Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

RSUD dr. Soedarso Laksanakan Program Proctorship

Salman Busrah • Jumat, 9 Desember 2022 | 22:47 WIB
Photo
Photo
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soedarso mengadakan kegiatan pembelajaran atau proctorship dari Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPDHK) atau Harkit pada 8-10 Desember 2022. Program proctorship yang dilaksanakan kali ini khusus untuk tindakan intervensi coronary complex menggunakan intracoronary diagnostic procedure Intravascular Ultrasound (IVUS).

Direktur RSUD Soedarso Yuliastuti Saripawan menjelaskan, program proctorship dilaksanakan dalam rangka peningkatan pelayanan jantung di Kalimantan Barat (Kalbar). Yang mana, kali ini merupakan proctorship kedua atas pendampingan dari Harkit dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). "Ini sesuatu yang sangat membanggakan bagi kita, masyarakat Kalbar, pagi ini (kemarin) ada kegiatan dengan enam pasien," ungkapnya saat pembukaan kegiatan proctorship di Gedung Cathlab RSUD Soedarso, Jumat (9/12).

Photo
Photo


Saripawan berharap kegiatan proctorship di RSUD Soedarso bisa berjalan kondusif. Mengingat mulai tahun depan RSUD milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar itu, akan menjadi Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT), dengan pendampingan dari Harkit dan Kemenkes. "Kita berdoa kegiatan ini lancar, dalam dua hari ini dilaksanakan kegiatan dengan dokter-dokter yang memang didatangkan dari Harkit," jelasnya.

Alat IVUS yang digunakan, menurutnya merupakan alat baru milik RSUD Soedarso yang dibeli tahun 2022 ini. Sehingga dengan adanya alat canggih tersebut, membuat pelayanan jantung di Kalbar, tidak kalah saing dengan fasilitas di negara tetangga seperti di Kuching, Malaysia. "Jadi ini merupakan suatu kebanggan, kita (Kalbar) ternyata bisa memiliki alat ini," katanya.

Photo
Photo


Sementara mengenai pembiayaan program proctorship, saat ini RSUD Soedarso memang dibantu oleh Kemenkes. Namun secara mandiri RSUD Soedarso juga akan menyiapkan anggaran khusus untuk beberapa kegiatan. Terutama dalam rangka percepatan menuju PPJT. "Misalnya untuk kita mengejar target percepatan baik itu operasi jantung terbuka dan sebagainya. Sudah kami alokasikan anggaran, (mendatangkan) sebagai dokter tamu, sehingga kami lakukan percepatan-percepatan seperti itu," pungkasnya.

Salah satu dokter dari RSUD Soedarso yang mengikuti program tersebut, dr. Infan Ketaren, Sp.JP, FIHA menyampaikan, proctorship dilaksanakan dalam rangka transfer pengetahuan dan teknologi. Dimana saat ini di RSUD Soedarso telah memiliki alat terbaru dalam penanganan kateterisasi jantung yang bernama IVUS.

Photo
Photo


"Jadi alat ini untuk melihat lebih detail apa sebenarnya yang terjadi di pembuluh darah koroner. Jadi selama ini untuk kasus-kasus, terutama penyumbatan yang berada di pangkal, kita belum terlalu berani mengerjakannya, karena kita belum tahu kondisi pastinya seperti apa," jelasnya.

Sementara dengan IVUS, lanjut dia bisa diketahui kondisi pasti sampai ke pembuluh darah pangkal. Sehingga, jika misalnya ada kelainan-kelainan yang agak sulit, saat ini sudah bisa dilakukan tindakan dengan alat tersebut. "Kalau dulu, ketika kami bertemu dengan kasus-kasus seperti itu, maka kami akan coba kirim ke Jakarta, tapi dengan adanya alat ini, kami bisa menilai dan melakukan kateterisasi yang lebih jauh," paparnya.

Photo
Photo


Dalam kesempatan kemarin, ada sebanyak enam pasien yang dilakukan tindakan menggunakan alat IVUS tersebut. Semuanya merupakan pasien yang sudah ditangani di RSUD Soedarso, namun masih ditemukan adanya penyulit. "Jadi sebenarnya enam (pasien) ini adalah kasus kompleks dan harus diperhatikan atau dilihat sedetail mungkin di dalam pembuluh darah dengan alat (IVUS) ini," terangnya.

Dalam penggunaan alat IVUS, tim RSUD Soedarso diajarkan dan dibimbing langsung oleh tim dokter dari Harkit. Harapannya, ke depan dokter intervensi yang ada di Kalbar sudah bisa melaksanakan tindakan secara mandiri. "Mudah-mudahan proctorship yang kedua ini bisa berlanjut dengan kasus-kasus, atau tindakan berbeda yang lebih advance, sehingga diharapkan ketika nanti sudah berdiri Pusat Jantung Terpadu di Kalbar, kami bisa melakukan secara mandiri tindakan intervensi yang lebih kompleks," pungkasnya.

Adapun dalam proctorship kemarin, ada dua dokter dari Harkit yang terlibat dan datang langsung ke Kalbar, yakni dr. Amir Azis Alkatiri, SpJP(K) dan dr. Nanda Iryza, SpJP (K), beserta dua perawat dari Harkit. dr. Amir Azis Alkatiri, SpJP(K) mengatakan, kehadiran pihaknya memang untuk membantu penanganan kasus-kasus penyumbatan koroner yang agak sulit. Dan yang membanggakan menurutnya adalah, pihaknya tidak membawa alat dari Jakarta, melainkan semuanya sudah tersedia di RSUD Soedarso.

Dengan demikian, harapannya RSUD Soedarso nantinya bisa melayani masyarakat Kalbar secara luas. Terutama untuk pelayanan penyakit jantung secara terpadu. "Mudah-mudahan tidak terlalu banyak lagi (kasus) yang dikirim ke Jakarta, atau bahkan menyeberang ke negeri jiran. Kami yakin betul dokter jantung di Kalbar sudah bisa melakukan tindakan penyempitan koroner yang sulit," ucapnya.

Penggunaan IVUS dijelaskan dia, secara umum membawa pesan bahwa penanganan kasus-kasus jantung mesti akurat. Atau sesuai dengan konsep precision medicine. "Karena di IVUS itu kita melihat ukuran pembuluh darah koroner itu secara akurat. Sehingga kita bisa memasang cincin atau stand itu ukurannya pas. Ini penting supaya pasien tidak kembali datang dengan masalah jantung lagi. Itu tujuannya," ujarnya.

dr. Amir Azis berharap ini bisa menjadi langkah yang baik untuk menyambut RSUD Soedarso sebagai PPJT. Dan sekaligus juga dapat meningkatkan kualitas pelayanan penyakit jantung di Kalbar. Apalagi ia melihat Direktur RSUD Soedarso memiliki komitmen yang kuat untuk meningkatkan kualitas pelayanan jantung di Kalbar.

"Seperti halnya juga disampaikan Menteri Kesehatan kita, secara nasional bahwa ini (jantung) adalah penyakit yang angka kematiannya paling tinggi. Ini penyakit nomor satu di Indonesia, sehingga perlu mendapat perhatian, dan kita (harapkan) bisa menurunkan angka kematian, dan angka kesakitan penyakit jantung di seluruh Indonesia," tutupnya.(bar) Editor : Salman Busrah
#rsud dr soedarso