PONTIANAK POST – Pesantren Ramadhan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 2A Pontianak kembali digelar tahun ini dengan pendekatan yang lebih mendalam terhadap rehabilitasi spiritual.
Acara yang diadakan bekerja sama dengan Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Barat ini tidak sekadar menjadi ajang ibadah rutin, tetapi juga sebagai sarana bagi warga binaan untuk menemukan ketenangan batin dan membangun kesadaran diri.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh perwakilan Kalapas 2A, Untung, yang menyampaikan harapannya agar pesantren ini dapat menjadi jalan bagi warga binaan dalam merefleksikan diri dan menata ulang kehidupannya.
“Pesantren Ramadhan bukan hanya tentang menjalankan ibadah di bulan suci, tetapi juga sebagai ruang kontemplasi dan perbaikan diri. Kami berharap program ini dapat menjadi titik balik bagi para peserta untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti,” ujarnya.
Salah satu poin utama dalam pesantren kali ini adalah pengenalan konsep Releasing, yang disampaikan oleh Dr. Samsul Hidayat, MA, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Barat. Konsep ini mengajarkan warga binaan untuk melepaskan beban emosional yang selama ini menghambat perjalanan hidup mereka, seperti rasa bersalah, dendam, dan ketakutan.
Menurut Dr. Samsul, banyak narapidana yang terperangkap dalam rasa bersalah akibat kesalahan masa lalu. “Rasa bersalah itu wajar, tetapi jika tidak dikelola dengan baik, bisa berubah menjadi beban mental yang menghambat pertumbuhan spiritual dan emosional,” jelasnya. Ia mengajarkan metode dzikir At-Tawwab untuk membantu peserta melepaskan beban tersebut dan menemukan ketenangan melalui taubat.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya memaafkan, terutama dalam konteks melepaskan dendam. “Dendam hanya akan menambah penderitaan. Dengan memahami sifat Allah sebagai Al-‘Afuww (Maha Pemaaf), kita belajar untuk membebaskan hati dari luka lama dan melangkah menuju masa depan yang lebih baik,” tambahnya.
Bagi banyak warga binaan, bulan Ramadhan menjadi kesempatan untuk merenung dan mendekatkan diri kepada Allah. Namun, lebih dari itu, program pesantren ini juga menjadi bagian dari rehabilitasi mental yang dirancang untuk membangun kembali kepercayaan diri dan optimisme mereka.
Aswan, Ketua LDK Muhammadiyah Kalbar, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pendekatan dakwah yang lebih humanis. “Kami ingin memastikan bahwa para warga binaan tidak hanya mendapatkan ilmu agama, tetapi juga memahami bahwa mereka masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan berkontribusi positif dalam masyarakat setelah bebas nanti,” ujarnya.
Dengan pendekatan yang lebih mendalam terhadap rehabilitasi spiritual, Pesantren Ramadhan di Lapas 2A Pontianak tahun ini menjadi bukti bahwa pembinaan warga binaan bukan hanya tentang aturan dan kedisiplinan, tetapi juga tentang membantu mereka menemukan ketenangan batin dan harapan baru untuk masa depan. (mse)
Editor : A'an