PONTIANAK POST - Wakil Ketua DPRD Kota Pontianak Bebby Nailufa minta wali kota mampu menyajikan data terkait dengan tumbuhnya usaha coffee shop dan resto modern di Pontianak yang informasinya mampu menyerap tenaga kerja.
Sebab dengan kondisi perekonomian limbung secara global, dia malah banyak mendapat keluhan dari para pelaku usaha terkait dengan pertumbuhan ekonomi yang cenderung stagnan dan menurun.
“Saya berharap pernyataan Pak Wali terkait dengan bertumbuhnya usaha coffee shop dan resto modern di Pontianak ini disertai dengan data. Terlebih dari jenis usaha ini katanya mampu membuka peluang kerja. Kaitan peluang kerja ini, apakah tenaganya dari Pontianak atau justru dari daerah lain. Agar statmennya valid, perlu data,” tegas politisi Golkar itu kepada Pontianak Post, Rabu (16/4).
Kata Bebby, Pemkot Pontianak menyematkan Kota Seribu Warung Kopi, karena memang usaha ini terus menjamur. Namun pandangan dia, menjamurnya usaha ini tidak lantas mampu bertahan. Persaingannya juga ketat. Beberapa diantaranya bahkan banyak tutup. Penyebabnya bermacam. Mulai dari minimnya konsumen, hingga beban operasional yang tak nutup.
“Ini cukup banyak juga yang tutup. Kadang tiga bulan usaha sepi, tutup. Ada juga yang satu atau dua tahun, lalu usahanya tutup,” katanya.
Lebih dalam kata dia, untuk pekerjanya juga kebanyakan bukan dari daerah Kota Pontianak. Apalagi di warung kopi, biasa pekerjanya banyak dari daerah. Jika demikian, tenaga kerja Kota Pontianak serapannya juga masih dipertanyakan. Kemana para lulusan Sarjana dan SMA sederajat pasca menyelesaikan pendidikannya.
Dia juga melihat hasil data dari tren indeks keyakinan konsumen (IKK) sejak Januari lalu hingga Maret ini menunjukkan melemah dari 126,4 di bulan sebelumnya menjadi 121,1. Penurunan terbesar terjadi pada konsumen kelompok masyarakat dengan pengeluaran Rp 2,1 juta sampai Rp 3 juta per bulan dari 123,4 menjadi 112,4.
Kemudian kelompok dengan pengeluaran Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta perbulan merosot 5,8 poin menjadi 123. Begitu pula dengan konsumen pengeluaran Rp 3,1 juta sampai Rp 4 juta juga turun dari 126 menjadi 120,6.
Kemudian perkiraan konsumen terhadap ketersediaan lapangan kerja dalam enam bulan ke depan juga lebih rendah dibanding periode sebelumnya. Artinya terdapat penurunan peluang lapangan kerja secara nasional. Oleh sebab itu, dia pun minta penyajian pertumbuhan ekonomi di Pontianak dengan peluang lowongan kerja ini bisa disajikan berdasarkan data yang valid.
Sebelumnya para pelaku usaha UMKM di Kota Pontianak mulai mengeluhkan penurunan pendapatan yang sudah terjadi sejak Oktober lalu. Dia berharap, berbagai kebijakan pemerintah saat ini tidak membuat usaha-usaha UMKM justru bertumbangan.
Yance, penjual air tebu segar menuturkan, jika penjualan air tebu segarnya kini mengalami penurunan. Penurunan ini sudah terjadi sejak Oktober lalu. Ditambah saat ini, untuk mendapatkan Rp 100 ribu sehari sudah susah. Padahal, jika dilihat usahanya di tempatkan di tepi jalan. Dimana jalan tersebut ramai dilalui pengendara.
Tetapi kenyataan, penjual es tebu segarnya semakin sepi pembeli. Menurutnya, semakin ke sini, untuk mendapatkan uang semakin sulit. Mungkin kata dia, ini pengaruh dari berbagai kebijakan pemerintah. Belum lagi pemutusan kerja para karyawan yang semakin banyak. Sehingga membuat masyarakat berpikir berkali-kali untuk mengeluarkan uangnya. Walau es tebu yang dijualnya hanya Rp 4 ribu per kantongnya.
Hal senada dikatakan Dedi, pemilik usaha warung kopi di tepi jalan Sultan Syahrir Abdurahman.
“Kalau malam hari biasanya di sini ramai. Rerata meja kursi yang kami sediakan terisi semua. Kalau sekarang kurang. Pengaruhnya juga ke pendapatan saya,” ungkapnya kepada Pontianak Post.
Sebagai pedagang dia tidak tahu penyebab penurunan pendapatan ini. Tetapi jika melihat secara keseluruhan, mungkin saja akibat beberapa kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Salah satunya PHK yang terjadi. Apalagi sekarang mencari kerja semakin sulit. Sehingga pedagang sepertinya mesti pandai-pandai untuk bertahan.
“Paling tidak jualan saya tidak merugi. Asal bisa makan dan bisa bayar dua orang pekerja sudah bersyukur,” ungkapnya.
Ia berharap, kondisi penurunan konsumen ke warung kopinya tidak terjadi berlangsung lama. Sebab jika semakin hari semakin sepi, dia juga akan berpikir untuk melanjutkan usaha ini.
“Masyarakat sekarang asal bisa makan saja sudah cukup. Tidak untuk yang macam-macam. Keuntungan yang saya dapatkan juga palingan untuk mencukupi kebutuhan primer. Makan minum, listrik air bersih dan bayar anak sekolah. Kalau untuk yang lain-lain, sudah tidak mampu,” tutupnya.(iza)
Editor : Hanif