PONTIANAK POST - Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono berharap pengisi jabatan direktur di PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak betul-betul mumpuni. Dengan demikian, perusahaan air bersih milik pemerintah ini bisa semakin maju.
“Saat ini memang dilakukan seleksi untuk mencari posisi direktur yang memang telah lama kosong sepeninggal dirut sebelumnya. Posisi tersebut dirut umum, pelayanan, dan dirut teknik,” ungkapnya.
Sejauh ini para pelamar sudah memenuhi syarat. Maksud Edi lebih dalam, syarat dari para pelamar ini betul-betul sesuai bidang pengalaman dan spesifikasinya. Menurutnya, ini penting. Sebab ketika lulus sebagai dirut, ketika bertugas mereka bisa melakukan berbagai inovasi sesuai bidangnya. Muaranya, PDAM Pontianak dapat semakin maju.
PDAM Pontianak bukan tak memiliki persoalan. Mulai dari kebocoran air, pipa yang sudah menua dan perlu pergantian sampai ke persoalan tekanan air dan produksi kualitas air yang kadang dikeluhkan oleh konsumen.
Berbagai persoalan ini harus menjadi perhatian para dirut yang bakal mengisi jabatan ini ke depan. Bagaimana mereka bisa menekan terjadinya kebocoran air. Belum lagi pencurian air oleh oknum, jangkauan luas ketersediaan air bersih bagi masyarakat yang belum merasakan. “Ini sudah harus menjadi perhatian,” ujarnya.
Terpisah Ketua DPRD Kota Pontianak Satarudin mengatakan pelayanan air bersih kepada masyarakat Pontianak bukan hanya soal capaian cakupan air bersih pada masyarakat saja. Tetapi bagaimana mereka bisa meningkatkan kualitas dari produksi air bersih ini.
Seperti di musim kemarau, dia banyak mendapat keluhan dari konsumen. Terutama soal warna air bersih yang menguning. Bahkan tak jarang, kualitas air justru berwarna coklat susu. Keluhan ini mesti ditanggapi.
Belum lagi soal tekanan volume air yang semakin kecil. Alhasil, untuk mendapatkan pasokan air bersih, konsumen mesti menambah kekuatan dengan menggunakan pompa air. Itupun dilakukan pada jam-jam tertentu. Seperti tengah malam atau subuh. Jika waktu pagi, siang dan sore tak kebagian, karena banyak konsumen saat ini menyedot air.
“Ini persoalan di konsumen, para dirut baru nanti harus bisa mencarikan solusinya. Karena jika yang terpilih tidak melakukan inovasi, maka ke depan pelayanan air bersih di Kota Pontianak akan begitu saja. Saya berharap dirut baru mampu melakukan banyak terobosan demi peningkatan pelayanan air bersih di Pontianak yang semakin baik,” ujarnya.
Data menunjukkan bahwa tingkat kehilangan air (Non-Revenue Water/NRW) di PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak masih menjadi pekerjaan rumah besar. Pada tahun 2023, angka kebocoran air dilaporkan masih berada di kisaran 30-35%.
Angka ini terbilang tinggi, jauh di atas standar toleransi nasional yang idealnya di bawah 20 persen. Kebocoran ini tidak hanya berarti kerugian finansial bagi perusahaan, tetapi juga pemborosan sumber daya air yang berharga.
Satarudin, mengungkapkan banyaknya aduan dari masyarakat mengenai air yang menguning, bahkan terkadang berwarna cokelat susu.
"Seperti di musim kemarau, saya banyak mendapat keluhan dari konsumen. Terutama soal warna air bersih yang menguning. Bahkan tak jarang, kualitas air justru berwarna coklat susu," ujarnya.
Situasi ini memaksa konsumen untuk melakukan penyaringan mandiri atau bahkan membeli air kemasan, menambah beban ekonomi rumah tangga.
Selain itu, masalah tekanan volume air yang kecil juga menjadi momok. Banyak pelanggan terpaksa menggunakan pompa air tambahan, seringkali pada jam-jam tertentu seperti tengah malam atau subuh, untuk mendapatkan pasokan yang memadai. Pada siang hari, pasokan cenderung minim karena banyak konsumen lain juga menyedot air.
Hingga tahun 2021, PDAM Tirta Khatulistiwa melayani 135.131 sambungan rumah (SR). Dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, kapasitas produksi air bersih PDAM saat ini mencapai 2.050 liter per detik.
Meski begitu, cakupan layanan air bersih baru mencapai 89% dari total penduduk Kota Pontianak, belum mencapai target 100% yang dicanangkan pemerintah pusat. Untuk mengejar target ini, PDAM berencana menambah 17.000 sambungan rumah baru hingga 2024.
Dengan jumlah pelanggan yang terus bertumbuh, tuntutan akan pelayanan prima semakin tinggi. Direksi baru diharapkan mampu melakukan banyak terobosan demi peningkatan pelayanan air bersih di Pontianak yang semakin baik.
Ini termasuk investasi pada perbaikan infrastruktur pipa, teknologi deteksi kebocoran yang lebih canggih, peningkatan kapasitas produksi dan kualitas filtrasi, serta optimalisasi distribusi air agar tekanan merata.
Masyarakat Pontianak menanti dengan harap-harap cemas, apakah direksi baru mampu menjawab tantangan dan membawa PDAM Tirta Khatulistiwa menuju era pelayanan yang lebih optimal dan berkelanjutan.(iza)
Editor : Hanif