“Konsumen pelanggan air bersih memang masih mengeluhkan soal kelancaran air bersih dari PDAM Tirta Khatulistiwa. Penyebab sendatnya distribusi air ke keran konsumen, karena terdapat pipa yang bocor, paling sering ditemukan di daerah Sungai Jawi dan Perdana,” ungkap Edi, Sabtu (1/7).
Edi menjelaskan, terjadinya kebocoran pipa dikarenakan pipa-pipa yang ada saat ini sudah tak mampu menahan tekanan air yang besar. Terlebih, dia menambahkan, pipa-pipa tersebut harus menjangkau konsumen yang kini jumlahnya semakin banyak.
Tak seperti beberapa tahun lalu, pertumbuhan penduduk, utamanya di daerah Sungai Jawi dan Jalan Perdana, menurut dia, tidak sebanyak saat ini. Dulu, menurutnya, tekanan air yang didistribusikan ke rumah warga masih lancer, meski tekanan airnya tak begitu besar. Namun, jika sekarang, tekanan distribusi air yang menuju ke rumah konsumen, diakui dia, mesti dikuat.
“Jika tekanan kecil, air bersih tak bakal mampu menembus ke konsumen,” ucap Wako.
Masalahnya, kata Edi, ketika tekanan air diperbesar, justru ditemukan kejadian pipa-pipa PDAM mengalami kebocoran. Jika sudah begini, petugas PDAM, menurutnya, mesti memperbaiki kebocoran pipa tersebut. Bila perbaikan dilakukan, dikatakan dia, otomatis akan menghambat aliran air bersih untuk sementara waktu. Solusi agar persoalan ini tak terus berulang, PDAM, menurut Wako, mesti mengalokasikan anggaran buat perbaikan pergantian pipa baru. Yang menjadi titik berat Wako adalah pada dua titik, yaitu di Sungai Jawi dan Perdana.
“Biayanya memang besar, sekitaran 40-an miliar (rupiah). Namun ini mesti dianggarkan. Saya juga sudah minta PDAM untuk mengalokasikan anggarannya. Jika tidak bisa di tahun ini paling tidak dilakukan di tahun depan,” ujarnya.
Selain meningkatkan kualitas pelayanan, PDAM, menurutnya, juga tengah berupaya mengejar 100 persen air bersih. Program air bersih gratis untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah di tahun ini juga masih terus mereka lakukan. (iza) Editor : Misbahul Munir S