Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Cara Cerdas Kelola Hutan Desa dengan Aplikasi SMART

Super_Admin • Senin, 6 Desember 2021 | 14:34 WIB
MEMBERI PENJELASAN: Ferry Hadary (paling kanan), kepala DCC Lab FT Untan Pontianak bersama mahasiswanya memberikan penjelasan secara streaming. ISTIMEWA
MEMBERI PENJELASAN: Ferry Hadary (paling kanan), kepala DCC Lab FT Untan Pontianak bersama mahasiswanya memberikan penjelasan secara streaming. ISTIMEWA
Yayasan Pelestari Ragamhayati Cipta Fondasi (PRCF) Indonesia menerapkan aplikasi Global Position System (GPS) berbasis Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART) untuk mengumpulkan data keanekaragaman hayati sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan-kebijakan pengelolaan Hutan Desa. Aplikasi ini diterapkan kepada Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) di sejumlah daerah yang menjadi dampingannya. Pada LPHD dilatih untuk mengoperasikan aplikasi tersebut.

Catatan: ARIEF NUGROHO

DIREKTUR PRCF Indonesia Imanul Huda mengatakan, Hutan Desa merupakan salah satu bentuk program pemerintah yang mendorong keterlibatan masyarakat mengelola sumber daya alam, khususnya sumber daya hutan yang ada di wilayah desa.

Legalitas keterlibatan masyarakat ini diberikan dalam bentuk persetujuan pengelolaan Perhutanan Sosial yang diberikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia kepada masyarakat diantaranya melalui Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD).

“Setelah mendapatkan persetujuan pengelolaan, masyarakat pemegang ijin memiliki kewajiban untuk dapat menjaga dan memastikan hutan yang mereka kelola tetap lestari dan memberi manfaat secara berkelanjutan,” kata Huda.

Kewajiban pengelolaan Hutan Desa (HD) oleh LPHD secara lestari dan berkelanjutan salah satunya adalah perlindungan dan pengawasan terhadap Hutan Desa melalui kegiatan patroli rutin.

Patroli yang dilakukan bukan hanya sekedar melakukan pengamanan hutan dari aktivitas deforestasi dan degradasi, namun juga mengumpulkan data keanekaragaman hayati sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan-kebijakan pengelolaan HD.

Saat ini, LPHD dampingan Yayasan Pelestari Ragamhayati Cipta Fondasi (PRCF) Indonesia melakukan pengumpulan data menggunakan Global Position System (GPS) berbasis aplikasi Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART) yang banyak digunakan oleh penggiat konservasi.

Beberapa informasi yang dicatat yakni batas antara HD dengan lahan masyarakat, batas HD dengan desa tetangga, vegetasi (jenis pohon, tinggi dan diameter), jenis satwa yang dijumpai (mamalia, herpetofauna dan aves), Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), jalan, sungai, degradasi dan deforestasi, serta nama lokasi.

Data yang dkumpulkan kemudian dimasukkan kedalam aplikasi Geographic Information System (GIS) kemudian ditampilkan dalam bentuk tabel, grafik dan peta kerja.

Setiap temuan satwa dicari status konservasinya berdasarkan IUCN Redlist dan CITES.

Kegiatan pelatihan yang didukung oleh program Tripical Forest Conservation Art (TFCA) Kalimantan Siklus 5 ini diikuti oleh 40 peserta yang dibagi menjadi 2 kali sesi pelatihan.

Sesi 1 dilaksanakan di Laboratorium Komputer SMA N 01 Boyan Tanjung pada tanggal 30 November – 2 Desember 2021 dengan peserta dari LPHD Bukit Belang Desa Tanjung 10 orang dan LPHD Pundjung Batara Desa Nanga Betung 10 orang.

Kemudian Sesi 2 dilaksanakan di Laboratorium Komputer SMA N 01 Hulu Gurung pada tanggal 3 – 5 Desember 2021 dengan peserta dari LPHD Nyuai Peningun Desa Nanga Jemah 10 orang dan LPHD Batang Tau Desa Sri Wangi 10 orang.

“Wilayah Hutan Desa yang dikelola ini relatif luas, ada yang memiliki luas menapai 4.000 hektar.  Sehingga pengetahuan dan keterampilan menggunakan aplikasi SMART dapat membantu pelaksanaan patroli yang dilakukan oleh masyarakat menjadi lebih efektif dan efsien,” beber Huda.

“Hasil patroli di Hutan Desa menghasilkan informasi yang berharga dan menjadi pengetahuan yang dapat dimanfaatkan banyak pihak dalam mendukung upaya konservasi baik terhadap ekosistem maupun keanekaragaman hayati.  Semoga peningkatan pengetahuan dan keterampilan ini dapat mempercepat proses kemandirian masyarakat dalam mengelola hutannya secara berkelanjutan”, sambungnya.

Laurio Leonald selaku tenaga ahli yang memberikan materi mengungkapkan,  SMART awalnya merupakan hasil konsorsium organisasi konservasi internasional yang dirancang untuk dapat digunakan di tingkat tapak sehingga dapat digunakan oleh komunitas konservasi karena tidak dimiliki oleh perseorangan ataupun organisasi.

Ia berharap tenaga dan materi yang sudah dikeluarkan untuk kegiatan patroli dapat menghasilkan data dan informasi yang selanjutnya digunakan untuk pengelolaan Hutan Desa yang focus dan adaptif.

Sementara itu, Sy. Y. Hadinata selaku Fasilitator Program Penguatan Kelembagaan dan Kapasitas Masyarakat PRCF Indonesia mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan dan partisipasi kepada pihak-pihak yang sudah terlibat diantaranya LPHD Bukit Belang, LPHD Pundjung Batara, LPHD Nyuai Peningun, LPHD Batang Tau, SMA N 01 Boyan Tanjung dan SMA N 01 Hulu Gurung. (*) Editor : Super_Admin
#PRCF #hutan desa #LPHD #Aplikasi SMART