PONTIANAK - Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) periode 2018-2023 yang juga mantan Wali Kota Pontianak dua periode Sutarmidji, mengucapkan selamat kepada Kota Pontianak yang hari ini genap berusia 252 tahun.
Ia mendoakan agar di usai lebih dari dua setengah abad ini, Kota Pontianak bisa semakin maju, sesuai dengan harapan, dan cita-cita yang diinginkan.
“Semoga semakin maju, semakin tertib, pelayanan publiknya semakin baik, semakin transparan, dan semakin murah. Karena Pontianak ini tidak ada industri, tidak ada Sumber Daya Alam (SDA), yang ada itu cuma Sungai Kapuas, dan Tugu Khatulistiwa,” ungkap Midji, sapaan karibnya, Minggu (22/10).
Dengan hanya memiliki Sungai Kapuas dan Tugu Khatulistiwa, Kota Pontianak menurut Midji harus bisa mengelola keduanya sebagai objek wisata andalan.
Selain itu, Kota Pontianak sebagai kota jasa, dan perdagangan, dikatakan dia, harus memiliki daya tarik tersendiri.
Adapun kunci dari kota jasa dan perdagangan disebutkan dia adalah kebersihan, ketertiban, keamanan, dan kenyamanan.
“Itu kunci dari merek kota jasa dan perdagangan. Kalau itu ada, maka investor yang berinvestasi akan terus berkembang. Tapi kalau dimana-mana misalnya ada kekumuhan, kemacetan, ketidaknyamanan, maka orang berpikir ini kota jasa dan perdagangan, bisa gak menjamin BEP (Break Even Point) terhadap investasi yang ditanamkan,” paparnya.
Kemudian dari sisi pengelolaan pemerintahan, Midji melihat keberhasilan dari kota jasa dan perdagangan, mengalami pertumbuhan atau tidak, itu bisa dilihat dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Jika PAD terus meningkat, maka lanjut Midji, artinya gerak ekonomi di daerah tersebut semakin baik. Sementara jika PAD tidak mengalami kenaikan yang signifikan, apalagi mengalami penurunan, itu artinya telah terjadi kejenuhan.
“Nah Pemerintah Kota (Pemkot), kalau itu terjadi maka yang harus dilakukan, adalah melakukan evaluasi dari kinerja jajaran (Pemkot), salah satunya misalnya perizinan,” katanya.
Mengenai perizinan, Midji menjelaskan harus cepat, murah, tidak ada pungutan liar (pungli), dan tanpa ada negosiasi apapun.
Selanjutnya mengenai kekumuhan, dan ketertiban umum, perangkat daerah terkait seperti Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), dinilainya harus bisa menjalankan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dengan baik.
“Tumbuh tidak area atau kawasan-kawasan kumuh yang baru, itu harus dilihat,” ucapnya.
Selain itu, Midji juga menyoroti kinerja Dinas Perhubungan (Dishub). Seperti ketertiban pengelolaan parkir, dan lokasi-lokasi yang dilarang parkir. Lalu keberadaan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), ia mempertanyakan, apakah pelayanan yang diberikan sudah sesuai dengan yang diharapkan masyarakat.
“Itu kan pelayanan, bagus tidak, semakin nyaman tidak, dan sebagainya, evaluasi. Itulah melihat bahwa kita bisa melihat tren,” tambahnya.
Midji lantas melihat Pontianak sebagai green city atau kota hijau yang memiliki konsep pembangunan kota berkelanjutan, dan ramah lingkungan, belum diwujudkan secara maksimal.
Misalnya kata dia, dulu Pemkot Pontianak memiliki aplikasi Sistem Informasi Pendataan, dan Pemantauan Pohon (Sip Pohon).
“Tapi saya lihat tidak berkembang (Sip Pohon), akhirnya saya ambil alih (ke Pemprov), menjadi merek kita provinsi, dan sudah menjadi pembicaraan Menteri Lingkungan Hidup, Menko Perekonomian, dan sebagainya. Bahkan kita kembangkan lagi, ada penanaman mangrove menggunakan aplikasi, dan sebagainya,” ujarnya.
Seharusnya kata Midji, Pemkot Pontianak bisa mengembangkan Sip Pohon sehingga menjadi ciri khas sebagai kota hijau yang ramah lingkungan. Sehingga menjadi kota yang nyaman, dan selalu didambakan oleh siapa saja untuk tinggal di dalamnya.
“Kalau sekarang kan bagus itu, taman-taman, masyarakat bisa berinteraksi, menghilangkan lelah, tapi kita evaluasi, sudah bagaimana, nyaman tidak, ada masalah tidak, nah terus dibuat nyaman,” pesannya.
Evaluasi dinilainya sangat penting, dan Midji berharap jajaran Pemkot Pontianak terus melakukan hal itu.
“Terus lakukan evaluasi-evaluasi, dari kondisi Kota Pontianak, karena jangan sampai Pontianak sebagai kota jasa dan perdagangan, kalah nanti bersaing dengan daerah perkotaan lain, seperti di Kubu Raya, dan Mempawah,” pungkasnya. (bar)
Editor : Syahriani Siregar