PONTIANAK POST - Hujan deras yang mengguyur Desa Pancaroba dan Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya sejak siang hingga sore, Minggu (9/3) menyebabkan banjir di sejumlah titik.
Ketua Satgas Informasi Bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat (Kalbar) Daniel mengungkapkan, kondisi jalan masih tergenang, bahkan permukaan air masih berpotensi naik. “Ketinggian air di beberapa titik jalan sudah mencapai 100 sentimeter,” ungkapnya, Senin (10/3).
Namun demikian, menurutnya kemacetan di jalur Trans Kalimantan mulai berkurang. Itu karena kendaraan yang hendak menuju Pontianak atau sebaliknya lebih memilih jalur alternatif melalui Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah.
Selain itu, tambah Daniel, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar juga telah membahas penanganan banjir di daerah tersebut, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. “Pengguna jalan disarankan untuk tidak melewati jalan yang banjir ini dan sebaiknya lewat jalan alternatif. Untuk warga yang terdampak di sekitar jalan yang banjir agar tetap waspada dan kepada kepala desa untuk segera menyampaikan data-data warga yang terdampak kepada camat, dan selanjutnya camat kepada BPBD Kubu Raya,” paparnya.
Baca Juga: Ratusan Warga Pontianak Antusias Sambut Sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis
PUPR dan BPJN Kalbar Koordinasi Penanganan
Terkait jalan nasional yang kerap dilanda banjir tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalbar, Iskandar Zulkarnaen menyebutkan bahwa pihaknya masih mengoordinasikan langkah-langkah penanganan, baik jangka pendek maupun panjang. “Sementara kami masih koordinasikan,” katanya singkat.
Senada, Kepala Seksi Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur Jalan BPJN Kalbar Koswari Abizar mengatakan bahwa kondisi banjir saat ini masih ditangani sebagai tanggap darurat. Namun, pihaknya juga sudah mengusulkan peninggian badan jalan ke pemerintah pusat.
“Ruas jalan nasional batas Kota Pontianak-Simpang Ampar/ Tayan menjadi fokus, terutama di Desa Pancaroba, Desa Lingga, dan Desa Korek yang kerap dilanda banjir,” jelasnya.
Dalam hal ini, BPJN Kalbar berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Kalimantan I (BWSK) untuk kajian normalisasi sungai atau pengerukan sedimentasi. Sementara itu, rekonstruksi peninggian badan jalan sepanjang 1,5 kilometer telah diusulkan untuk tahun 2025.
Kondisi serupa juga terjadi di ruas jalan nasional Sei Pinyuh-Sebadu, Desa Galang, Kecamatan Anjungan, Kabupaten Mempawah. BPJN Kalbar telah mengusulkan peninggian jalan sepanjang 250 meter, namun masih menunggu hasil survei penyelidikan tanah.
“Dari hasil kajian, bila diperlukan peninggian badan jalan maka akan diusulkan untuk dapat ditangani peninggian badan jalan,” ungkapnya.
Sebelumnya, Dekan Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura (Untan), Slamet Widodo, menilai bahwa banjir di ruas jalan nasional ini terjadi karena faktor alam. Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah peninggian badan jalan. “Pilihan bisa elevated atau dinaikkan untuk ruas jalan yang sering banjir, seperti yang dilakukan di Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) agar banjir dapat diminimalisir. “Bukan hanya peninggian jalan, tapi DAS juga perlu perhatian khusus,” imbuhnya.
Secara umum, Slamet menilai bahwa penanganan jalan nasional oleh BPJN Kalbar sudah cukup baik. Namun, ia menyarankan agar pelebaran jalan nasional terus dilakukan, mengingat masih banyak ruas yang lebarnya kurang dari standar.
“Lebar jalan nasional di luar kota yang hanya tujuh meter masih kurang. Apalagi, trase jalan di Kalbar ini mengikuti jalur yang sudah ada, bukan jalan baru,” pungkasnya. (bar)
Editor : A'an