Sepintas, mungkin tidak ada yang menyangka jika perempuan berkulit putih itu adalah seorang tatung. Tatung dalam Bahasa Hakka adalah orang yang dirasuki roh dewa atau leluhur. Raga atau tubuh orang tersebut dijadikan alat komunikasi atau perantara bagi roh leluhur atau dewa tersebut.
Tidak semua orang dapat menjadi tatung. Hanya orang pilihan yang mendapat anugerah itu. Ellen adalah satu di antaranya. Ia menjadi perantara dari Dewa San Tai Zi atau Dewa Naca atau Nezha.
Ditemui di rumahnya di Jalan Selat Panjang, Kompleks Landak Griya Permai No. A 12, Kecamatan Pontianak Utara, Ellen menceritakan kisahnya. Ia menuturkan tentang awal mula dirinya menjadi tatung.
Di usia 13 tahun, ia tiba-tiba merasakan hal aneh pada tubuhnya. Ia kerap mual ketika mencium makanan berbahan daging, terutama daging sapi. Sejak itu, ia tidak pernah lagi mengonsumsi daging.
Dikatakan Ellen, ia juga kerap didatangi oleh roh leluhur dalam mimpinya. Ia seperti mendapatkan petunjuk bahwa dirinya mendapatkan anugerah menjadi seorang tatung.
“Saya kerap didatangi leluhur lewat mimpi.” katanya, Selasa (24/1)
Semakin sering dirinya bermimpi bertemu dengan para leluhur, akhirnya orang tuanya pun bertanya kepada tatung lain yang ada di Kota Pontianak.
“Katanya itu memang ada mendapatkan anugerah tatung,” sambungnya.
Secara bertahap, Ellen pun memiliki kemampuan lebih daripada orang kebanyakan. Ia bahkan memiliki kemampuan menyembuhkan orang sakit. Tidak sedikit orang yang percaya datang kepadanya untuk meminta bantuan.
“Ada orang datang (berobat_red). Biasanya orang tua yang membawa anaknya sakit atau rewel,” bebernya.
Baginya, makna utama menjadi seorang tatung bukanlah mendapatkan kekuatan super, seperti kekebalan tubuh dan kemudian melakukan atraksi yang ekstrem. Intinya adalah bagaimana anugerah yang didapat itu bisa memberikan manfaat dan membantu orang banyak.
Ellen mengaku cukup bahagia menjadi orang pilihan (tatung), karena bisa banyak menolong orang yang membutuhkan bantuan. Selama ini, ia tidak pernah memasang tarif kepada orang-orang yang datang padanya.
“Semua gratis karena saya merasa anugerah yang diberikan ini memang untuk membantu orang,” jelasnya.
Dalam perayaan Cap Go Meh mendatang, ia akan tampil menggunakan jubah Dewa Naca berwarna merah. Ada sejumlah kelenteng di Kota Pontianak yang bakal dikunjunginya. Berbagai persiapan pun telah ia lengkapi, misalnya tandu dengan alas paku dan parang.
Meskipun demikian, ia menyatakan akan tampil sewajarnya. Tidak ada hal-hal ekstrem yang akan dilakukannya saat atraksi.
“Sebisa mungkin tampil sewajarnya. Tidak ada yang ekstrem seperti tatung lain. Mungkin karena (saya) perempuan,” pungkasnya. (arf) Editor : Syahriani Siregar