PONTIANAK - Sudah tiga hari banjir pesisir (rob) melanda sebagian Pontianak dan Kubu Raya. Bahkan hari ini, Rabu (20/11) diprakirakan pasang surut Pontianak sedikit lebih tinggi dari kemarin.
Berdasarkan pantauan Pontianak Post pada Selasa (19/11), banjir sudah memasuki perkantoran, sekolah hingga rumah warga dengan ketinggian bervariasi bergantung kondisi rumah masing-masing. Saat itu, pantauan data ketinggian atau water level Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kalbar pada Selasa (19/11) pukul 07.58 sudah mencapai 2.7 meter. Sekira pukul 10.34 WIB air mulai surut.
Masyarakat masih harus meningkatkan kewaspadaan, karena diprakirakan hari ini berpotensi lebih tinggi dari kemarin. Ketinggian air berdasarkan water level berada dalam kondisi waspada bila di atas 2,5 meter dan biasanya pada kondisi ini banyak rumah warga yang tergenang.
Kepala Stasiun Meteorologi Supadio Erika Mardiyanti ingatkan warga untuk meningkatkan waspada banjir pesisir hingga 22 November 2024. Pada periode tersebut, wilayah Kalimantan Barat berpotensi terjadi hujan intensitas sedang hingga lebat.
Erika mengatakan potensi hujan yang terjadi dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang berdurasi singkat. Pada tanggal 19 sampai dengan 22 November 2024, hujan lebat masih berpotensi terjadi di hampir seluruh wilayah Kalimantan Barat.
"Adanya fenomena Supermoon tanggal 16 November 2024 berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum,"ungkapnya.
Berdasarkan pantauan data water level dan prediksi pasang surut, banjir pesisir (rob) berpotensi terjadi di pesisir Kalimantan Barat pada periode tanggal 16 hingga 23 November 2024. Pasang air laut maksimum di sekitar wilayah Kendawangan, Ketapang berpotensi terjadi pada tanggal 16 hingga 21 November 2024 Pukul 10.00 sampai dengan 13.00 WIB.
Pasang air laut maksimum di sekitar wilayah Kota Pontianak berpotensi terjadi pada tanggal 19 hingga 23 November 2024 Pukul 09.00 sampai dengan pukul 13.00 WIB.
Gelombang diprakirakan juga mengalami peningkatan kategori Sedang yakni 1,25 hingga 2,5 meter pada tanggal 17 hingga 19 November 2024 di Laut Natuna Utara, Perairan Utara Kepulauan Anambas, Perairan Barat Kepulauan Natuna, dan Perairan Utara Kepulauan Natuna.
Pada periode tanggal 20 hingga 22 November 2024 gelombang kategori sedang berpotensi terjadi di Laut Natuna Utara, Perairan Selatan dan Utara Kepulauan Anambas, Perairan Barat dan Utara Kepulauan Natuna, Perairan Selatan Kepulauan Natuna hingga Pulau Midai, Perairan Kepulauan Subi-Serasan, dan Perairan Utara Sambas. Gelombang kategori tinggi 2,5 - 4.0 meter berpotensi terjadi di Laut Natuna Utara bagian Utara.
"Masyarakat diimbau agar tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem dan dampak bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi seperti banjir, banjir bandang, genangan, tanah longsor, pohon tumbang, angin kencang, dan sambaran petir," jelasnya.
Wilayah bertopografi curam/berbukit patut waspada potensi longsor dan banjir bandang pada saat terjadi hujan intensitas sedang-lebat bahkan ekstrem yang terjadi dalam durasi panjang.
"Masyarakat diimbau juga untuk terus memonitor informasi perkembangan cuaca dan peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG," katanya.
Ketua DPRD Kota Pontianak Satarudin mengatakan pasang air laut terjadi dalam beberapa hari ke depan. Dia minta masyarakat terutama yang tinggal di daerah pinggiran Sungai Kapuas untuk waspada dan memantau pergerakan anak-anaknya sebagai antisipasi terjadinya musibah tenggelam.
“Ini pasang air laut setiap pagi. Tinggi pula, bahkan beberapa titik jalan yang rendah sudah digenangi air. Saya minta masyarakat yang tinggal di daerah tepian sungai untuk waspada terhadap pasang air laut ini,” kata Satarudin, Selasa (19/11).
Perhatian orang tua ditekankan Satar, untuk anak-anaknya. Sebab ketika terjadi pasang air laut, kondisi Sungai Kapuas juga ikut meninggi. Alhasil arus sungai ketika pasang juga semakin kuat. Ketika kondisi ini terjadi, anak pandai berenang akan berbahaya berada di sungai, dikhawatirkan bisa terbawa arus. Apalagi jika tenaga sudah habis, ini yang menyebabkan tenggelam.
Pihak kelurahan yang lokasi kerjanya berkaitan dengan wilayah tepian Sungai Kapuas diminta Satar untuk memberikan imbauan terhadap antisipasi terjadinya pasang air laut ini.
Apalagi jika pasang air laut juga disertai hujan dengan intensitas tinggi. Wilayah permukiman di tepian Sungai Kapuas ini dipastikan juga akan terdampak dari fenomena tahunan ini.
Karena sudah pasang air laut sudah menjadi peristiwa tahunan, persiapan masyarakat dalam menghadapi situasi ini sudah seharusnya lebih kuat. Karena pengalaman dari tahun ke tahun, kejadiannya memang seperti ini dan sama persis. Pun ketika air pasang tinggi, masuknya air tidak sampai tinggi.
“Barang elektronik memang diamankan, takutnya sewaktu-waktu air pasang dan masuk ke rumah saat masyarakat tengah tidur,” ujarnya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pontianak Nasir menjelaskan kejadian pasang air laut sudah terjadi lama dan setiap tahun. “Masyarakat di sekitarnya sudah paham akan hal ini,” ungkapnya.
Berdasarkan hasil peta peringatan dini curah hujan tinggi BMKG, Kota Pontianak masih masuk di zona hijau. Artinya tidak ada peringatan. Meski begitu dia minta masyarakat waspada terutama pada 19 sampai 23 November mendatang. Sebab perkiraan pasang surut tertinggi bisa sampai 1,7 meter. Dimulai pada pukul sembilan pagi sampai satu siang.
Diakui dia dulu pernah kejadian warga tenggelam di sungai. Namun setelah dilakukan pengecekan itu bukan warga setempat. Kejadian tenggelam masyarakat itu setelah didalami terdapat dugaan ada sebab lain.
Sebagai antisipasi kejadian tidak diinginkan saat pasang air laut datang, diminta masyarakat sekitar tepian sungai lebih waspada terhadap kemungkinan terjadi air pasang dan derasnya air saat pasang kemudian sampai surut kembali.
Kesehatan masyarakat juga dimintanya diperhatikan. Sebab ketika kondisi cuaca tengah tak menentu, juga berpengaruh pada kondisi fisik masyarakat. Apabila dalam keadaan tidak fit, ini yang bisa menyebabkan sakit. Sama juga dengan penyakit kulit, ini juga mengintai ketika perubahan cuaca terjadi. Utamanya pasang air laut ini.(mrd/iza)
Editor : A'an