Kualitas udara Kota Khatulistiwa bahkan sempat menyentuh level berbahaya pada Kamis (25/7) dini hari.
Efek kebakaran lahan kian terasa di Kota Pontianak sejak Selasa (23/7). Asap sudah menyesakkan dada pada sore hari.
Aromanya juga masuk ke dalam rumah, meski pintu dalam keadaan tertutup. Pada malam hari, lampu-lampu kota terhalang asap yang menyelimuti.
Memasuki Rabu (24/7) ternyata kondisinya semakin parah. Kabut asap semakin tebal.
Malam itu, jarak pandang menjadi semakin pendek.
Menurut data Stasiun AQMS di Kecamatan Pontianak Tenggara dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak, konsentrasi partikulat (PM2.5) telah melewati kategori sangat tidak sehat atau mencapai 178 µgram/m3 pada pukul 19.00 Wib Selasa (22/7) malam.
Sementara pada Rabu (23/7) malam, puncak konsentrasi partikulat pada pukul 23.00 WIB mencapai 135 µgram/m3.
Kualitas udara Kota Pontianak semakin buruk pada Kamis (25/7) dini hari hingga mencapai kategori berbahaya pada pukul 4.00 WIB dengan konsentrasi partikulat mencapai 347 µgram/m3.
“Saat ini kualitas udara Kota Pontianak terjadi penurunan terutama pada malam sejak tanggal 18 Juli kemarin. Tetapi pada Kamis (25/7) pukul 4.00 WIB subuh tercatat di data kami ini cukup tinggi. Artinya material partikulat yang ada di udara pada posisi berbahaya,” tegas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak, Syarif Usmulyono ditemui di ruang kerjanya, Kamis (24/7).
Usmulyono mengatakan, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Pontianak secara umum pada posisi kuning.
Rata-rata ISPU di angka 137. Angka itu menunjukkan rata-rata kualitas udara di Kota Pontianak tidak sehat.
“Pada hari-hari sebelumnya, puncaknya juga pada dini hari namun tidak sebesar hari ini. Tapi dini hari tadi terjadi puncaknya. Level sangat berbahaya ini kenapa terjadi seperti ini, sesuai dengan informasi yang kami dapat terjadi beberapa titik kebakaran lahan yang berada di tetangga kita Mempawah dan Kubu Raya,” kata dia.
Sementara di Kota Pontianak, menurutnya sampai saat ini belum terjadi kebakaran hutan dan lahan.
Titik api sudah ada akan tetapi dapat cepat dipadamkan. Pj Wali Kota Pontianak menurutnya sudah menginstruksikan kepada tim yang dibentuk untuk bersiaga di posko.
Posko itu berada di daerah rawan kebakaran lahan, yakni di Kecamatan Pontianak Tenggara, Pontianak Utara dan Pontianak Selatan.
“Nah, jadi kalau kondisi kualitas udara saat ini, masih murni kiriman. Karena udara ini tergantung tekanan udara dan arah angin. Kebetulan arah angin mungkin pada saat tadi subuh ini mengarah ke Kota Pontianak,” ungkap Usmulyono.
Usmulyono pun mengimbau masyarakat untuk tidak keluar rumah pada malam hari, jika tidak ada kepentingan.
Apabila masyarakat terpaksa harus keluar rumah karena kebutuhan yang mendesak, hendaknya selalu menggunakan masker.
Selain itu, ia juga mengajak masyarakat untuk tidak membakar sampah, apalagi membakar lahan.
“Lalu yang selanjutnya banyak-banyak minum air putih hangat. Karena ini mungkin sudah mulai bahaya dehidrasi terjadi akibat cuaca panas. Mungkin kita sudah mulai mengonsumsi ataupun menyerap udara yang cukup jelek,” imbaunya.
Penurunan kualitas udara juga terjadi di Kabupaten Kubu Raya dan Mempawah. Berdasarkan data Kualitas Udara Konsentrasi Partikulat PM2.5 BMKG Kalimantan Barat, dua wilayah itu sempat mengalami kondisi tidak sehat pada Kamis (25/7) pada jam tertentu.
Koordinator Data dan Informasi Stasiun Meteorologi kelas I Supadio Pontianak, Sutikno mengungkapkan penurunan kualitas udara itu berfluktuasi pada waktu tertentu di setiap wilayahnya.
Konsentrasi partikulat Kabupaten Mempawah di sekitar wilayah Jungkat mencapai puncaknya dengan nilai 290,40 µgram/m3 pada Kamis (25/7) Pukul 7.00 WIB pagi. Angka itu masuk dalam kategori berbahaya.
Sementara konsentrasi partikulat Kabupaten Kubu Raya di sekitar wilayah Sungai Raya mencapai puncaknya pada Kamis (25/7) pukul 3.00 WIB dengan nilai 179 µgram/m3. Angka itu menunjukkan kategori sangat tidak sehat.
"Jadi nilainya bervariasi karena arah angin. Sebenarnya titik yang terbakar itu yang saat ini besar kan di sekitar Punggur. Jadi kalau misal pas anginnya itu menuju ke arah timur, itu Kota Pontianak kena. Karena anginnya itu berfluktuasi,” terang Soetikno di Sungai Raya saat dihubungi Pontianak Post.
Titik Panas Bertambah
Berdasarkan deteksi titik panas menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit Polar (NOAA20, S-NPP, TERRA dan AQUA) diperoleh gambaran lokasi wilayah yang mengalami kebakaran hutan/lahan.
Dari data pantauan pada Rabu (24/7) Pukul 00.00 hingga pukul 23.00 WIB, titik panas di Kalimantan Barat mencapai 271 titik. Tingkat kepercayaan rendah satu titik, titik kepercayaan menengah 231 titik dan titik kepercayaan tinggi 39 titik.
Titik panas dengan kepercayaan tinggi itu berada di Kabupaten Sambas dengan dua titik, Sanggau 16 titik, Ketapang satu titik, Sintang lima titik, Bengkayang empat titik, Landak dua titik, Sekadau tujuh titik dan Kubu Raya dua titik.
Kemudian untuk kondisi cuaca esok hari, wilayah Kalimantan Barat masih diperkirakan dominan cerah hingga berawan dan berpotensi terjadi penurunan jarak pandang, khususnya pada malam hingga dini hari.
“Untuk potensi kemudahan kebakaran hutan dan lahan, dalam satu minggu ke depan, wilayah Kalbar masih berada pada kategori mudah hingga sangat mudah terbakar. Jadi kami imbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” ungkap Soetikno. (mif)
Editor : Syahriani Siregar