Deny Hamdani, Sungai Raya
Sekelompok anak muda dengan kerelaannya berkeliling melewati jalan-jalan komplek hingga ke gang sebelah dalam membangunkan masyarakat agar tidak terlambat sahur. Mereka tidak hanya meneriakkan kata sahur selama berkeliling. Anak-anak muda tersebut juga membunyinyakan alat-alat sederhana, dari perkakas rumah tangga hingga alat bekas.
Hanya memang tidak semua alat musik dimainkan adalah alat musik sungguhan. Sebagian justru menggunakan perabotan rumah tangga, seperti jeriken, botol, belangak, seng bekas hingga tetabuhan sederhana. Ada pula yang memainkan alat musik tradisional, kentongan. "Ini untuk membantu orang agar bisa berpuasa," kata Kurnia(19), salah seorang anggota kelompok pembangun sahur.
Setiap harinya selepas sholat Taraweh, remaja dan anak kecil ini berkumpul. Sejak pukul 02.00 Wib, mereka sudah berkumpul dengan banyak rekannya. Ada Fathir(10), Baim(11), Obert, Dayat, Iwan dan beberapa teman lainnya. Sekitar pukul 02.02 Wib, mereka mulai berkeliling membangunkan warga di sekitar kawasan Komplek dan sekitar. Tujuannya juga untuk mempersiapkan diri agar segera sahur.
"Kami biasanya tidak tidur selepas taraweh. Kalaupun tidur hanya sebentar," ucap Kurnia.
Tradisi membangunkan sahur warga di sini sudah mulai diilakukan sejak sekitar lima tahubhgn belakangan. Meski sekarang tengah didera Pagebluk Covid-19, anak-anak muda tersebut mengaku senang melakukannya karena bisa membantu sesama dalam menjalankan ibadah. Biasanya, mereka kembali dari berkeliling kampung sekitar pukul 03.15. Para anggota kelompok koprekan yang masih berstatus siswa SD, SMP, SLTA hingga kuliah itu pun kemudian pulang ke rumah masing-masing untuk sahur.
Tradisi membangunkan sahur ini merupakan rekonstruksi nostalgia di masyarakat. Sebagian besar pelaku pembangun sahur adalah anak-anak muda yang sempat merasakan maraknya suasana sahur saat mereka kecil. Dulu, sebelum tahun 2000-an, tradisi membangunkan sahur di wilayah Sungai Raya dilakukan dengan menggunakan mercon, atau pelita berbahan bakar minyak tanah.
Tradisi tersebut hampir dilaksanakan di seluruh daerah. Sebelumnya tahun 1990 an, tradisi membangunkan sahur dipergunakan setiap masjid dengan membunyikan mikropon atau menabuh bedug. Biasanya penabuh paling bagus akan ditampilkan dalam acara tabuh bedug saat Idul Fitri.
Hanya sayangnya, seiring perkembangan zaman tradisi membangunkan sahur ala masjid-masjid sempat berhenti sekitar tahun. Makanya, sekarang, maraknya kembali tradisi membangunkan sahur meski dengan alat sederhana adalah rekonstruksi tradisi di masyarakat. Tujuannya agar Ramadhan lebih semarak meski di tengah Pagebluk Covid-19.(den) Editor : Super_Admin