Ritual ini menandakan Pekan Gawai Dayak siap menerima tamu yang akan hadir dalam pesta panen padi tersebut.
Ritual Ngampar Bide’ dipimpin Penyengahtan Aren dari Binua Tanyukng, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak. Ada dua tahap dalam prosesi ritual Ngampar Bide’ tersebut.
Tahap pertama yaitu Nyangahatn Manta’ yang dimaksudkan sebagai pembukaan dalam prosesi tersebut.
Setelah itu dilanjutkan dengan prosesi Nyangahatn Masak, yang dimaksudkan untuk memberikan persembahan kepada Jubata.
“Ini jadi bagian cara mengungkapkan syukur sekaligus minta perlindungan kepada Jubata untuk kegiatan yang akan dilaksanakan,” kata Koordinator Upacara Ritual Pekan Gawai Dayak 2024, Sumadi di Pontianak, kemarin.
Sumadi menambahkan, Ngampar Bide’ ini sebagai bagian dari melestarikan adat budaya Dayak, terutama jika melaksanakan kegiatan seperti gawai atau pesta adat lainnya.
“Ritual ini sebagai tanda orang yang melaksanakan kegiatan siap menerima tamu yang datang,” kata Sumadi.
Tamu yang datang dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh-tokoh hingga orang-orang kebanyakan.
Bukan itu saja, ia melanjutkan, kegiatan tersebut juga sebagai bentuk meminta perlindungan Jubata agar seluruh kegiatan berjalan dengan baik dan lancar.
“Minta pertolongan Jubata agar tidak ada yang mengganggu kegiatan selama Gawai Dayak berlangsung,” kata Sumadi.
Ritual Ngampar Bide ini menjadi ritual adat masyarakat suku Dayak sebelum dimulainya pekan gawai atau pesta panen padi.
Dilaksanakan untuk meminta izin kepada Sang Penguasa Alam, Jubata (Tuhan) dan leluhur, agar pelaksanaan pekan budaya itu bisa berlangsung lancar dan tanpa hambatan.
Ngampar Bide’ memiliki makna menggelar atau memghampar tikar sebagai tanda siap menerima tamu yang datang.
Di depan Penyangahatn tersedia berbagai sesajen sebagai persembahan menurut kepercayaan leluhur masyarakat tradisional suku Dayak.
Semua orang berharap, Pekan Gawai Dayak 2024 bisa berjalan dengan lancar. (mnk)
Editor : Syahriani Siregar