PONTIANAK - Anggota DPRD Kabupaten Sanggau dari Partai NasDem, Zulkarnain angkat bicara terkait bencana banjir yang menggenangi ratusan rumah masyarakat di desa sosok dan sekitar, termasuk badan jalan nasional di Tayan Hulu di Kecamatan Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat.
Salah satu yang menjadi kekhawatirannya adalah konsesi lahan-lahan perkebunan sawit dampak pembukaan hutan beberapa waktu lalu secara massif. Sehingga solusi tegas mengatasi banjir saat musim penghujan datang belum ada sampai sekarang.
"Efek banjir harus diakui karena terjadinya pembukaan lahan hutan secara masif dari kebijakan terdahulu. Pembukanya untuk konsesi lahan-lahan perkebunan sawit di sekitar Kecamatan Tayan. Satu sisi resapan air di sana tidak terjadi secara maksimal," ucupnya kepada wartawan baru-baru ini di Sanggau.
Menurut Zulkarnain pembukaan hutan dan lahan kebun terdahulu secara massif, memang membawa efek positif dan negatif bagi daerah. Positif karena memang terjadi peningkatan ekonomi masyarakat sekitar perkebunan.
Namun negatifnya seperti sekarang, yakni menjadi isu kerusakan lingkungan dalam jangka panjang. Banjir yang dialami beberapa tahun belakangan, tetap akan diingat masyarakat di sana. Itu karena yang jadi korban langganan banjir adalah masyarakat setempat termasuk warga Kalbar ikut merasakan dampaknya.
Dia melanjutkan bahwa pembukaan hutan untuk kebun sawit memang tak melanggar aturan. Investor diperbolehkan menggarap, tentunya ketika sudah mengantongi izin-izin lengkap. Izin tersebut kebanyakan berasal dari pemerintah pusat. Namun, ketika bencana datang, justru warga sekitar yang merasakan dampak langsung dan terberatnya.
Ketika terjadinya musim penghujan, sambung dia, air langsung turun ke dataran rendah tanpa terserap secara maksimal. Sementara sungai di sana tak mampu menampung curah hujan yang masuk kategori ekstrim. Sehingga ketika terjadi luapan air, langsung masuk ke pemukiman warga, fasilitas publik. Aktivitas ratusan hingga ribuan masyarakat terhenti dan terkonsentrasi dengan banjir ini.
Politisi NasDem ini menyarankan dalam kondisi sekarang pemerintah harus terus mengulurkan bantuan dalam mengatasi banjir dan pencegahan dampak ikutannya. Ke depan salah satu usulannya adalah apakah bisa direboisasi kembali atau dihijaukan lahan-lahan bekas kebun sawit. Sebab sampai sekarang juga solusi mengatasi banjir di wilayah terberat di Kabupaten Sanggau ini, tak pernah muncul.
"Jarang ada solusi nyata. Hanya bisa manfaatkan CSR perusahaan sekitar di wilayah banjir. Bahu-membahu memberikan sumbangsih kepada korban-korban terdampak banjir di sana. Harapan saya CSR perusahaan dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin," tukasnya.
Zulkarnain melanjutkan bahwa wilayah rendaman air di sosok memang beberapa waktu belakangan sudah menjadi langganan banjir. Sungai setempat, juga jadi saksi bagaimana banjir-banjir terdahulu terjadi di sana. Hujan kategori ekstrim dan turun terus menerus menjadi penyebab utama. Belakangan gundulnya hutan untuk lahan-lahan sawit juga jadi salah satu pemicu utamanya.
Hanya saja, kata dia, paling parah adalah beberapa tahun belakangan. Ratusan rumah warga terendam air hingga 1 sampai 1,5 meter. Sampai badan-badan jalan negara menjadi lumpuh tak bisa terlewati kendaraan roda dua, empat dan enam. Paling parah adalah masyarakat setempat tidak bisa beraktivitas karena rumah-rumah mereka terendam air. (den)
Editor : A'an