Sekretaris Eksekutif KPA Provinsi Kalbar, Syarif Toto Thaha Alkadrie mengatakan, orang dengan HIV (Odhiv) sangat memerlukan perhatian dukungan sosial-ekonomi, baik dalam berbagai layanan, jaminan kesehatan, juga dukungan dari semua pihak untuk keluar dari himpitan stigma dan diskriminasi.
"Bagaimana mereka bisa diterima dalam segala lini aktivitas kehidupan," ujarnya.
Odhiv, kata Toto, mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai seorang warga negara. Maka,Toto mengajak semua masyarakat untuk peduli dalam berintegrasi bersama pemerintah menuju 3 Zero 2030, yaitu tidak adanya infeksi baru, artinya 95 persen Odhiv tahu statusnya melalui komunikasi-edukasi-informasi yang masif. Kemudian 95 persen bersama ditingkatkan dan tersedianya maupun kepatuhan Odhiv mengkonsumsi ARV. Lalu 95 persen ketahanan bagi Odhiv terhindar dari kematian dikarenakan AIDS.
"Masalah HIV dan AIDS adalah masalah kita bersama dalam mengindahkan keluarga sehat untuk kita semua," ulasnya.
Menurut Toto, temuan kasus tertinggi (HIV dan IMS) terjadi pada populasi LSL (lelaki seks lelaki), dan terdapat 46 kasus HIV+ pada LSL di Pontianak.
"Kemudian tes HIV pada anak di bawah umur belum sepenuhnya dapat dilakukan dikarenakan aturan bahwa anak di bawah umur harus mendapat persetujuan dari orang tuanya atau pengampu," paparnya.
Hal ini tentunya berdampak pada tingkat penularan HIV pada anak di bawah umur. Selain itu, masih tingginya lost follow up (LFU) pada Odha baru karena stigma terhadap diri sendiri dan masih kurangnya pengetahuan terkait terapi pengobatan.
Menurut Toto, data Odha yang diakui adalah di atas tahun 2015 dan sampai sekarang karena sudah menggunakan NIK. Sedangkan pada tahun kurang dari 2015 dikhawatirkan akan terjadi duplikasi data-datanya. Perlu adanya pemahaman dan peningkatan kapasitas kepada semua petugas layanan terkait layanan yang ramah komunitas.
"Program-program kolaborasi TB-HIV sudah berjalan cukup baik, dimana pengobatan ARV dan terapi TB sudah diselaraskan dalam 1 layanan. Namun, sebagian besar komunitas (ODHA) belum mempunyai jaminan kesehatan," paparnya.
Lusi Nuryanti, Sekretaris KPA Pontianak menambahkan, agar orang-orang sekitar Odhiv terus memberikan semangat dan dukungan. Terpenting, kata dia, didorong untuk disiplin mengonsumsi obat.
"Hanya ARV obat satu-satunya yang bisa mempertahankan derajat kesehatannya," jelasnya.
Letza Wijaya, Koordinator Pendukung Sebaya Yayasan Pontianak Plus mengatakan, tidak perlu ada stigma, hujatan, atau pengucilan terhadap odhiv. Mereka seharusnya dirangkul, didekati dan diberdayakan. Mereka bagian dari masyarakat yang harus diberikan semangat untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Saat ini perjuangan adalah menyetarakan orang yang hidup dengan HIV sama dengan orang yang hidup non-HIV. Menurut dia, jika Odhiv mengonsumsi obat secara baik dan benar maka dapat hidup dengan baik, setara dan berdaya di masyarakat.
Beragam stigma yang muncul di masyarakat tentang Odhiv, lantaran mereka tidak mengerti tentang HIV dan AIDS, baik itu bagaimana virus itu bertumbuh danbberkembang, bagaimana virus dapat bertahan hidup dalam tubuh, juga proses penularannya. Namun, kata dia menghapus stigma ini memerlukan proses yang panjang juga kerja sama banyak pihak dalam membangun kesadaran.
"WHO juga pernah mengeluarkan bahwa Odhiv yang sudah menjalankan pengobatan ARV dengan baik, maka sudah dianggap setara. Tidak ada lagi perbedaan orang yang punya HIV dengan orang yang hidup tanpa HIV," jelasnya.
Letza berpesan agar mereka yang hidup dengan HIV untuk menerima diri dengan segala kondisi yang ada. Jika mereka bisa menerima dirinya sendiri dengan baik, maka mereka bisa menerima masukan dari orang lain. Sebab, kata dia, Odhiv bukan hanya harus menerima statusnya saja tetapi secara terus menerus menerima kondisi sosial, ekonomi, pendidikan dan budaya.
"Ini yang memang harus dikembangan agar pengobatan dan kehidupan lebih berdaya akan terus menerus dapat diterapkan Odhiv. Odhiv bukan sesuatu yang menakutkan lagi namun Odhiv orang yang sama dengan orang yang hidup non-HIV, tapi mereka bisa menjaga perilaku dan pengobatan dengan baik. Itu yang memang harus kita setarakan," pungkasnya. (mrd) Editor : Syahriani Siregar