PONTIANAK POST - Wakil Ketua DPRD Kota Pontianak, Bebby Nailufa, menegaskan pentingnya memperkuat peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) dalam mencegah penyebaran paham lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di kalangan siswa. Menurutnya, guru BK memiliki peran strategis sebagai pintu masuk dalam mengidentifikasi apakah seorang siswa terlibat dalam paham LGBT atau tidak.
"Guru BK memang pintu masuknya permasalahan-permasalahan pada anak," ujar Bebby belum lama ini. Lebih lanjut, Bebby menyatakan bahwa meskipun paham LGBT mungkin tidak dapat sepenuhnya dihapus, namun anak-anak membutuhkan bimbingan dan arahan yang tepat agar kecenderungan mereka menuju perilaku negatif, seperti LGBT, dapat diarahkan ke hal-hal yang lebih positif.
Bebby juga menyoroti pengaruh selebriti media sosial yang diikuti oleh anak-anak, yang sering kali menunjukkan perilaku yang mengarah pada kebingungan gender. Hal ini, menurutnya, terjadi karena kurangnya pengawasan sosial yang baik di masyarakat dan kurangnya pembicaraan antara orang tua dengan anak mengenai isu-isu tersebut. "Hal-hal seperti ini adalah hasil dari pembiaran, kebiasaan, dan tidak adanya pengawasan sosial yang baik di masyarakat," tambah Bebby.
Ia juga mengingatkan bahwa deteksi dini sangat penting untuk mencegah masalah ini berkembang lebih jauh. Karena itulah peran orang tua, keluarga, dan masyarakat sangatlah penting dalam memberikan pengawasan dan arahan kepada anak-anak.
Sementara itu, Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kalbar, Eka Nurhayati, turut menekankan pentingnya peran guru BK dalam mendeteksi masalah yang mungkin dihadapi siswa, termasuk paham LGBT.
Eka menyebutkan bahwa lingkungan sekolah memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk perilaku siswa. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk bersama-sama mengawasi dan mencegah penyebaran paham LGBT di kalangan pelajar.
"Kita merangkul seluruh elemen masyarakat untuk terlibat dalam pencegahan LGBT," ujar Eka. KPPAD Kalbar baru-baru ini juga mengungkapkan temuan adanya grup WhatsApp yang berisi siswa-siswa dari beberapa SMP negeri di Kota Pontianak yang terlibat dalam paham LGBT. Sebanyak sepuluh siswa diketahui tergabung dalam grup tersebut.
Eka menjelaskan bahwa temuan kasus LGBT yang melibatkan pelajar dari beberapa sekolah ini merupakan hal yang baru. "Selain kasus 10 anak ini, memang sudah ada kasus sebelumnya, namun yang melibatkan lingkungan sekolah dan terhubung dengan beberapa sekolah, baru kali ini terjadi," tuturnya. (sti)
Editor : A'an