Sebagaimana diketahui, warga Tionghoa akan mulai melaksanakan ritual sembahyang kubur atau leluhur mulai 8 hingga 22 Agustus 2021. Sebelum masa pandemi, banyak warga dari luar yang pulang kampung ke Kalbar untuk melaksanakan sembahyang di makam leluhur mereka.
“Gubernur telah mengambil kebijakan. Untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut, kami menyampaikan kepada 62 yayasan dan perkumpulan yang bernaung di Yayasan Bhakti Suci. Kami mengimbau warga agar melaksanakan ibadah sembahyang kubur sebaiknya di rumah saja,” kata Susanto, Selasa (3/8).
Hal ini demi mencegah munculnya kluster baru Covid-19 di tengah masyarakat, khususnya di Pontianak dan Kalbar. “Kami menyambut baik kebijakan (gubernur) ini," ujarnya. Susanto juga mengimbau agar warga Tionghoa yang berada di luar Kalbar untuk tidak pulang kampung ke Pontianak, atau Kalbar untuk melaksanakan ibadah sembahyang lelulur atau sembahyang kubur.
“Yang di luar Kalbar sebaiknya jangan pulang kampung untuk sembahyang kubur. Saat ini kita tahu, varian baru Covid-19 sudah banyak dan semakin cepat penyebarannya,” kata dia. Ia mengapresiasi langkah Gubernur Kalbar, Sutarmidji, yang berani mengambil kebijakan meski tidak populis. “Kebijakan gubernur memang tidak populer. Tapi ini demi kesehatan dan keselamatan masyarakat. Kita dukung itu,” ungkapnya.
Saat ini Kalbar secara umum berada di zona orange penyebaran Covid-19. "Kita mengimbau, supaya warga yang hendak ibadah sembahyang kubur, dilakukan di rumah saja. Ini untuk menjaga keselamatan dan kesehatan kita semua. Kalau banyak tanggapan beragam, ya biasa. Tapi ini untuk keselamatan warga," ungkapnya.
Kendati demikian, kata Susanto, pembakaran kapal wangkang tetap akan dilaksanakan pada 22 Agustus nanti. Ritual ini akan dilaksanakan secara terbatas , tanpa penonton dan dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat. “Pada hari puncaknya akan tetap kita lakukan pembakaran kapal wangkang. Tapi hanya beberapa orang panitia yang terkait saja (yang hadir),” katanya.
Pihaknya akan berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk menjaga agar ritual tersebut tidak menjadi tontonan warga atau mengundang kerumunan. “Warga dilarang masuk dan dilarang untuk menonton. Nanti kami akan berkoordinasi dengan aparat keamanan,” ujarnya. Sedangkan untuk sembahyang rebut, menurutnya sudah sejak tahun lalu tidak dilakukan. (arf) Editor : Super_Admin