Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pertanian Gambut Pontianak Utara Terjepit Kebakaran dan Banjir

Syahriani Siregar • Jumat, 18 Oktober 2024 | 15:53 WIB
Seorang petani perempuan melakukan perawatan di lahan sayur miliknya. Tepat di belakangnya, ada bekas area terbakar. Kebakaran tersebut terjadi pada awal September 2024.
Seorang petani perempuan melakukan perawatan di lahan sayur miliknya. Tepat di belakangnya, ada bekas area terbakar. Kebakaran tersebut terjadi pada awal September 2024.

Kawasan Pontianak Utara memiliki potensi pertanian di lahan gambut yang signifikan. Namun, para petani di lahan gambut menghadapi sejumlah tantangan. Saat musim kemarau, mereka menghadapi ancaman kebakaran lahan. Sementara, ancaman gagal panen melanda saat musim hujan tiba. Persoalan alih fungsi dan ekspansi lahan turut menjadi ancaman.  

SITI SULBIYAH, Pontianak

Betapa terkejut Surahman (38) melihat api menyala begitu tinggi di sebuah lahan kosong tak jauh dari lahan sayur miliknya. Jarak antara lokasi terbakar dengan lahan miliknya hanya sekitar 50 meter. Kekhawatirannya begitu besar mengingat lahan di area tersebut bergambut yang punya kecenderungan lebih mudah terbakar.

“Panik juga saat itu, karena waktu itu hujan lama tidak turun,” ungkap Surahman, menceritakan peristiwa yang terjadi pada awal September 2024 lalu.

Peristiwa itu terjadi di Jalan Dharma Putra Dalam, Kelurahan Siantan hilir, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Surahman adalah warga sekitar yang sehari-hari menanam sayur, sebagaimana pekerjaan banyak warga lainnya di daerah itu. 

Beruntung api tak merembet ke lahan di sekitarnya. Warga sekitar dan tim Rangers Gambut bekerja sama membuat garis api agar si jago merah tak menjalar kemana-mana. Api memang tampak terlihat padam, namun asap masih tampak keluar dari dasar tanah. Ini mengindikasikan bahwa api berpotensi kembali muncul dan berpotensi merembet lebih luas.

“Beruntung setelah itu ada hujan, api benar-benar padam,” ucapnya. 

Peta Kawasan Gambut Kota Pontianak
Peta Kawasan Gambut Kota Pontianak

 

Satu bulan sebelumnya, lahan sayur di Kampung Gambut Siantan Hilir juga dilanda genangan pasca hujan yang tidak berhenti seharian. Genangan setinggi kira-kira 30 cm tersebut membuat berhektare-hektare tanaman sayur alami gagal panen. 

“Banjir bulan Agustus kemarin, sampai gagal panen kami,” kata Besna (33), petani perempuan di Kampung Gambut Siantan Hilir, ketika ditemui Pontianak Post awal Oktober lalu.

 Lahan sayur dengan belasan galangan miliknya itu gagal total. Ia pun harus menderita kerugian. “(Genangan) tinggi tidak bisa panen, air di atas mata kaki. Semua sayuran ketutup air,” katanya. 

Marsuli (78) juga mengalami kerugian yang begitu besar karena banjir yang terjadi pada awal bulan Agustus tersebut. Satu kapling lahan miliknya tergenang dan gagal panen. “Rugi kira-kira bisa sampai Rp3 juta satu kapling,” katanya. 

Petani di kawasan pertanian Kecamatan Pontianak Utara memanfaatkan lahan gambut untuk bercocok tanam. Tercatat pada tahun 2017 menurut data BPS Pontianak, luas lahan pertanian bukan sawah di kecamatan ini mencapai 2.073 hektare.

Dikenal dengan sentra pertanian, beragam jenis sayuran diproduksi di sini untuk memasok kebutuhan pangan di Kota Pontianak dan kabupaten di sekitarnya. Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak mendata produksi sayur mencapai 15-35 ton per hari. Beberapa jenis sayur yang diproduksi oleh petani adalah kangkung, sawi, dan bayam. Ini adalah tiga terbesar produksi sayur yang dihasilkan dari sentra pertanian Pontianak Utara. 

 

Photo
Photo

Kecamatan Pontianak Utara, yang terletak di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, dikenal dengan keberadaan lahan gambutnya yang luas. Kawasan ini memiliki potensi pertanian yang signifikan. Namun, para petani di lahan gambut menghadapi sejumlah tantangan. Saat musim kemarau, mereka menghadapi ancaman kebakaran lahan gambut. Saat musim hujan tiba, ancaman gagal panen melanda. 

Catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pontianak, hingga Agustus 2024 terdapat 11 kejadian kebakaran lahan dengan total luas lahan yang terbakar sebesar 1,33 Hektare. 

Kerusakan lahan gambut menjadi ancaman paling nyata lantaran adanya potensi terbakar hingga ekspansi lahan. Irwan, petani sekaligus Ketua RW 33 Kelurahan Siantan Hilir mengatakan perilaku masyarakat pada satu dekade sebelumnya telah memberikan dampak negatif lahan gambut di wilayah tersebut. 

Lahan gambut terancam oleh aktivitas manusia karena ekspansi lahan. “Dulu saya ini termasuk pelaku (pembakaran gambut),” tutur Irwan. 

Ia menceritakan lebih dari satu dekade yang lalu, perambahan lahan gambut untuk keperluan pertanian dan bangunan meluas tanpa mengedepankan fungsi konservasi kawasan. 

“Sebelum tahun 2013, kami membakar lahan dan menebang hutan. Dulu ekspansi besar-besaran. Dampak yang sangat signifikan sekarang-sekarang ini, ternyata saat ini kami benar-benar memerlukan hutan (gambut) tersebut,” terangnya.

Citra Satelit area hutan yang terbakar pada tahun 2021 (kiri) dan kondisi saat ini (kanan). Terlihat lahan yang telah terbakar kini telah tampak ditumbuhi tanaman.
Citra Satelit area hutan yang terbakar pada tahun 2021 (kiri) dan kondisi saat ini (kanan). Terlihat lahan yang telah terbakar kini telah tampak ditumbuhi tanaman.

Ancaman terhadap ekspansi lahan gambut hingga saat ini bisa saja terjadi. Selain itu, alih fungsi lahan syur menjadi perkebunan atau perumahan juga sangat mungkin dilakukan. Terlebih, sebagian petani tidak mendapat hasil yang signifikan dari aktivitas bertanam sayur. 

Seperti yang terjadi saat ini. Harga sawi hijau hanya Rp3.000 per kg di tingkat petani. Kalau dijual segini, petani justru mengalami kerugian. Ongkos produksi juga tak tertutup. “Sekarang pun pupuk mahal,” kata Murai (63), petani di Kecamatan Siantan Hilir. 

Kalau mau untung, harga sawi menurut Murai setidaknya dibeli dengan harga Rp 7000-8000 per kg. “Tapi sekarang rata-rata Rp5.000, untung kecil kalau ini,” keluhnya. 

Besna (33) juga merasakan demikian. Wanita yang sejak bangku sekolah dasar sudah ikut bercocok tanam itu juga merasakan fluktuasi harga komoditas sayur. “Sekarang satu ikat (bayam) Rp1.000, bahkan kadang tidak sampai Rp1.000,” katanya.

Harga tersebut dinilai tidak memberikan keuntungan sama sekali. Idealnya, satu ikat bayam dijual dengan harga Rp2.500. 

Ketua RW 33, Irwan mengatakan harga yang rendah memang menjadi kekhawatiran petani. Bukan tidak mungkin, kata dia, harga sayur yang murah membuat petani enggan bercocok tanam dan membuat mereka beralih ke komoditas lain seperti kelapa sawit. Keberadaan kebun sawit tentunya akan merusak ekosistem gambut.

“Di sekitar kami ini ada sebidang lahan sawit, tapi di kanan kirinya kurang bagus untuk menanam tanaman lain,” kata Irwan.

Petani juga khawatir dengan adanya perkebunan sawit milik korporasi di kabupaten penyanggah. Jaraknya hanya sekitar 3 km dari sentra pertanian.

Irwan menceritakan beberapa tahun yang lalu pernah didatangi seseorang yang mengaku dari pihak perusahaan sawit terdekat. Mereka berniat meminta agar parit yang mengaliri wilayah pertanian untuk ditutup. Mereka menawarkan sejumlah uang tunai. 

“Tahun 2021, saya pernah disodori uang untuk menebus parit ini,” tuturnya. 

Namun, ia menolak karena hal tersebut bisa berdampak buruk bagi pengairan di lahan gambut di tempat tinggalnya. Terlebih 75 persen warga Kuat Sihir menggantungkan hidupnya dari hasil berkebun sayur-sayuran.

Plt Kepala Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak, Muchamad Yamin mengakui adanya keluhan petani dengan keberadaan kebun sawit perbatasan antara Kota Pontianak dan Kabupaten Mempawah. Menurutnya, meskipun efek negatifnya tidak langsung terlihat, petani mulai merasakan perubahan ketika aliran air di daerah tersebut tiba-tiba meningkat.

“Ini analisis sementara kita, bahwa itu (ekspansi perkebunan sawit) mungkin penyebabnya, karena banyak lahan sawit di sana,” tuturnya.

Namun ia menegaskan bahwa hal ini perlu dilakukan penelitian secara jangka panjang untuk menentukan apakah ekspansi perkebunan kelapa sawit benar-benar memiliki implikasi yang signifikan terhadap kondisi lingkungan, terutama pada wilayah pertanian. 

PERINGATAN : Terdapat tanda peringatan larangan untuk membakar lahan gambut di Kampung Gambut Siantan Hilir, Kota Pontianak.
PERINGATAN : Terdapat tanda peringatan larangan untuk membakar lahan gambut di Kampung Gambut Siantan Hilir, Kota Pontianak.

 

Selain perkebunan sawit, ekspansi properti di kawasan Pontianak Utara juga menjadi kekhawatiran petani. Yamin mengatakan ekspansi properti yang semakin tinggi merupakan masalah umum di perkotaan, termasuk di Kota Pontianak. 

“Memang hal ini menyebabkan lahan pertanian kita semakin hari semakin menyempit,” tuturnya.

Pihaknya mengklaim melakukan berbagai upaya pembinaan kepada petani, serta memberikan bantuan pertanian baik dari pusat, provinsi maupun dari APBD Kota Pontianak. Bantuan tersebut seperti bantu bibit, jalan tani, tanah, pupuk, dan lain sebagainya.

“Kita mencoba mempertahankan supaya Kota Pontianak menjadi lumbung sayuran,” ujarnya.

 Konservasi Gambut hingga Penggunaan Kompos

Kampung Gambut Siantan Hilir (Kuat Sihir) merupakan nama dari sebuah wilayah pertanian lahan gambut yang ada di Kelurahan Siantan Hilir, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat. 

Bagi warga Kuat Sihir, keberadaan hutan di lahan gambut saat ini sangatlah penting. Sebab, keberadaan hutan gambut memainkan peran sebagai penyimpan air. Di musim kemarau, tanah gambut melepaskan air secara perlahan-lahan untuk menyediakan pasokan air yang sangat dibutuhkan oleh lahan sayuran milik petani.

Selain itu, gambut punya daya serap dan tampung air yang tinggi. Lahan gambut dapat menyerap dan menyimpan air hujan dalam jumlah besar, sehingga mencegah banjir atau genangan di musim hujan. 

Irwan mengatakan hingga saat ini genangan memang masih terjadi terutama ketika intensitas hujan tinggi. Tapi, bedanya dengan dulu, air lebih cepat surut. “Sekarang kalaupun ada genangan cepat surutnya,” tuturnya.

Apalagi saat ini warga di kampung ini sigap apabila ada saluran yang mampet. “Seringnya kami tim menjaga irigasi yang ada di sekitar, parit-parit dibersihkan salurannya,” tuturnya.

Masyarakat petani di kampung ini membuat lembaga sosial bernama Badan Usaha Milik (BUM) RW 33. Lembaga sosial yang dibentuk pada 24 Oktober 2019 tersebut berperan sebagai pengendali sosial, ekonomi, dan lingkungan. Salah satu program yang digalakkan adalah penggunaan pupuk kompos.

“kami mencoba menggunakan pupuk kompos 70 persen. Ke depan kami berencana agar penggunaannya bisa 100 persen,” kata Irwan.

Menambahkan kompos atau pupuk organik diyakini Irwan akan meningkatkan kesuburan lahan gambut dengan memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan penyerapan air. Hal ini juga mendukung pertumbuhan tanaman yang lebih sehat.

Program lain yang dijalankan oleh lembaga adalah konservasi lahan gambut. BUM-RW 33 membagi lahan gambut menjadi dua kategori utama, yakni lahan produksi dan lahan konservasi. Mereka membiarkan lahan konservasi untuk ditumbuhi berbagai jenis tanaman liar yang bertujuan untuk mengembalikan lahan gambut ke kondisi alaminya, serta membentuk hutan sederhana, meski pepohonannya belum begitu rindang. 

Upaya ini dilakukan untuk memulihkan ekosistem yang telah mengalami kerusakan. Proses ini mencangkup perlindungan terhadap berbagai spesies flora dan fauna yang menghuni lahan gambut serta memastikan habitat mereka terjaga. 

Para perempuan di Kuat Sihit mengolah hasil pertanian menjadi berbagai produk seperti camilan dan minuman.
Para perempuan di Kuat Sihit mengolah hasil pertanian menjadi berbagai produk seperti camilan dan minuman.

Mitigasi kebakaran lahan juga dilakukan. Misalnya dengan membuat aturan dilarang membakar lahan terutama ketika musim kemarau. BUM-RW 33 membentuk Rangers Gambut yang salah satu tugasnya adalah adalah melakukan patroli pemantauan guna mencegah terjadinya kebakaran. 

Pontianak dikenal dengan salah satu kota terpanas di Indonesia. Irwan mengatakan, dua minggu saja tidak hujan pada musim kemarau, maka potensi munculnya api lebih besar.

“Saat kemarau satu minggu dua kali kami lakukan pengecekan,” ujarnya. 

Selain itu, pihaknya juga melakukan upaya penanaman di sekitar area hutan dengan aneka tanaman seperti pulai, pohon jelutung, matoa, durian, hingga trembesi. ”Kami juga meminta warga agar satu rumah menanam satu pohon,” imbuhnya. 

Misra’i, salah satu petani di Kuat Sihir menambahkan wilayah konservasi lahan gambut tidak boleh digunakan untuk peruntukan lain. Membiarkan kawasan ini tumbuh secara alami adalah langkah tepat untuk menjaga ekosistem tersebut. “Cara merawat hutan ini adalah cukup dibiarkan,” tambahnya.

Kembangkan Produk Pertanian

Berbagai tantangan yang dihadapi oleh petani di Kuat Sihir, tak menyurutkan mereka melakukan upaya-upaya berkelanjutan. Salah satunya dengan mengembangkan sektor usaha di luar pertanian, seperti usaha mikro kecil dan pariwisata. 

Para perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Pusaka Tanah Gambut di Kuat Sihir mengolah sebidang lahan untuk dikelola bersama. Hasil dari berkebun sayur, mereka jual untuk menambah pemasukan keluarga. Sebagian dari mereka memang tidak punya lahan pertanian milik pribadi sehingga bekerja pada orang lain. 

“Dari kecil sudah bertani, kadang ambil upah sama orang,” kata Eda, Ketua KWT Pusaka Tanah Gambut.

Beranggotakan tujuh orang perempuan, KWT Pusaka Tanah Gambut juga mengolah hasil pertanian mereka menjadi produk turunan yang bernilai ekonomis. Ada jus nanas, rengginang, keripik, hingga mie sayur. Produk ini masih dalam pengembangan. Para pembelinya adalah para pengunjung yang datang ke balai pertemuan BUM-RW 33. 

Pariwisata pertanian juga sedang mereka kembangkan. Ketua BUM-RW 33, Irwan mengatakan kawasan pertanian di lokasi ini menjadi potensi besar dalam menarik pengunjung yang ingin menikmati wisata panen sayur.

Wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam dan keunikan lahan gambut, tetapi juga mendapatkan wawasan tentang praktik pertanian berkelanjutan. “Mahasiswa juga sering datang ke sini untuk belajar di lapangan,” ujar Irwan.

Ia berharap tidak ada lagi ekspansi di lahan gambut di Kecamatan Siantan Hilir, terutama di Kuat Sihir. “Kami inginnya kawasan ini tetap dipertahankan sebagai kawasan pertanian,” pungkasnya. **

 

Editor : Syahriani Siregar
#petani #sayur #Pontianak Utara #sawit