SITI SULBIYAH, Pontianak
“KRING kring kring, Pos!” Bunyi kerincingan sepeda Pak Pos adalah momen yang begitu dinanti-nanti. Petugas Pos Indonesia yang mengantarkan surat itu kerap disambut dengan perasaan suka cita.
“Kalau sudah bunyi kring kring sepeda Pak Pos itu rasanya senang sekali. Cepat keluar rumah ambil surat,” ungkap Ibrahim Chandra, warga Pontianak.
Perasaan senang menerima amplop dari Pak Pos tidak bisa dilupakan Ibrahim hingga kini. Membuka amplop, membaca kalimat demi kalimat kerap membuatnya tersenyum sendiri. Padahal tidak pernah sekalipun bertemu dengan sang penulis surat ini.
Bagaimana tidak senang, Ketua Persatuan Filatelis Indonesia (PFI) Kalbar itu saat masih di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) begitu hobi berkirim surat. Sekitar tahun 1986, ia mulai aktif mengirim surat terutama kepada sahabat pena di seluruh Indonesia. Sahabat pena sendiri merupakan seseorang yang diajak untuk saling bertukar surat sebagai bentuk hobi dan hiburan.
Pos Indonesia, diceritakan Ibrahim, dahulu mengeluarkan Majalah Sahabat Pena, majalah yang menjadi sarana untuk para remaja di Indonesia mencari dan menemukan sahabat pena. Dengan bantuan majalah ini, ia lebih mudah menemukan teman untuk bertukar cerita lewat surat.
Lewat surat yang ditulis dengan tangan itu, ia memperkenalkan diri, menceritakan keunikan daerah, kondisi sosial, hingga pariwisata di tempat tinggalnya. “Termasuk juga bertukar perangko dan foto-foto,” ucapnya.
Ibrahim muda cukup aktif berkirim surat. Satu bulan minimal dua kali mengirimkan surat ke sahabat pena. Tak hanya di Indonesia, sahabat penanya juga berasal dari luar negeri. Sebaliknya, surat dari sahabat pena juga begitu ia nantikan.
“Walaupun bisa berhari-hari baru sampai suratnya. Bahkan kalau keluar negeri bisa berbulan,” imbuhnya.
Tak hanya untuk menjalin persahabatan, surat juga menjadi sarana komunikasi untuk memberikan kabar ke keluarga. Ibrahim sendiri merupakan perantau dari Tebas, Kabupaten Sambas, yang mengenyam pendidikan di Kota Pontianak. Untuk memberi kabar tentang kondisinya di tanah rantau ke orang tua, ia harus berkirim surat.
“Karena sering datang ke Kantor Pos, kita jadi kenal dengan petugas pos. Kenal dengan Pak Pos yang sering mengantar surat ke rumah,” tuturnya.
Ibrahim merasakan betul perubahan zaman yang berdampak pada aktivitas surat menyurat. Berkirim kabar lewat surat kini tidak lagi menjadi sarana komunikasi seiring hadirnya internet dan ponsel pintar. Mencari sahabat pena pun demikian. Tak lagi lewat surat. Melainkan lewat sosial media yang jauh lebih cepat dan efektif.
Walau begitu, semangat menyapa sahabat pena di berbagai daerah tak memudar. Perkenalan memang dapat dilakukan lewat media sosial. Namun, berkirim kartu pos hingga kini masih dilakukan.
“Kadang setelah berkenalan lewat sosial media, berlanjut dengan tukar menukar post card atau kartu pos,” ujarnya. Kartu pos sendiri merupakan adalah selembar kertas tebal berbentuk persegi panjang yang digunakan untuk menulis dan pengiriman tanpa amplop.
Masa-masa jaya berkirim surat lewat Kantor Pos juga dirasakan oleh Vina (43). Warga Pontianak ini memanfaatkan jasa Pos Indonesia untuk berkirim surat ke sahabatnya yang ada di Ketapang.
“Setelah lulus kuliah itu harus pisah dengan teman. Tidak ada simpan kontak, hanya alamatnya. Jadi agar tetap bisa bersilaturahmi, berkirim surat,” ujarnya.
Surat tersebut berisi aneka macam cerita. Mulai dari pekerjaan, perkara cinta, dan beragam masalah lainnya. Vina merasa perlu memberi kabar agar tetap mengetahui kondisi masing-masing, di samping mencurahkan pikiran dan perasaan.
“Surat itu ditulis tangan sebanyak dua lembar,” tuturnya.
Mengirim surat lewat Pos Indonesia memang menjadi pilihan utama saat keberadaan telepon belum secanggih dan semasif saat ini. Bagi perantau seperti Fatimah Harahap (64), mengirim surat adalah cara untuk memberi kabar dan berita kepada sanak saudara yang ada di Medan, Sumatera Utara.
“Sebulan minimal sekali (kirim surat),” kata perantau yang kini menetap di Kota Pontianak itu.
Mengirim surat jauh lebih murah saat itu jika dibandingkan lewat telepon melalui sambungan interlokal. Selain itu, ia perlu ke kantor Telkom untuk bisa memanfaatkan telepon. Maklum, saat itu pemasangan telepon rumah masih mahal dan langka.
Bercerita lewat surat juga menjadi pengalaman yang menyenangkan. Kabar keluarga diceritakan dalam lembaran-lembaran kertas dengan tulisan rangkai. Suami dan anak-anak pun ikut menulis.
“Apa-apa yang mau diceritakan kepada keluarga di Medan, kita rancang dulu sebelum dituliskan. Anak-anak dilatih untuk menulis dan berkirim surat ke nenek dan keluarganya,” tuturnya.
Hal yang tak kalah menyenangkan adalah mendapatkan surat balasan. Kehadiran Pak Pos pun selalu menjadi hal yang dinantikan sekeluarga.
Kini, menyapa sanak keluarga yang nun jauh di sana, jauh lebih mudah dan murah. Tak ada lagi berkirim surat. Cukup dengan ponsel pintar, percakapan, panggilan suara dan video pun jauh lebih mudah dan murah. (*) Editor : Misbahul Munir S