PONTIANAK - Kalimantan Barat menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Kalimantan Barat. Acara ini bertujuan untuk melestarikan dan mempromosikan penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda, khususnya siswa Sekolah Dasar.
Puncak festival digelar Jumat (1/11) di Hotel Ibis. Acara ini dihadiri siswa dari berbagai sekolah dasar sebagai perwakilan dari beberapa kota dan kabupaten yang masuk dalam babak final perlombaan yang telah diselenggarakan. Sebelum masuk babak final, para siswa telah mengikuti seleksi secara online mewakili sekolah di masing-masing kota dan kabupaten yang ada di Kalimantan Barat.
Adapun perlombaan yang diselenggarakan adalah bertundang, pidato, melucu, mendongeng, dan berpantun. Perlombaan tersebut ditampilkan dengan menggunakan bahasa daerah. Para peserta lomba dari masing-masing sekolah memperebutkan posisi lima besar untuk bisa masuk ke babak Final. Kegiatan ini tidak hanya mengasah kemampuan bahasa, tetapi juga membangun rasa cinta terhadap kebudayaan lokal.
Pada acara puncak Festival Tunas Bahasa Ibu tahun ini, SD Negeri 17 Pontianak Utara berhasil masuk dalam Final Lomba pada dua cabang lomba, yaitu mendongeng dan berpantun, sebuah kesempatan emas bisa turut dalam memeriahkan bulan bahasa dan melestarikan budaya daerah. Najmuddin Kubro siswa kelas III dan Resca Nova siswa kelas VI berhasil masuk dalam final FTBI. Najmuddin merasa senang karena bisa masuk final mewakili sekolah dan kota,”Kamek senang bise masok final, walaupon deg-degan jugak, tapi nantik bise ilang pas dah mulai, kamek pon bangge bise ikot melestarikan bahase Melayu Pontianak melalui mendongeng ni, doekan ye semoge kamek menang,”tutur Najmuddin yang kerap disapa Ijam.
Begitu pula dengan Resca Nova, Siswa yang saat ini duduk dibangku kelas 6,”Alhamdulillah maseh ade kesempatan bawak name sekolah sebelom saye lulus nanti, saye pon bangge bise mempromosikan pantun ni same kawan-kawan, karne pantun ni rase nak redup di generasi mude, ayoklah budak-budak kite belajar bepantun, biar tadak ilang budaye bepantun kite,” ajak Resca dengan dialek Bahasa Melayu Pontianak.
Kepala SD Negeri 17 Pontianak Utara menuturkan,”Bangga kepada para siswa yang telah berusaha dan mau menjadi bagian dari generasi penerus dalam melestarikan budaya dan bahasa daerah, acara ini sangat menarik karena bisa memotivas generasi muda untuk terus melestarikan budaya dan bahasa daerah.”
Festival Tunas Bahasa Ibu tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sebagai momen untuk berkumpul dan bersilaturahmi, memperkuat rasa kebersamaan di antara pelajar. Dengan harapan, generasi muda Kalimantan Barat dapat menjadi penjaga dan penggerak bahasa dan budaya daerah di masa depan. Festival ini menjadi langkah konkret dalam usaha menjaga warisan budaya yang kaya dan beragam, sekaligus mendukung pendidikan yang inklusif dan berakar pada kearifan lokal. (mrd/r)
Editor : A'an