Dalam usianya yang masih belia, perempuan yang akrab disapa Rahma ini merupakan sosok yang cukup tangguh di lapangan.
Aksinya kerap terlihat di berbagai peristiwa kebakaran yang melahap pemukiman penduduk serta kebakaran lahan di Kota Pontianak dan sekitarnya. Ia bahkan menjadi satu-satunya pemadam kebakaran perempuan yang memadamkan kebakaran yang melahap sebuah lahan di Parit Demang, Jalan Purnama II, Pontianak Selatan, pertengahan Februari 2021.
Bersama timnya, Pemadam Kebakaran Swadesi Borneo dan pemadam kebakaran swasta lainnya serta anggota TNI/Polri, Rahma dengan gagahnya memegang selang dan nozzle memadamkan api di lahan gambut tersebut.
“Saya tertarik dengan pemadam kebakaran, karna damkar pekerjaan yang sangat mulia. Di saat orang-orang lari menjauhi lokasi kebakaran, kami para damkar malah mendekati untuk membantu,” katanya kepada Pontianak Post, belum lama ini.
Rahma bergabung sebagai anggota pemadam kebakaran sejak ia masih duduk dibangku sekolah menengah pertama (SMP). Saat itu usianya sekitar umur 14 tahun.
“Saya ingin membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah,” ujarnya.
Menjadi anggota pemadam kebakaran memiliki resiko dan tantangan yang cukup besar. Untuk itu dirinya selalu berlatih untuk mengurangi resiko yang ada. Terutama saat bertugas di lapangan.
“Menjadi seorang pemadam mempunyai resiko dan tantangan yang besar, untuk itu kami slalu berlatih dan berlatih agar kami bisa meminimalisir resiko-resiko yang terjadi disaat di lapangan. Selain berlatih, peralatan pemadam yang safety yang kami gunakan juga insyaAllah akan menjaga diri kami selama turun di lapangan,” paparnya.
Di usianya yang masih belia itu, entah sudah berapa banyak ia turun ke lapangan. Hampir setiap ada panggilan di HT, ia tidak pernah absen, baik kebakaran rumah, gedung maupun kebakaran hutan dan lahan.
“Entah, sudah tidak terhitung lagi berapa kali terjun kelapangan. Hampir setiap ada panggilan di HT, di Group Pemadam, saya selalu turun,” katanya.
Meski ia seorang perempuan, ia mengaku tidak lagi memiliki rasa canggung meskipun berada di antara kaum laki-laki.
“Awal merasa canggung, karena mayoritas pemadam kebakaran laki-laki. Tapi karena di sini niat kita untuk saling membantu tanpa memandang status, maka kecanggungan itu hilang sendiri, dan alhamdulillah selama di lapangan para pemadam laki-laki saling membantu dan mensupport saya,” bebernya.
Dengan menjadi anggota pemadam kebakaran, ia merasa memiliki banyak pengalaman yang tidak dimiliki oleh rekan-rekan sebayanya.
Ia mengaku selama bergabung menjadi anggota pemadam kebakaran, tidak hanya terlibat dalam menangani peristiwa kebakaran saja, tetapi juga kerap terlibat dalam berbagai peristiwa, di antaranya rescue pencarian korban tenggelam, banjir, sarang tawon, evakuasi pohon tumbang, evakuasi cincin, dan masih banyak lagi.(arf) Editor : Super_Admin