“Sejauh ini Pemkot Pontianak belum ada membicarakan rencana pembangunan Jembatan Garuda pada teman-teman di legislatif. Artinya rencana pembangunan jembatan ini belum sepenuhnya bisa melenggang. Mesti dikaji dan dibahas dulu bersama dewan,” tegas politisi PAN Pontianak, Selasa (7/2).
Mengenai megaproyek Jembatan Garuda ini, ia minta agar Bappeda memaparkan isi detail dari rencana besar ini. Sebab melihat nilai pembangunan jembatan yang besar, harus ada penjelasan yang detail. Bukan hanya model Jembatan Garuda yang indah saja. Namun rencana jalinan kerja sama antara investor dan Pemkot Pontianak harus dibahas. Sebab, jika berbicara kerja sama dengan investor tentu bicara untung rugi.
“Apa yang diberikan investor ini kepada Pontianak,” ujarnya.
Jika dalam perjanjian kontrak, penggunaan jembatan itu masuk berbayar. Lantas apa sumbangan investor tersebut pada Pemkot Pontianak. Ia tak ingin, perjanjian penggunaan hak pakai jembatan didapat investor di awal. Jika demikian, Pemkot tak dapat apa-apa dari perjanjian itu. Barulah puluhan tahun ke depan, Pemkot bisa merasakan dampak pembangunan dari jembatan ini.
Kemudian, lanjut Lutfi, soal rencana penggunaan tenaga air untuk nyala listrik di Jembatan Garuda masih menjadi pertanyaannya.
“Ini harus dijelaskan betul oleh Bappeda. Seperti apa pengoperasian listrik di jembatan ini,” tegasnya.
Pasang surut Sungai Kapuas apakah tidak berpengaruh jika listrik tenaga air digunakan buat nyala cahaya di Jembatan Garuda ini. Ia minta Pemkot Pontianak melakukan pengkajian akan hal ini. Sebelum diiakan, ada baiknya melakukan studi banding. Lihat daerah yang sudah mengaplikasikan teknologi jembatan dengan pencahayaan listrik menggunakan tenaga air.
Kemudian telaah tiap poin-poin dari klausul perjanjian pembangunan Jembatan Garuda ini. Sebab alokasi pembangunan jembatan memakan biaya besar. Jangan sampai salah jalan lalu Pemkot merugi.
Anggota DPRD Kalimantan Barat asal dapil Kota Pontianak, Arief Joni Prasetyo mendukung penuh wacana Pemerintah Kota Pontianak bekerjasama dengan investor luar untuk membangun jembatan penghubung, yakni Jembatan Garuda dari Jalan Bardan sampai ke Terminal Siantan. Jembatan yang dikalkulasi rancang bangunnya dengan panjang 350 meter dan lebar 30 meter bakal dibangun lewat kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU).
"Kita mendukung penuh segala bentuk pembangunan infrastruktur fasilitas publik. Hanya saja kerja sama ini harus dikaji secara betul, tentunya dengan tak membebani rakyat," ucapnya di ruang kerjanya.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur yang dinamai Jembatan Garuda ini dari sisi fungsi, diyakini dapat mengurangi dan mengurai kemacetan di Pontianak, khususnya jalur menuju Pontianak Utara.
"Selagi untuk kebaikan dan bermanfaat bagi pembangunan daerah, kita support penuh," ucapnya.
Joni menambahkan, jika datang investor asal negara manapun yang hendak melakukan investasi, bernilai dan berdampak positif bagi daerah. Asalkan konsep kerja sama saling menguntungkan dan terpenting tidak membebankan rakyatnya.
Hanya saja, Joni menyarankan studi kelayakan Jembatan Garuda harus mengkaji kemanfaatan bagi masyarakat. Misalnya, terkait mengurai kemacetan.
"Semuanya menjadi bagian tak terpisahkan, dalam mewujudukan Jembatan Garuda yang bermanfaat besar bagi masyarakat," jelasnya.
Proyek Jembatan Sungai Kapuas di Pontianak, Kalimantan Barat akan dibangun kontraktor asal China bakal. Jembatan ini diinisiasi perusahaan lokal PT Kapuas Berkah Illahi yang bekerja sama dengan kontraktor China State Construction Overseas Development Shanghai.
Jembatan ini punya bentang 700 meter termasuk penataan jalan di sisi darat, bentang utamanya sendiri sepanjang 365 meter. Lebar jembatan akan dibuat sepanjang 30 meter. Jembatan Garuda ini dilakukan sebagai penghormatan kepada tokoh pahlawan Pontianak Sultan Hamid II yang merancang lambang Garuda sebagai lambang negara Indonesia.(iza/den) Editor : Syahriani Siregar