Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Pameran Seni Wajah Kartini, Wadah Seniman di Kalbar Ekspresikan Sosok Perempuan Masa Kini

Syahriani Siregar • Selasa, 30 April 2024 | 11:42 WIB

Pameran Wajah Kartini, yang digelar di Port 99 Pontianak, 22-28 April.
Pameran Wajah Kartini, yang digelar di Port 99 Pontianak, 22-28 April.
Sebanyak 15 seniman perempuan dan satu kolektif dari Lapas Perempuan Pontianak memamerkan hasil karya seni mereka yang dirangkum dalam pameran bertajuk ‘Wajah Kartini’. Lewat karya tersebut, para seniman menggambarkan perempuan dengan segala persepsi dan peran yang melekat padanya. 

Oleh : Siti Sulbiyah

Sejumlah pengunjung tampak antusias menikmati setiap karya yang dipamerkan dalam Pameran Wajah Kartini, yang digelar di Port 99. Pameran itu dilaksanakan sejak 22 April 2024, dan akan berakhir pada 28 April. Sebanyak 19 karya dari seniman perempuan di Kalimantan Barat hadir di pameran ini. 

Karya tersebut cukup beragam. Ada lukisan, sketsa, hiasan dari rajutan, kain tenun, dan beberapa karya dengan konsep mix media. 

Pameran ini tak lain sebagai cara untuk memperingati Hari Kartini. Tak sama dengan peringatan pada umumnya, seremonial dan pemakaian sanggul dan kebaya. Lewat pameran ini, seniman perempuan di Kalbar ingin memberikan perspektif yang lebih luas dan lebih kompleks daripada itu semua. 

“Ada segi-segi kebiasaan hidup yang terbangun secara politik, ekonomi, sosial dan budaya. Ini adalah tentang bagaimana kita memandang dan merespon perubahan-perubahan yang terjadi dan dihadapi oleh sosok-sosok Kartini masa kini, dengan berbagai kenyataan hidup yang mereka hadapi,” tulis Hera Yulita Kurator dari pameran ini. 

Salah satu karya yang dihadirkan adalah rajutan bunga matahari. Sang pembuat, Rizki Utami mengatakan karya ini diberi nama Imperfectly Bloom. Ada 11 bunga matahari dengan ukuran besar dan lima berukuran kecil. Bagian putik ia beri warna coklat. Sementara mahkotanya ia beri warna yang bervariasi. Ada merah, oranye, kuning, bahkan hijau. 

Bunga matahari sebenarnya memiliki mahkota berwarna kuning. Namun, Rizki memilih untuk mengkombinasikan warna kuning dengan warna lainnya. “Saya sebenarnya mau seragam, kuning semua, atau oren semua. tapi benangnya habis, sehingga saya menggunakan benang sisa,” ucapnya kepada Pontianak Post.

Ia tak mau boros dalam menggunakan bahan baku. Dengan warna-warna yang berbeda menurutnya tidak masalah. Karena itu jagalah ia menamai karya ini sebagai Imperfectly Bloom. 

“Menurut saya (karya) ini tidak sempurna. Dan setiap kelopaknya itu secara tidak sengaja ada saja bagian yang tidak sesuai.  Tapi di situlah idenya menerima apapun bentuknya, yang penting ini selesai,” katanya. 

Karya ini ia persembahkan untuk sang buah hati. Bunga matahari besar yang berjumlah sebelas menunjukkan bulan kelahiran anaknya, sementara lima yang ukuran kecil adalah tanggal lahir anaknya. 

Imperfectly Bloom menggambarkan tentang refleksi bagaimana umumnya masyarakat melihat kecantikan dengan standar yang sempurna, yang kerap mengesampingkan keberagaman dalam segala bentuknya. Padahal, perempuan dapat menerima ia sendiri dengan apa adanya.

“Perempuan bisa mengapresiasi karya sendiri, menerima diri sendiri yang tidak sempurna ini,” tuturnya.

Baginya, Hari Kartini adalah sebuah peringatan di mana perempuan bisa mengekspresikan diri kita dalam bentuk apapun tanpa dibatasi dengan pandangan masyarakat. “Di sini kita bebas mengekspresikan apa yang ada di pikiran kita, apa yang ada di dalam diri kita sebagai sebuah karya,” tuturnya. 

Dwi Hadi Eka, membuat karya berupa lukisan kartini dengan latar belakang perempuan-perempuan dari berbagai profesi. Lukisan ini menggambarkan bahwa, perempuan bisa memiliki cita-cita tinggi dan menjadi apapun yang disukai. Profesi yang ia tekankan di gambarnya itu terutama profesi yang banyak didominasi oleh laki-laki.

“Banyak profesi yang kayak menuntut harus laki-laki. di sini saya menjelaskan bahwa perempuan bisa menjadi apapun yang ia mau, dengan mimpinya, dan tekad tingginya,” tuturnya.

Lukisan ini juga untuk menyemangati diri sendiri yang semoga bisa menguatkan perempuan-perempuan lain untuk juga percaya dengan apapun yang mereka impikan. Lukisan ini ia namakan Lalita. Dalam bahasa Sansekerta, Lalita bermakna indah atau menawan. Di sini, ia ingin menunjukkan bahwa wanita itu indah dan menawan.

Tasya Nabila dengan karyanya berjudul Wanita Tangguh dan Generasinya. Ini menggambarkan pengalaman hidup dan perjuangan perempuan dalam berbagai sudut pandang dan ruang juangnya, dengan perannya mencetak generasi-generasi tangguh selanjutnya. 

Melalui lukisan ini, ia menggambarkan bahwa wanita tangguh bukan hanya dilihat dari fisiknya. Wanita tangguh adalah yang bisa survive sampai detik ini. 

“Dari dia ketemu ujian setiap harinya, sampai dia bisa bertahan sampai sekarang, itulah wanita tangguh,” ucapnya.

Pemeran yang digelar oleh Gantari Nawasena Society juga menampilkan hasil karya perempuan yang merupakan penghuni Lapas Perempuan Pontianak. Desi, dari  Gantari Nawasena Society mengatakan kegiatan ini juga merupakan bentuk apresiasi terhadap para penghuni lapas perempuan. 

“Ada beberapa karya sketsa dari perempuan di Lapas. Lalu ide ini kita matching-kan dengan para seniman-seniman perempuan,” terangnya. 

Sebagian besar karya perempuan di Lapas tersebut menggambarkan tentang mengekspresikan dan emosi yang mereka rasakan sebagai perempuan penghuni Lapas. 

“Mereka ini tidak terbiasa mengungkapkan perasaan. Jadi ini menjadi wadah mereka untuk mengekspresikan,” tuturnya. **

Editor : Syahriani Siregar
#Hari Kartini 2024 #pameran seni #Seniman Perempuan