PONTIANAK - Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Ketapang mencatat restorasi di Sungai Deras, Desa Pematang Gadung Kecamatan Matan Hilir Selatan, Ketapang sudah mencapai 181 hektare.
Restorasi itu dilakukan pada hutan desa yang pernah terbakar di tahun 2014-2015.
Asisten Koordinator Divisi Restorasi Abdurrahman YIARI Ketapang Abdurrahman mengatakan proses restorasi sudah dilakukan sejak tahun 2018. Jumlah bibit yang ditanam sebanyak 94.120 dengan 37 spesies.
Bibit yang ditanam merupakan jenis pohon dengan nama lokal ubah. Untuk satu hektar lahan yang direstorasi tertanam 520 bibit pohon lokal.
"Pemilihan pohon ini karena hampir 100 persen di Desa Pematang Gadung pohon ubah sehingga ingin mengembalikan spesies awal hutan. Dari survei kami juga bahwa hampir 50 persen orangutan di sekitar memakan tanaman ini," kata pria yang disapa Utai ini.
Pontianak Post berkesempatan mengunjungi Camp Semai Kahiu, Restorasi Sungai Deras Pematang Gadung. Perjalanan ke lokasi ini hampir dua jam dari pusat kota Ketapang. Melalui jalur darat dan sungai.
Camp ini terletak di tepian sungai. Jika air sedang pasang maka bisa masuk menggunakan perahu kecil melalui anak sungai. Jika tidak maka pilihannya berjalan kaki melintasi rawa.
Utai menambahkan ada 28 orang yang melakukan restorasi di Sungai Deras. Rinciannya ada delapan wanita. Sisanya laki-laki. Masing-masing orang sudah memiliki tugasnya dalam proses restorasi.
Lanjut Utai untuk kelompok bapak-bapak melakukan pembersihan atau pembukaan lahan awal dan penanaman pada lokasi yang akan direstorasi. Sedangkan pembibitan, perawatan dan tanam sisip dilakukan kelompok ibu-ibu.
Tanam sisip dilakukan jika ada bibit yang ditanam namun tidak tumbuh sehingga harus ditanami ulang.
"Proses tanam sisip dilakukan saat melakukan perawatan. Jika ditemukan ada yang mati maka langsung tanam sisip," imbuhnya.
Tetapi tidak semua ibu-ibu turun ke lapangan. Ada dua orang yang bertugas di dapur. "Jadi ibu-ibu lebih pada perawatan sedangkan kami (bapak-bapak) membersihkan kawasan yang akan ditanam dan penanaman awal," ujar pria berusia 54 tahun ini.
Utai mengatakan proses restorasi mulai dilakukan pagi hari. Biasanya para petugas turun sekitar pukul 07.00 hingga 10.00. Jam 11.00 istirahat. Namun bila masuk pukul 13.00 maka selesai aktivitas restorasi pukul 15.00.
Bila masuk pukul 14.00 selesai pukul 16.00. Untuk satu jalur ditanam 26 pohon. Panjang jalur sekitar 100 meter.
"Paling jauh dari camp itu sekitar 800 meter dan itu melintas kawasan gambut. Target dari hasil survei awal 1.100 hektare tetapi semakin luas semakin bagus karena yang diutamakan ada kerjasama aparatur dan masyarakatnya," pungkas Utai. (mse)
Editor : Syahriani Siregar