PONTIANAK POST - Liquefied Petroleum Gas (LPG) atau Elpiji subsidi 3 kilogram tidak lagi dijual di pengecer mulai Sabtu (1/2) kemarin. Masyarakat hanya bisa membelinya di pangkalan resmi Pertamina dengan harga eceran tertinggi (HET) yang sudah ditetapkan.
Kementriaan Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan bahwa larangan bagi pengecer bertujuan memastikan pasokan gas melon tetap tersedia untuk masyarakat termasuk harga jualnya sesuai aturan.
Pontianak Post mendatangi konsumen elpiji subsidi 3 kilogram, yakni Hamidah penjual gorengan di wilayah Parit Bugis, Sungai Raya, Kubu Raya. Dia mengakui sejak diumumkan pemerintah, dirinya dan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) lainnya merasa kesulitan memperoleh tabung elpiji di tingkat pengecer.
"Jujur, saya kelabakan sebagai tukang gorengan harus membeli ke pangkalan atau antri disana. Bagi saya, gas melon 3 kilogram sudah jadi bagian penting usaha saya dan kawan-kawan pelaku UMKM lainnya. Dalam sehari, saya bisa menghabiskan satu hingga dua tabung," ucapnya.
Dia menyebutkan sebelum pengumuman dari pemerintah saja, dirinya merasa kesulitan memperoleh tabung gas elpiji isi 3 kilogram.
"Sudah seminggu ini, sudah dapatkannya. Biasanya saya beli ke tingkat pengecer selalu tersedia. Atau pengecer biasa antarkan tabung ke kami. Sekarang harus ke pangkalan di dekat sini, bersaing dengan masyarakat lainnya," kata dia.
Tak hanya, Hamidah selaku konsumen yang kesulitan memperoleh tabung gas elpiji isi 3 kilogram ini. Sejumlah pedagang pengecer di dekatnya juga sudah 2 minggu lebih tidak lagi menjual tabung gas ke masyarakat. Sebab, jatahnya sendiri sudah tak datang. "Pangkalan resmi tak berani memberikan jatah kepada kami untuk dijual kembali ke masyarakat," ucap Abu, pemilik lapak dagangan barang-barang kebutuhan masyarakat ini.
Abu sendiri biasa dari tiap pangkalan langganannya memperoleh jatah 10 sampai 15 tabung yang akan dijual ke masyarakat secara eceran kembali. Namun sekarang, semuanya sudah tidak terjadi lagi, lantaran pangkalan takut dibekukan izin usahanya, apabila berani memberikan kepada para pengecer. Padahal, dirinya mengakui 1 tabung hanya menaikan 2000-3000 rupiah saja untuk dijual lagi ke masyarakat.
"Tapi apa mau dikata ? Saya sekarang juga ikut antri membeli ke pangkalan untuk 1-2 tabung, bagi kebutuhan kami masak sendiri. Saya sudah jadi konsumen, bukan lagi pengecer," kata dia.
Pontianak Post mendatangi Pangkalan LPG 3 kilogram milik Kasno. Dia mengaku mendapat stok sekitar 100-150 tabung per dua hari. Dalam seminggu bisa 3 kali angkutan. Hanya memang sekarang munculnya kebijakan pengecer tak diizinkan menjual, jumlah pelanggan miliknya tetap sama seperti hari normal.
"Tetap jadi buruan dan habis pada hari normalnya. Sebelumnya, nggak ada antrian. Sebab, tempatnya agak ke dalam masuk gang. Sehingga rata-rata konsumennya orang yang sama," ucapnya ditemui kemarin.(den)
Editor : A'an