Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Cegah Hipertensi Dalam Kehamilan dengan Edukasi dan Terapi

A'an • Selasa, 3 Desember 2024 | 20:50 WIB
CEGAH: Penyuluhan deteksi dini triple eliminasi bertempat di Puskesmas Perum II Kecamatan Pontianak Barat.
CEGAH: Penyuluhan deteksi dini triple eliminasi bertempat di Puskesmas Perum II Kecamatan Pontianak Barat.

PONTIANAK - Dari data World Health Organization (WHO) terdapat sekitar 585 ribu ibu meninggal pertahun saat hamil atau bersalin. Dari angka itu, 58,1 persennya disebabkan oleh hipertensi dalam kehamilan. Kejadian itu dapat dicegah, salah satunya dengan pemahaman edukasi tentang informasi tersebut bagi ibu hamil.

“Data WHO, memang ada sekitar 585 ribu ibu meninggal baik saat hamil atau persalinan. Dari angka itu, setengahnya disebabkan karena hipertensi dalam kehamilan,” ujar Desy Rosita, usai melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Pontianak belum lama ini.

Dia menuturkan persoalan hipertensi memang kerap dihadapi oleh ibu hamil. Bahkan acap kali, ibu hamil tidak mengetahui mereka mengalami persoalan hipertensi. Ketika tak memiliki edukasi yang baik terhadap hal ini, maka kejadian yang tidak diinginkan mungkin saja bisa terjadi. Oleh sebab itu, dia bersama dua dosen rekannya, Desy Rosita dan Dewi Hindrayati memberikan penyuluhan bertajuk deteksi dini triple eliminasi bertempat di Puskesmas Perum II Kecamatan Pontianak Barat.

Selain memberikan penyuluhan kepada ibu hamil, pihaknya juga memberikan terapi pijat refleksi pada ibu hamil trimester II dan trimester III dengan hipertensi. Dijelaskan dia, hipertensi dalam kehamilan dikenal dengan preeklasi (PE) dan eklamsia (E). Ini harus diketahui para ibu hamil. “Apalagi bentuk hipertensi kehamilan PE dan E keduanya penyebab morbiditas dan mortalitas yang tinggi bagi ibu dan bayi. Kalau kematian ibu dan bayi karena infeksi dan pendarahan malah justru bisa ditekan,” katanya.

Bahkan dari laporan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia telah terjadi pergeseran penyebab kematian dari pendarahan dan infeksi ke PF dan E dan sebab non obsteri lainnya. PE dan E ini kata dia juga terjadi pada 14 sampai 20 persen kehamilan ganda dan 30 persen mengalami anomaly berat. Ini juga terjadi pada ibu mengalami hipertensi kronis, penyakit ginjal dan insiden dengan angka mencapai 25 persen.

Pengaruhnya pada ibu bervaiasi mulai dari hipertensi ringan, berat sampai kritis, serta terjadi kejang sampai hemolysisi elevated liver enzym and low platelet (sindrom HELLP). Hal ini dapat menyebabkan kematian ibu dan bagi bayi yang akan dilahirkan, karena tidak ada gejala atau tanda khas sebagai peringatan dini dari hipertensi.

Pencegahan primer terhadap Pre Eklamsi dan Eklamsi tidak bisa karena penyebabnya belum jelas dikatahui (disese of theories) dan hanya dapat dengan melakukan pencegahan sekunder yaitu segera monitoring dan terapi saat mengetahui ibu hamil dengan hipertensi. Oleh sebab itu, hipertensi tak ubahnya bom waktu ia tak mengirimkan sinyal-sinyal bahaya terlebih dahulu. Vonis sebagai pengidap datang begitu saja. Sehingga pada ibu hamil perlu upaya pengobatan/terapi.

Terapi dengan alternatif komplementer merupakan bagian dari bermacam-macam pengobatan dan perawatan kesehatan atau praktek dan atau produk yang secara umum tidak menjadi bagian dari pengobatan konvensional. Salah satu terapi alternatif komplementer adalah massase refleksi, yaitu pengobatan dengan merangsang berbagai daerah refleksi (zona/mikrosistem) seperti dibagian kaki, tangan, telinga yang ada hubungannya dengan berbagai kelenjar juga organ dan bagian tubuh lainnya seperti daerah lengan dan punggung yang sering mengalami kekakuaan/tegang otot yang dapat memperngaruhi kesehatan.

Menurut hasil penelitian cara terbaik untuk menurunkan tekanan darah adalah dengan terapi pijat refleksi. Terapi pijat refleksi yang dilakukan secara teratur bisa menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik, menurunkan kadar hormon stres cortisol, menurunkan sumber depresi dan kecemasan, sehingga tekanan darah akan terus turun dan fungsi tubuh semakin membaik. Dengan pijat mempengaruhi kontraksi dinding kapiler sehingga terjadi keadaan vasodilatasi atau melebarnya pembuluh darah kapiler dan pembuluh getah bening. Aliran oksigen dalam darah meningkat, pembuangan sisa-sisa metabolik semakin lancar sehingga memacu hormon endorphin berfungsi memberikan rasa nyaman.

Pada kegiatan ini, tambahnya juga meibatkan mahasiswa jurusan Kebidanan Poltekkes Pontianak sebanyak tiga orang.

Mudah-mudahan edukasi sekaligus memberikan pjat terapi pada ibu hamil menjadi tambahan informasi kepada mereka. Harapannya lagi, ilmu yang mereka terima dapat disebarluaskan kepada orang terdekatnya.(iza)

Editor : A'an
#hipertensi #Poltekes