Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Keroyokan Tangani Stunting di Kalbar, Program Inovasi Sinita Penjaga Ibu Jari Dimulai

A'an • Minggu, 10 Desember 2023 | 20:00 WIB
EDUKASI : Pj Ketua TP-PKK Windy Prihastari didampingi ketua organisasi wanita jajaran Forkopimda Kalbar, memberikan edukasi gizi di Posyandu Mekar Rindang, Kabupaten Kubu Raya, Jumat (8/12).
EDUKASI : Pj Ketua TP-PKK Windy Prihastari didampingi ketua organisasi wanita jajaran Forkopimda Kalbar, memberikan edukasi gizi di Posyandu Mekar Rindang, Kabupaten Kubu Raya, Jumat (8/12).

 

PONTIANAK - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat (Kalbar) terus berupaya menurunkan angka prevalensi stunting di provinsi ini lewat berbagai program.

Salah satunya, dengan memulai penerapan program inovasi Sinergitas Wanita Dalam Peningkatan Pengetahuan Gizi Keluarga, Ibu dan Remaja Putri atau disingkat (Sinita Penjaga Ibu Jari).

Program yang diinisiasi oleh Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kalbar itu dimulai dengan pelaksanaan di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Mekar Rindang, Desa Ambawang Kuala, Kecamatan Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Jumat (8/12) sore. 

Dimana dalam penerapannya, inovasi tersebut akan membangun sinergitas antar berbagai organisasi wanita dari istri jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) tingkat provinsi.

Mulai dari TP-PKK Kalbar, Persit Kartika Chandra Kirana Daerah XII/Tanjungpura, Bhayangkari Kalbar, Ikatan Adhyaksa Dharmakarini Wilayah Kalbar, Korcab XII Jalasenastri Armada I, PIA Ardhya Garini Cabang 19/D.I Lanud Supadio, dan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kalbar, serta menghadirkan dokter spesialis gizi dan anak.

Penjabat (Pj) Gubernur Kalbar Harisson yang hadir membuka program tersebut, memberikan apresiasi atas keterlibatan semua pihak, dalam implementasi inovasi Sinita Penjaga Ibu Jari. 

Ia berharap lewat inovasi tersebut menjadi upaya untuk menurunkan angka prevalensi stunting. Sehingga mampu mengejar target penurunan stunting yang ditetapkan pemerintah pusat pada 2024 mendatang. 

“Pemberian makanan bergizi seimbang menjadi faktor paling penting dalam upaya pencegahan stunting. Banyak masyarakat yang belum memahami hal tersebut,” ungkapnya.

Untuk itu, Harisson meminta komitmen semua pihak untuk merapatkan barisan, dan bergerak bersama secara keroyokan mengatasi masalah kesehatan di Kalbar, termasuk stunting. 

Lewat kick off inovasi Sinita Penjaga Ibu Jari tersebut diharapkan menjadi momentum untuk bersama-sama mengambil peran peduli, dan berupaya terhadap penurunan, serta pencegahan stunting di Kalbar.

“Dengan berkolaborasi optimal seluruh stakeholder, maka upaya pemerintah untuk menurunkan stunting menjadi 14 persen (2024) betul-betul (bisa) terwujud,” harapnya.

Mantan Kepala Dinas Kesehatan Kalbar itu juga berharap, kader-kader Posyandu dapat terus bergerak, untuk mengambil peran aktif membantu pemerintah dalam menurunkan prevalensi stunting.

Kader Posyandu menurutnya sebagai ujung tombak pemerintah di tingkat desa, dan kelurahan.

“Yang bisa membantu memberikan edukasi kepada masyarakat terkait masalah kesehatan, dan gizi,” katanya. 

Karena seperti diketahui, salah satu yang menjadi arahan presiden untuk para Pj kepala daerah se-Indonesia adalah penanganan stunting.

Dan salah satu cara yang dinilai efektif adalah dengan langsung memberikan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) kepada bayi, atau balita di Posyandu.

Di tempat yang sama, Pj Ketua TP-PKK Kalbar Windy Prihastari mengungkapkan lewat kick off program Sinita Penjaga Ibu Jari tersebut, maka akan semakin terbangun sinergi, dan koordinasi antar berbagai organisasi wanita yang ada di Kalbar.

Terutama dengan menghadirkan kegiatan bersama dalam upaya edukasi gizi yang lebih maksimal. 

“Inovasi Sinita Penjaga Ibu Jari ini merupakan inisiasi dari TP-PKK Kalbar yang ingin mengajak sinergitas organisasi-organisasi wanita yang ada di Kalbar dalam penurunan angka stunting,” ujarnya. 

Dalam penerapan program inovasi tersebut, Windy menjelaskan akan dilakukan edukasi gizi dengan berkeliling ke Posyandu-Posyandu yang ada di seluruh kabupaten/kota se-Kalbar. 

Juga memberikan makanan tambahan atau MPASI kepada bayi atau balita di Posyandu. Serta melakukan demo memasak MPASI yang tepat gizi. 

Terutama tiga komponen penting yang harus terkandung di dalam MPASI disebutkan dia, yakni karbohidrat, protein hewani dan lemak. 

“Sehingga anak-anak dapat dipastikan mendapatkan asupan gizi yang cukup dalam upaya mencegah stunting. Memang kegiatan ini harus dilakukan secara bersama-sama untuk mendapatkan hasil yang terbaik,” harapnya. 

Windy menambahkan, setelah kick off yang dilakukan di Posyandu Mekar Rindang, Kabupaten Kubu Raya, selanjutnya akan dilanjutkan dengan kegiatan serupa di sejumlah kabupaten/kota.

Diantaranya di Kota Pontianak, Kabupaten Mempawah, serta kabupaten/kota lainnya yang belum dikunjungi. 

“Kami inginkan semua bersama-sama bersinergi dengan organisasi istri Forkopimda untuk menurunkan angka stunting,” terangnya. 

Selain inovasi Sinita Penjaga Ibu Jari, Windy yang juga selaku Ketua Pembina Posyandu Kalbar itu, tengah mempersiapkan program pendampingan Posyandu.

Terutama pada daerah-daerah yang memiliki anak stunting di seluruh kabupaten/kota di Kalbar. Pendampingan yang diberikan adalah untuk memastikan anak-anak tersebut mendapatkan gizi yang cukup. 

Selain pendampingan, pihaknya juga akan selalu melakukan monitoring, sebagai bahan evaluasi untuk menentukan kebijakan selanjutnya.

Terutama dalam membantu pemerintah daerah untuk mencapai target percepatan penurunan stunting pada 2024 mendatang.

 “Misalnya di satu kabupaten/kota kami konsen pada satu Posyandu, kami dampingi terus anak stunting di sana, dan itu harus dilakukan selama tiga bulan untuk memastikan mereka diberikan makanan tepat gizi,” pungkasnya.

Seperti diketahui, terkait angka prevalensi stunting Kalbar, dari data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), angkanya masih sebesar 27,8.

Sedikit mengalami penurunan dibanding angka tahun 2021 yang sebesar 29,8. Untuk itu, Pemprov Kalbar bersama berbagai pihak berupaya menurunkan angka prevalensi stunting agar bisa mendukung target nasional sebesar 14 persen pada 2024 mendatang. (bar)

 

Editor : A'an
#stunting #kalbar #pemprov kalbar #program inovasi #Sinita Penjaga Ibu Jari