Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Warga Kampung Caping Bangun Teras Terapung untuk Pengunjung

Super_Admin • Minggu, 21 Maret 2021 | 11:28 WIB
JPO: Jembatan penyeberangan orang (JPO) di Jalan Tanjungpura masih sering digunakan masyarakat untuk menyeberang menuju Pasar Asahan. DOKUMEN
JPO: Jembatan penyeberangan orang (JPO) di Jalan Tanjungpura masih sering digunakan masyarakat untuk menyeberang menuju Pasar Asahan. DOKUMEN
Kampung Caping namanya, lantaran menjadi sentra pembuatan caping. Letaknya di Gang Mendawai, Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara. Kini keberadaan kampung persis di tepian Sungai Kapuas tersebut kian lengkap dengan disediakannya teras terapung. Para pengunjung akan termanjakan oleh goyangan gelombang Sungai Kapuas, sembari bersantai di tempat itu.

MIRZA A. MUIN, Pontianak

WALI Kota (Wako) Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengapresiasi inisiatif warga Gang Haji Salmah, yang menyediakan ruang terapung untuk berbagai kegiatan. Ia pun berharap, dari beberapa terobosan tersebut dapat menjadikan Kampung Caping semakin menarik buat dikunjungi.

“Saya berharap Kampung Caping semakin berkembang, sehingga ke depan destinasi wisata baru berbasis budaya kearifan lokal bisa terwujud," ujar Wako usai syukuran teras apung di Kampung Caping, Sabtu (20/3).

Dalam kesempatan tersebut, dia melihat langsung aktivitas di Kampung Caping dan berbaur bersama warga sekitar. Dia melihat anak-anak bermain kano di Sungai Kapuas. Ia pun ikut mengayuh sampan diiringi anak-anak dengan kano mereka masing-masing.

Usai bersampan bersama anak-anak sekitar, Edi kembali berbaur bersama warga untuk menikmati santap siang dengan saprahan di teras apung yang dibuat secara swadaya oleh warga.

Edi yakin, apabila kawasan Kampung Caping ini dikemas dalam bentuk paket wisata termasuk kuliner dengan makan saprahan secara terapung, akan menjadi hal yang menarik bagi wisatawan yang berkunjung ke sana. Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak, dipastikan dia, akan memberikan dukungan dan bantuan, baik  infrastruktur berupa rumah budaya maupun bantuan-bantuan lainnya seperti capacity building untuk masyarakat agar masyarakat siap ambil bagian dalam wisata budaya ini. "Ciptakan kampung yang aman, bersih, dan kreatif, sehingga kampung ini bisa menjadi role model bagi kampung-kampung lainnya," pesannya.

Sementara untuk infrastruktur Kampung Caping ini dinilainya sudah cukup memadai. Hanya nanti dia merencanakan akan melakukan pembongkaran rumah-rumah yang ada di bantaran sungai. Kemudian jalan-jalan lingkungan akan mereka tingkatkan dan ditambah penghijauan serta kebersihan yang selalu terjaga. Adanya keinginan warga untuk mendapatkan bantuan motor air sebagai angkutan bahan baku pembuatan caping dari Kabupaten Kubu Raya, akan dipertimbangkan dia. "Ada pula beberapa warga yang memiliki rumah tua ingin rumahnya untuk direstorasi. Rumah tua itu bentuk bangunan aslinya tetap dipertahankan untuk menjaga nilai historisnya," sebut Edi.

Alamulhudah, ketua Relawan Kampung Caping menuturkan, para pengrajin caping yang terdiri dari 60 orang pengrajin saat ini sangat membutuhkan sarana transportasi berupa motor air. Kendaraan tersebut akan digunakan mereka untuk angkutan bahan baku caping berupa daun mengkuang yang hanya ada di pinggiran sungai. Selama ini untuk angkutan bahan baku tersebut mereka terpaksa merogoh uang untuk menyewa motor air. Mereka berharap adanya bantuan motor air dari Pemkot Pontianak. "Mudah-mudahan apa yang kami usulkan ini bisa diakomodir oleh Bapak Wali Kota," imbuhnya.

Di tengah pandemi seperti sekarang ini, diakui dia jika pembuatan caping tetap berjalan, meski tak sebanyak kala sebelum pandemi melanda. Bahkan caping yang umumnya dianyam oleh kaum ibu, diakui dia, sekarang juga mulai digeluti oleh kaum pria. Hal ini, menurut dia, terjadi lantaran  sebagian mereka ada yang sudah tidak bekerja lagi akibat dampak pandemi Covid-19. Pembuatan caping ini, diakui dia, sedikit banyak cukup membantu dalam menunjang perekonomian warga di kampung itu. "Caping ini dijual di toko-toko di Pasar Tengah untuk kemudian dijual kembali kepada masyarakat di pedalaman yang banyak menggunakan caping," ungkapnya.

Alamulhudah menjelaskan, dalam satu bulan, bahan baku daun mengkuang yang mereka butuhkan sebanyak 600 ikat. Dengan asumsi, satu pengrajin masing-masing 10 ikat. Pembuatan caping ditargetkan mereka selesai dalam waktu sepekan. Dalam sepekan, mereka bisa menghasilkan masing-masing Rp400 ribu hingga Rp500 ribu. Harga caping mereka banderol pada kisaran Rp15 ribu sampai Rp20 ribu perbuah. Sementara harga jual perkodi (20 buah) kisaran Rp150 ribu hingga Rp200 ribu. "Tergantung masing-masing ukuran caping," jelasnya.

Sementara itu, bersama para relawan yang ada di kampung ini, dirinya menginisiasi untuk membuat teras apung dengan swadaya gotong royong masyarakat. Keberadaan teras apung ini dimaksudkan dia, bersifat multifungsi, artinya bisa digunakan untuk berbagai aktivitas warga sekitar. Kebetulan di Kampung Caping ini ada Rumah Ide yang terdapat perpustakaan. Sehingga anak-anak yang ingin membaca, bilamana ruang yang ada tidak mencukupi, bisa memanfaatkan teras apung ini. Kemudian teras apung ini juga bisa digunakan bagi mereka yang ingin menikmati kuliner yang dijajakan di sekitar kawasan. "Teras apung juga berfungsi sebagai tempat menggelar rapat warga sekitar," tandasnya. (*) Editor : Super_Admin
#Teras Terapung #sungai kapuas