Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kalbar Miliki 1.182 Tenaga Apoteker 33 Persen Terpusat di Kota Pontianak

Misbahul Munir S • Minggu, 25 September 2022 | 10:40 WIB
RAPAT KOORDINASI: Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Hary Agung saat memimpin rapat koordinasi vaksinasi Covid-19 selama bulan Ramadan di Ruang Rapat Dinas Kesehatan, Jumat (8/4) sore. ISTIMEWA
RAPAT KOORDINASI: Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Hary Agung saat memimpin rapat koordinasi vaksinasi Covid-19 selama bulan Ramadan di Ruang Rapat Dinas Kesehatan, Jumat (8/4) sore. ISTIMEWA
Di tataran masyarakat, sebagian masih belum mengetahui peran apoteker dalam menunjang pelayanan di dunia kesehatan. Padahal peran mereka sangat sentral. Keberadaan mereka di rumah sakit ataupun apotek-apotek menjadi penting dalam menjaga keseimbangan obat-obatan. Memperingati Hari Apoteker Sedunia (World Pharmacists Day) yang jatuh pada 25 September setiap tahunnya, Pontianak Post akan mencoba mengulas mengenai profesi yang satu ini.

MIRZA A. MUIN, Pontianak

SELAMA ini kebanyakan masyarakat tidak begitu tahu secara detail tentang pekerjaan apoteker. Masyarakat tahunya para apoteker ini hanya bertugas meracik obat-obatan. Padahal, tugas mereka di dunia kesehatan sangat vital bagi masyarakat.

Di Kalimantan Barat (Kalbar) jumlah tenaga apoteker mencapai 1.182 orang. Data tersebut terhimpun di Sistem Informasi Apoteker (SIAP). Dari keseluruhan apoteker itu, 92 persen bekerja di pelayanan (RS, klinik, apotek, puskesmas), sementara sisanya di jalur distribusi dan kedinasan.

"(Sebanyak) 33 persen tenaga apoteker ini berada di Pontianak Kota," ungkap Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kalbar, Yanieta Arbie Astuti, kemarin (24/9) di Pontianak.

Dijelaskan dia bahwa tugas apoteker cukup luas cakupannya. Dimisalkan dia, mulai dari riset dan pembuatan obat dan bahan baku obat, perencanaan dan pengadaan obat, penerimaan, penyimpanan dan penyaluran, pengelolaan, pengkajian resep, penyerahan obat kepada pasien, pelayanan informasi obat, konseling, pemantauan terapi obat, homecare, serta monitoring efek samping obat. Tugas-tugas tersebut, menurut dia, terbagi sesuai ranah pekerjaannya masing-masing.

Photo
Photo


 

Dalam bekerja, mereka juga terawasi secara organisasi di IAI. Di IAI sendiri, terdapat dewan etik dan dewan disiplin. Karena apoteker merupakan profesi, maka mekanisme pembinaan dilakukan oleh organisasi. Menyadari bahwasanya pengawasan sangat luas cakupannya, IAI Kalbar bekerja sama dengan beberapa stakeholder seperti Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Balai POM Kalimantan Barat, dan tentunya tempat sejawat apoteker melakukan praktik.

Secara organisasi, terobosan paling penting yang mereka lakukan yakni mengenai sistem informasi apoteker yang berisi data apoteker se-Indonesia. Data tersebut, diungkapkan dia, berisi profil setiap apoteker, tempat kerja, dan keahliannya. "Data yang ada ini dijadikan dasar organisasi untuk mengeluarkan policy yang tentunya bertujuan untuk pelayanan anggota dan masyarakat pada umumnya," ujarnya.

Ke depan kebutuhan akan tenaga apoteker akan terus ada, mengingat dunia kesehatan dan dunia kefarmasian khususnya terus berkembang. Di Kalbar sendiri, kebutuhan apoteker masih cukup besar utamanya untuk di daerah-daerah pelosok. Untuk di daerah perkotaan, sebagian besar sudah terpenuhi.

Kendala yang dihadapi ketika apoteker bertugas tetap ada. Kadang para apoteker dan pemilik usaha tidak satu pemikiran. Alhasil dengan masyarakat edukasi yang ingin disampaikan tidak dipahami sepenuhnya.

Begitu juga dalam hal penjualan obat. Sebagian pemilik usaha memiliki target penjualan tertentu, sedangkan apoteker lebih menekankan kepada kesesuaian obat yang dibutuhkan pasien saja.

Edukasi masyarakat mesti dimulai dari pelayanan dan konsultasi obat di RS, klinik dan apotek. Tentunya yang berkaitan dengan obat mulai dari aturan pakai, dosis, efek samping, penyimpanan, dan pemusnahan untuk obat yang sudah kedaluarsa. Tentunya penyampaian informasi ini erat kaitannya dengan keamanan pasien dalam penggunaan obat.

Standar ini dijalankan oleh apoteker yang berpraktik. Maka alangkah baiknya bilamana masyarakat ingin mengetahui obat yang digunakan, dapat mencari apoteker di fasilitas kesehatan. Tujuanya untuk mendapatkan informasi yang benar tentang obat.

"Semoga masyarakat sekarang lebih paham pentingnya berkonsultasi dengan apoteker yang ada di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Masyarakat," tutup sosok yang juga istri Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono tersebut. (*) Editor : Misbahul Munir S
#kalbar #Miliki 1.182 Apoteker #apoteker #hari apoteker sedunia