Seperti misalnya data harian per Selasa (1/3) lalu, peningkatan kasus positif tercatat sebanyak 403. Sementara tingkat positifnya (positivity rate) di angka 14,15 persen dari 2.849 sampel yang diperiksa.
Kemudian kasus harian Rabu (2/3) kembali terjadi peningkatan. Kasus positif hari itu ditemukan sebanyak 1.005. Tingkat positifnya juga meningkat drastis menjadi 25,88 persen. Atau dari 3.883 sampel yang diperiksa, ditemukan 1.005 kasus positif baru.
Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Hary Agung Tjahyadi mengungkapkan, meski kasus harian naik turun, tapi secara umum tren kasus masih terbilang naik. Tingkat positifnya juga masih tinggi, namun angkanya masih di bawah rata-rata nasional. Dengan demikian, tren kasus diprediksi masih akan naik.
Dalam pengendalian penularan Covid-19 varian Omicron dijelaskan dia, Kalbar perlu belajar dari beberapa negara yang sudah melewati gelombang ketiga dan provinsi lain di Indonesia yang kasusnya sudah menurun. Melihat prediksi Satgas Covid-19 nasional, menurutnya kasus Covid-19 di daerah luar Jawa-Bali akan mulai menurun setelah tiga sampai empat minggu penurunan kasus di daerah Jawa-Bali.
"Kita (Kalbar) diprediksi oleh Kementerian berjarak tiga sampai empat minggu (penurunan kasus), dibandingkan Jawa dan Bali yang sudah duluan (turun)," katanya.
Ia mengatakan dalam upaya pencegahan dan penanganan Covid-19 memang tak bisa hanya dikerjakan oleh unsur dinas kesehatan semata tetapi perlu peran semua pihak termasuk masyarakat.
"(Covid-19) Masih menjadi fokus utama dalam tugas di Dinkes, meskipun diketahui bahwa pencegahan dan penanganan Covid-19 tidak bisa dikerjakan oleh orang-orang di Dinkes saja, tapi ada yang namanya Satgas Covid-19 yang bergabung di dalamnya berbagai sektor," ungkapnya.
Namun ia akan berupaya memperkuat peran dinkes sebagai bagian dari satgas tersebut. Hal pertama yang penting menurutnya adalah soal cakupan vaksinasi. Beberapa target yang harus dilakukan terkait percepatan vaksinasi tidak hanya cakupan dosis pertama mencapai 70 persen, tapi juga dosis kedua. "Karena belum semua (daerah) mencapai 70 persen untuk vaksinasi dosis kedua. Masih ada sekitar 10 kabupaten," terangnya.
Kemudian pihaknya juga bakal mengejar vaksinasi lanjut usia (lansia) yang ditargetkan minimal 60 persen. Sama dengan masyarakat umum, untuk lansia juga tak hanya dosis pertama, tapi juga dosis kedua. "Ini (vaksinasi) sebagian dari upaya untuk menekan jumlah hospitalisasi dan menekan jumlah angka kematian dengan cara vaksinasi," ujarnya.
Diakuinya ketika cakupan vaksinasi dosis pertama rata-rata sudah di atas angka 70 persen maka Kalbar akan masuk ke masa yang cukup sulit untuk mencari sasaran vaksinasi. Dalam kondisi ini, pemerintah akan berhadapan dengan kelompok-kelompok masyarakat yang memang masih menolak dan sulit memahami. Dengan demikian, perlu ada dorongan melalui pendekatan keluarga serta RT/RW.
"Tiap daerah tentu punya kondisi dan situasi yang berbeda. Caranya juga akan berbeda. Bagaimana mengajak tokoh agama dan masyarakat melalui peran Satgas untuk mengajak semuanya," ucap dia.
Upaya pencegahan lainnya, lanjut dia, yakni dengan memperketat protokol kesehatan (prokes). Salah satu di antaranya dengan implementasi aplikasi PeduliLindungi di masyarakat. Ia melihat sejauh ini aplikasi tersebut belum maksimal diterapkan di ruang-ruang publik.
"Seharusnya penerapan PeduliLindungi dengan sanksi, karena aturan sudah dibuat. Jadi sama-sama, penerapan PeduliLndungi di tempat publik, sekaligus diberikan sanksi yang akan membantu menyadarkan masyarakat untuk menerapkan prokes," paparnya.
Lalu hal lainnya yang tak kalah penting, Hary Agung mengatakan bahwa Satgas Covid-19 di daerah jangan sampai kendur melaksanakan tracing dan testing. Ia mengajak kabupaten/kota kembali gencar melaksanakan pemeriksaan PCR agar langkah antisipasi bisa dijalankan maksimal.
“Ini perlu sebagai upaya deteksi dini. Ini (tracing dan testing) harus terus dijalankan,”pungkasnya. (bar) Editor : Syahriani Siregar