Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kalimantan Barat Serius Tangani Rabies

A'an • Minggu, 10 Desember 2023 | 19:30 WIB

 

Linda Purnama
Linda Purnama
 

 

ASISTEN I Setda Prov Kalbar, Linda Purnama mengatakan hingga awal Desember tahun ini terdapat 5,249 kasus gigitan hewan dan 16 kematian akibat rabies.

Sehingga, menurutnya, diperlukan upaya serius dari pimpinan di kabupaten/kota untuk melakukan pencegahan.

Seperti diketahui Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyelenggarakan Seminar Nasional sebagai upaya menghadapi meningkatnya ancaman zoonosis di Kalbar.

Kasus rabies menjadi salah pembahasan dalam seminar yang digelar di Gedung Teater 1 Untan Pontianak, baru-baru ini.

"Kegiatan ini merupakan upaya mencegah korban lebih banyak lagi di Kalbar untuk kasus rabies, terutama di musim penghujan yang juga meningkatkan risiko penyakit demam berdarah," kata Linda di sela-sela kegiatan.

Ketua Panitia, Afghani Jayuska menjelaskan seminar yang digelar merupakan puncak acara dari rangkaian kegiatan Hari Rabies Dunia 2023.

Sebelumnya, telah diselenggarakan talkshow mengenai rabies dan vaksinasi rabies sebagai upaya edukasi kepada masyarakat.

Seminar ini diharapkan menjadi langkah awal komunikasi dan koordinasi para pihak dalam mewujudkan Kalimantan Barat Sehat dengan pendekatan one health.

Kegiatan berskala nasional ini bertujuan mencapai pemahaman, kesepakatan, dan komitmen bersama untuk melakukan pencegahan dan pengendalian zoonosis serta penyakit infeksius baru di Kalbar.

"Pada seminar nasional ini mengangkat tema Kolaborasi Para Pihak dalam Mewujudkan Kalimantan Barat Sehat dengan Pendekatan One Health," kata Afghani.

Di tempat yang sama, mewakili Ketua YIARI, Marius Marcellus TJ, menekankan pentingnya pendekatan one health, di mana konsepnya adalah suatu pendekatan yang melibatkan berbagai sector, untuk menangani permasalahan yang muncul akibat interaksi antara tiga elemen utama, yaitu lingkungan, manusia, dan hewan.

Menurutnya, tiga elemen ini saling berinteraksi dan dapat menimbulkan masalah baru yang mempengaruhi keseimbangan lingkungan secara keseluruhan.

"One health tidak hanya digunakan dalam penularan penyakit, namun juga mengenai ketahanan pangan, resistensi antibiotic, perpindahan populasi manusia, polusi air serta udara dan sebagainya.

Sehingga peran serta para pihak dalam mewujudkan Kalimantan Barat sehat merupakan tanggung jawab bersama," kata Marius.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama Untan Pontianak, M. Rustamaji, menegaskan bahwa seminar ini bukan hanya ajang diskusi akademis, tetapi juga langkah awal komunikasi dan koordinasi antara berbagai pihak.

Provinsi Kalimantan Barat, sebagai provinsi terluas ke-3 di Indonesia, diakui dia, menghadapi tantangan serius terkait zoonosis, terutama rabies.

Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa pada 2016, Kabupaten Ketapang, salah kabupaten di Kalimantan Barat menjadi lokasi percontohan untuk pencegahan dan pengendalian zoonosis khususnya rabies.

Namun demikian, diungkapkan dia bahwa kasus rabies ini masih terjadi di Kalbar hingga saat ini.

"Para pemangku kepentingan multi sektoral, termasuk Bapak-Ibu sekalian yang hadir pada kesempatan ini, memiliki peran yang sangat penting dalam upaya pencegahan zoonosis, ataupun penyakit infeksius baru untuk mewujudkan Kalbar sehat," pungkas Rustamaji. (mse)

Editor : A'an
#rabies #untan #YIARI #kalbar #One Health