yang diakhiri dengan tawa. Teori yang dimaksud adalah kalimat berbunyi, "Penyiar yang baik adalah pendengar yang baik."
Sedangkan Nindy yang mengaku pendengar setia RRI ini punya daftar 12 program RRI yang sering ia dengar. Pemilik nama lengkap Anindyra Octayura Titanti yang lahir di Singkawang ini tetap memilih radio menjadi sumber hiburan dan informasi utama dibanding media-media lain. "Radio itu kan banyak informasi. Menurut nindy informasinya lebih jelas dibandingkan sosial media," ujarnya, Rabu (9/9).
"Ada kawan Nindy awalnya bilang radio ketinggalan zaman. Terus lama kelamaan nimbrung dengar Pro2. Dia bilang, asik juga ya dengar radio," pungkas wanita berusia 18 tahun ini menirukan ucapan temannya. (*) Editor : Administrator