Memiliki rambut dan kulit putih, serta bermata terang, adalah ciri-ciri orang albino yang membedakan mereka dengan individu kebanyakan. Perbedaan tersebut membuat orang albino rentan mengalami perundungan.
SITI SUBLIYAH, Pontianak
Di Jakarta, Elisfina (22) mengadu nasib. Wanita asal Kabupaten Landak, Kalimantan Barat itu memutuskan untuk bekerja di ibu kota.
“Aku kerja di Jakarta. Selain ada kerjaan tetap, kadang-kadang juga kerja sebagai model figuran untuk acara-cara di stasiun televisi,” kata Elisfina, saat dihubungi Pontianak Post, Jumat (10/6)
Keputusannya untuk bekerja di kota termacet tersebut terbilang berani. Sebab, wanita yang disapa Elis ini sadar akan keterbatasannya. Sebagai manusia yang terlahir dengan albinisme, ia menyadari kekurangannya. Terutama dalam hal penglihatan.
“Bagi orang albino penglihatan memang jadi kendala. Penglihatan jelas kalau jaraknya 1 atau 2 meter gitu,” katanya.
Untuk membantu indra penglihatannya, ia pun menggunakan kacamata minus. Penggunaan kacamata cukup membantu walau tidak sepenuhnya. Keterbatasan dalam penglihatan juga membuatnya tidak bisa mengendarai kendaraan seperti motor dan mobil.
“Paling cuma bisa bawa sepeda. Sehari-hari pakai ojek online atau pun angkot sebagai transportasi,” ucapnya.
Selain penglihatan, Elis juga harus berusaha agar tidak terpapar sinar matahari dalam jangka waktu yang lama. Sebab, orang albino memiliki lebih banyak melanin di kulit sehingga memiliki risiko berisiko tinggi terkena sengatan matahari bahkan kanker kulit.
Elis sejak kecil sudah mengetahui dari kedua orangtuanya bahwa ia merupakan pengidap albinisme. Albino atau Albinisme adalah kondisi kelainan sejak lahir yang menyebabkan pengidapnya mengalami kekurangan melanin atau bahkan sama sekali tidak memiliki pigmen tersebut. Oleh sebab itu, warna kulit, rambut dan mata pada pengidap albinisme berwarna pucat dan cenderung berwarna putih.
“Waktu kecil sebenarnya aku enggak merasa berbeda dari yang lain. Hanya yang paling terasa itu penglihatan yang sangat lemah. Dan kalau misalnya main di terik matahari, efeknya kalau terlalu lama berjemur kulitnya kayak melepuh,” ucapnya.
Respons orang-orang di sekitarnya cukup beragam. Ada yang memandang biasa saja, ada juga yang melihatnya sebagai orang yang unik. Tak sedikit yang memanggilnya bule dan minta foto bersama. Namun di sisi lain, ada pula yang merundung kondisinya tersebut.
“Di-bully tentu pernah ya dengan kata-kata. Direndahkan juga, dianggap tidak mampu,” imbuhnya.
Sempat ada perasaan sedih tapi ia tidak mau berlarut. Bagaimanapun, apa yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan wajib disyukuri. Ia menolak menyerah dengan keterbatasan.
Memutuskan jauh dari keluarga besar di kampung halaman dan bekerja di Jakarta baginya adalah sebuah keputusan berani yang diambil untuk membuktikan bahwa tak boleh menyerah pada keterbatasan. Keputusannya mengadu nasib di sana juga untuk meraih penghidupan yang lebih baik.
“Harapan aku untuk teman-teman yang albino tetap semangat jangan nyerah. Kita itu sama seperti mereka cuma perbedaan gen. Jangan mudah putus asa, jangan pula rendah diri,” harapnya.
Orang-orang albino rentan menjadi sasaran perundungan karena perbedaan fisik dibandingkan dengan orang pada umumnya. Perbedaan fisik yang mencolok bisa membuat orang-orang albino jatuh mentalnya.
“Saya dulu karena mental saya kurang, saya sampai putus sekolah. Waktu itu kelas satu SMP. Bahkan sampai beberapa tahun tidak keluar rumah, menjauhkan diri dari lingkungan sosial,” cerita Pendiri Albino Indonesia Family, Hence Andreas Kawet.
Saat ini Andreas sudah berdamai dengan dirinya sendiri. Tak ada lagi rasa malu dan rendah diri. Pengalaman mental pada masa lalu, kini memantik dirinya membuat wadah saling berbagi bagi pengidap albino di Indonesia.
Andreas bersama dua orang lainnya mendirikan Albino Indonesia Family pada Februari 2021 yang lalu. Selain menjadi sarana berbagi, Albino Indonesia Family juga menjadi wadah orang albino untuk memperjuangkan kepentingan dan hak-hak mereka.
“Sejak berdiri hingga saat ini anggota kami sudah ada sekitar 50 dari seluruh Indonesia,” kata pria asal Manado, Sulawesi Utara ini.
Andreas mengatakan, salah satu hal yang tengah diperjuangkan adalah memasukkan albino dalam kategori difabel. Menurutnya, tidak adanya melanin dalam tubuh orang albino, menyebabkan beberapa organ tubuh membutuhkan perlakuan khusus.
Pria berusia 40 tahun ini menilai, albino tidak hanya tentang kulit pucat, bulu dan rambut yang berwarna putih, tetapi juga membawa kebutuhan khusus indera penglihatan. Kaitannya dengan itu, albino dinilainya masuk dalam penyandang disabilitas low vision, atau difabel low vision.
Penyandang Disabilitas menurut Undang-Undang Penyandang Disabilitas Nomor 8 Tahun 2016, Penyandang Disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensori dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.
“Kita beberapa waktu lalu bertemu dengan Komnas Disabilitas. Kami sudah menyampaikan aspirasi,” ujarnya.
Dengan masuk sebagai kategori difabel, dirinya berharap tidak ada diskriminasi terhadap orang-orang albino. Dia juga berharap orang albino mendapatkan kesempatan yang setara dengan yang lainnya.
Pihaknya saat ini juga sedang mengurus wadah ini agar berbadan hukum. Dengan memiliki badan hukum, pihaknya bisa lebih muda memperjuang kepentingan dan hak-hak orang albino di Indonesia. **
Editor : Siti Sulbiyah